Hari keenam setelah pasukan Sundara memasuki Ordelia, Varentis sudah bukan lagi ibu kota sebuah negara. Dia telah menjadi medan pertempuran yang kacau. Asap hitam mengepul di langit siang, bercampur dengan bau mesiu dan karet terbakar. Jalan-jalan utama yang dulu rapi kini penuh puing, mobil terbalik dan genangan darah yang mengering.
Demonstrasi yang awalnya menuntut pengunduran diri Viktor Ravendra telah berubah menjadi pemberontakan bersenjata. Ribuan warga sipil, aktivis dan kelompok radikal yang diprovokasi narasi framing bersatu.
Mereka membawa senjata api yang didapat dari gudang-gudang militer yang dibobol, parang dan bom molotov. Bendera Varendra yang terkoyak dikibarkan sebagai simbol kemarahan, bukan kebanggaan.
Di depan gerbang Istana Kepresidenan, ribuan orang mengepung. Tembakan sporadis terdengar di mana-mana. Polisi dan pasukan pengawal presiden berusaha bertahan, tapi barikade mereka mulai runtuh. Suara granat meledak di kejauhan, disusul teriakan kesakitan dan raungan mesin kendaraan yang rusak.
Di dalam Istana. Ruang rapat darurat sudah hampir kosong. Para menteri dan pejabat tinggi satu per satu melarikan diri melalui terowongan rahasia di bawah istana. Hanya beberapa staf setia dan pengawal yang tersisa. Suara tembakan dan teriakan massa semakin dekat, bergema melalui koridor marmer.
Viktor Ravendra duduk di kursi presidennya, jasnya kusut, dasi longgar. Matanya kosong menatap peta yang sudah tak relevan lagi di meja. Karvadan berdiri di sampingnya, tangannya gemetar meski berusaha disembunyikan.
“Tuan...” kata Karvadan dengan suara mendesak, “kita harus pergi sekarang. Terowongan timur masih aman. Jika kita bertahan lebih lama, mereka akan membunuh Anda.”
Viktor tidak bergerak. Dia hanya tersenyum tipis, penuh kepahitan.
“Pergi ke mana, Karvadan? Negaraku sudah hancur. Rakyat yang dulu mendukungku kini ingin kepalaku. Aku yang memerintahkan serangan ke Fort Suryaksa. Aku yang gagal melindungi Bastiron. Aku yang membiarkan negara ini terpecah. Jika ini akhirnya, biarlah aku menghadapinya sebagai seorang presiden.”
Karvadan mendekat, suaranya hampir memohon. “Ini bukan saatnya menjadi kesatria, Tuan. Ini saatnya bertahan hidup. Anda masih bisa memimpin dari tempat lain. Bangun kekuatan baru...”
Viktor menggeleng pelan. Tatapannya tenang, tapi ada kedalaman kesedihan yang tak terucapkan.
“Aku pernah bersumpah melindungi Varendra. Hari ini, Varendra menolakku. Tapi aku tidak akan lari seperti pengecut. Aku akan duduk di kursi ini sampai akhir. Biarkan sejarah mencatat bahwa Viktor Ravendra mati di istananya, bukan melarikan diri di terowongan para tikus.”
Karvadan diam. Dia menunduk, rahangnya mengeras. Tak ada yang bisa dia katakan lagi.
Di luar istana, kekacauan mencapai puncak. Gerbang utama akhirnya jebol. Massa menerobos masuk dengan sorak kemenangan yang liar.
Tembakan balasan dari pengawal istana terdengar, tapi terlalu sedikit. Beberapa polisi dan tentara melempar senjata mereka, bergabung dengan massa. Yang lain ditembak di tempat.