PERANG SUDAH BERAKHIR

DENI WIJAYA
Chapter #5

CINTA YANG MENDERA #5

Regret nothings, fear less, then just do it! Dia gumamkan kata itu berulang kali, tertanam jauh di lubuk hati. Harus dia pastikan bahwa kata itu benar-benar tertancap, sebelum semua tentangnya terlalu jauh. Rupanya sisi lain dirinya menolak pendapat sebelumnya.

Detik ini kegelisahan berdesir dalam rongga dadanya. Entah apa alasannya kenapa dia menempati tempat spesial di hatinya. Senyumnya terlalu rumit untuk dimengerti. Begitu tulus, namun maknanya belum tertangkap olehnya. Pertemuan yang singkat namun begitu membekas dalam pikirannya.

Dengan secangkir espresso, Bramasta ingin menghabiskan malam. Tak dihiraukannya lagi jam yang terus berputar, waktu yang terus berlalu, malam yang semakin larut. Ya, secangkir kopi kadangkala bisa menjadi teman dalam berbagai suasana.

Meski dia merasakan mulutnya masam dan lambungnya agak perih tapi tetap saja kopi menjadi pilihannya. Padahal dokter pernah mengingatkan agar ia mengurangi konsumsi kopi jika tak ingin maagnya semakin sering kambuh. Ya lagi-lagi masalah klasik, kelebihan asam lambung.

Seperti biasa dia hanya meminumnya seteguk dua teguk saja, kemudian menatap cairan pekat itu lekat-lekat seolah ada rahasia mendalam yang larut di sana. Hitam. Hitam adalah salah satu warna yang memiliki filosofi tersendiri yang sangat unik, sangat berkesan. Elegan dan tak berlebihan. Seperti sebuah tempat kosong yang gelap, yang masih menunggu seberkas sinar untuk meneranginya. Tak pernah berharap untuk mendapatkan penerangan yang besar, karena dengan sedikit nyala lilin pun hati ini merasa bahagia. Dia suka membiarkan kopinya mendingin di cangkir.

Sejenak Bram meraih kamera DLSR nya yang tergeletak di atas meja, bersebelahan dengan sebuah laptop. Dia kembali membuka foto-foto hasil dari jepretannya. Satu demi satu, dia cermati foto-foto itu hingga sampai pada foto seorang perempuan yang mampu memporak-porandakan hatinya. Siapa lagi kalau bukan Pratiwi. Begitu lama dia pandangi wajah Pratiwi hingga dia terbuai kembali dalam lamunannya.

Sayup-sayup terdengar lagu slow rock Indonesia dari speaker laptopnya. Digaruknya kulit kepala yang tak gatal. Ingin sekali ia mengirimkan sebuah pesan pendek kepada dia. Ah, cukup satu kata saja. Kembali kedua matanya kembali tertuju pada isi cangkir di hadapannya yang tinggal separuh. Sejenak Bramasta termangu seperti tak berselera tapi nyaris kedua matanya tak berkedip. Dirasakan saja.

Ya, dirasakan saja. Atau mungkin dilupakan saja. Seolah dia ingin memberikan nasehat kecil untuk dirinya sendiri. Tentunya tidak mudah, perasaannya campur aduk. Semuanya, seolah-olah melebur jadi satu serupa pahitnya bubuk kopi dan manis gula pasir dalam seduhan air panas.

Bramasta mendengus pelan, mewakili pikirannya yang berat. Dilihatnya layar ponselnya menyala berkedip-kedip dan bergetar halus di atas meja.

Tidak, sepertinya dia tidak ingin meraih ponsel itu. Tanpa perlu melihat nama yang tertera di layar, Bramasta sudah dapat menduga siapa yang memanggil. Dia biarkan saja, namun juga tanpa keinginan mematikan ponsel itu, cukup meniadakan semua nada panggilan. Silent.

"Ah… !" Bramasta mendesah kecil tatkala pandangannya mengarah pada foto wajah Pratiwi.

Dia masih tidak mengerti apa sebab sosok gadis itu selalu muncul dalam pikirannya. Menyusup perlahan-lahan memenuhi ruang hatinya. Setengah mati dia mencoba membuang, tapi dia selalu datang. Meski harus dengan mengacak-acak rambut di kepalanya, namun tetap saja tak bisa.

Dan tiba-tiba... "Braakkkk!"

Suara itu kedengaran amat menyeramkan, dan setelah beberapa saat kemudian barulah dia menyadari ternyata dirinya terjatuh dari kursi. Apa yang terjadi? Sepertinya Bramasta baru saja melakukan hal bodoh seperti itu lagi? Hal yang mungkin membuat orang lain ‘ngakak’ di atas penderitaannya.

"Awww! sakit banget kakiku, jangan-jangan keseleo nih… !" erang lirih Bramasta seraya bangkit dari lantai.

“Aku harus menemuinya!” gumamnya dalam hati.

Di lain tempat, pucuk dicinta ulam pun tiba. Sepertinya ada yang berbeda dengan Pratiwi. Semenjak pagi, Pratiwi sering tersenyum sendiri. Tanpa Pratiwi sadari, sejak tadi Bertha memperhatikan gerak geriknya. Bertha merasa ada perubahan dalam diri Pratiwi.

“Dok, ini laporan kemarin yang dokter minta,” kata Bertha.

Karena Pratiwi melamun hingga hampir saja dia tidak mendengarnya.

”I.. Iya… !” tukas Pratiwi.

Kemudian Pratiwi menerima beberapa lembar berkas laporan yang disodorkan Bertha. Saat tiba-tiba, Pratiwi tidak dapat menyembunyikan senyumannya ketika tertangkap basah oleh Bertha .

“Ayo... ada apa nih... dokter kok senyum-senyum sendiri, pasti sedang jatuh cinta ya untuk?” goda Bertha.

Pratiwi hanya tersenyum tidak menjawab sepatah katapun.

Kembali dia melongokkan kepalanya melewati jendela, pandangannya mengarah ke lobi puskesmas. Darahnya terasa berhenti mengalir, tubuhnya terasa lebih hangat dari sebelumnya. Setelah melihat sosok pemuda tengah duduk tidak jauh dari lobi puskesmas. Pratiwi bergegas menghampirinya. Dia tersenyum menatapnya.

Langit yang bermandikan cahaya kekuningan matahari menghilang di kejauhan, berangsur-angsur digelapkan oleh kabut petang. Semuanya seperti berputar kembali. Kaki langit menggenang dalam kubangan kuning kemerahan. Jangkrik-jangkrik mulai menghela komposisi kerikannya.

Lihat selengkapnya