Di ujung timur, sinar matahari menyemburat dari balik bayangan pegunungan. Puncak-puncak pepohonan mulai tersapu sinar merah kekuningan. Dari sebuah sudut di kaki langit, pemandangan jauh ke selatan mencapai dataran rendah yang sangat luas, sebuah lembah yang memukau, lembah Baliem.
Lembah Baliem masih diam meskipun beberapa jenis satwanya sudah terjaga oleh pertanda datangnya pagi. Babi-babi mulai gelisah dalam kandangnya. Suara kokok ayam jago terdengar bersahutan, makin lama makin sering. Terdengar cecet burung cendrawasih dari tempat persembunyiannya. Dari sarangnya di pohon sagu keluar seekor bajing. Mereka berkejaran. Dahan-dahan bergoyangan.
Tetes-tetes embun jatuh menimbulkan suara serempak. Jangkrik, katak, dan walang kerik sudah lama diam, dibungkam oleh cahaya pagi yang kemilau. Gangsir menyembunyikan diri dalam liang di tanah yang disumbat dari dalam. Walang kerik membaurkan diri dengan warna hijau dedaunan. Dia hanya bisa diketahui bila ada hembusan angin. Pada saat itulah naluri memerintahkannya menggesekkan sayap sehingga terjadi suara yang khas.
Pucuk-pucuk nyiur dan rumpun perdu menerima kehangatan pertama pagi hari. Pancaran cahaya matahari adalah tenaga yang setiap kali membangunkan penduduk lembah Baliem dengan menyingkap kabut yang menyelimutinya. Terdengar rengek anak-anak yang terjaga dan langsung merasa lapar. Seorang perempuan keluar menjemur kain yang basah kena ompol bayinya.
Suaminya juga keluar halaman dengan tujuan berbeda. Ada orang jongkok di balik semak. Tangannya mengibas mengusir agas yang merubung kepalanya. Geliat kehidupan pun kembali terjaga untuk menyongsong pagi yang cerah, secerah hati penduduknya yang hendak bercengkrama dengan alam.
Dengan diiringi kicau burung cendrawasih di ranting dedaunan, bocah-bocah sarapan pagi dengan secuil sagu, sekedar untuk mengganjal perut, melakukan aktivitas seperti biasa. Ada yang pergi ke ladang, ada yang ke sungai, ada yang memancing ikan ke sungai, ada yang mengikuti orang tuanya pergi ke hutan dan ada yang hanya sekedar bercanda serta ada yang bermain kejar-kejaran. Tapi ada secercah harapan bagi mereka yang hendak pergi ke sekolah.
Saat ini sudah memasuki bulan Agustus, seminggu lagi semua warga Papua dengan beberapa suku pedalaman di lembah Baliem merencanakan peringatan HUT Kemerdekaan RI dengan mengadakan sebuah festival. Festival ini diadakan hampir tiap tahun pada bulan Agustus yang melibatkan suku-suku yang ada di Kabupaten Jayawijaya, Papua, seperti suku Dani, suku Lani dan suku Yali. Festival tahunan yang sangat ditunggu-tunggu.
Begitu pun bagi Pratiwi yang memang hobi fotografi, momen seperti ini sangat sayang untuk dilewatkan. Sementara waktu dia ingin meluangkan waktu sejenak, meninggalkan rutinitasnya sebagai tenaga paramedis di Oksibil untuk menyaksikan acara tersebut. Dahulu lembah Baliem merupakan arena perang oleh suku-suku yang bertikai. Masyarakat yang mendiami lembah Baliem mempunyai budaya perang yang telah berlangsung lama. Pada saat itu lembah Baliem dianggap menjadi pembelaan demi harkat martabat suku, keturunan dan harga diri.
*****
Tiba-tiba saja Pratiwi melihat kilatan lampu flash dari sebuah kamera.
“Hmm, tampaknya seseorang telah mengambil fotoku dari belakang tanpa sepengetahuanku!” gerutunya dalam hati.
Pratiwi membelokkan badannya ke belakang dan ternyata dugaannya benar. Seseorang telah sengaja memotretnya.
“Hei, apa yang kamu lakukan?!” celetuk Pratiwi.
Namun pemuda itu tidak memedulikan ucapan Pratiwi yang masih asyik disibukkan dengan kamera DSLR-nya.
“Oh… maaf, maaf, aku tidak sengaja memotretmu. Hanya saja kamu terlihat begitu menyatu dengan objek sekitar. Kalau kamu keberatan, kamu boleh menghapusnya!” balas pemuda itu.
Perlahan pemuda itu menghampiri Pratiwi. Dia menyodorkan kameranya kepada Pratiwi.
“Ini kameraku, hapuslah sendiri fotomu. That’s OK!” ujarnya lagi.
Entah perasaan apa yang menghinggapi Pratiwi saat itu. Sebenarnya Pratiwi tidak suka seseorang mengambil fotonya tanpa izin terlebih dengan orang yang tidak dia kenal. Tetapi kali ini sungguh berbeda. Pratiwi ingin sekali mengambil kamera itu dan menghapusnya tapi dia tidak bisa melakukannya. Hatinya seolah berkata untuk tidak menghapusnya.
“Tidak perlu. Kamu bisa menyimpannya,” kata Pratiwi berusaha bersikap acuh.
“Really?! Thanks very much! O iya, perkenalkan namaku Bramasta! Panggil saja Bram!” ucap pemuda itu dengan tersenyum.
“Pratiwi,” balas Pratiwi singkat.