Beberapa saat setelah Bramasta masuk ke dalam kamar, Pratiwi mendengar dia berteriak-teriak kesakitan di dalam kamar. Bergegas Pratiwi berlari menuju ke kamar. Untunglah pintu kamarnya tidak di kunci, sehingga Pratiwi dapat masuk ke dalam.
"Ya Tuhan, Bram, apa yang terjadi denganmu?!" teriak Pratiwi. Pratiwi melihat Bramasta duduk di atas meja kamar sambil menggigil kedinginan.
"Bram, apa yang sedang terjadi denganmu? Kenapa kamu berteriak-teriak kesakitan seperti ini?!" Pratiwi mengulangi pertanyaannya.
Pratiwi bermaksud ingin mengetahui apa yang sedang terjadi, tapi ternyata Bramasta justru semakin emosi dan marah-marah.
"Pergi! Pergi! Jangan mendekat!" teriak Bramasta.
Pratiwi keluar dari kamar dengan sejuta tanya kenapa dia menjadi sangat marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya, apa yang sebenarnya terjadi padanya, lalu bagaimana caranya untuk menenangkannya. Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi pikiran Pratiwi.
Untuk sesaat suasana jadi hening namun tak lama berselang, terdengar suara Bramasta memanggil- manggil. Entah siapa yang dipanggilnya karena dia hanya mengatakan tiga patah kata.
"Hei… di luar ada orangkah..... ?!" begitu berulang-ulang.
Pratiwi pun kembali bergegas menuju ke kamar Bramasta.
"Ya Tuhan… Bram!" teriak Pratiwi panik sambil berlari menghampiri Bramasta yang sudah tergeletak di lantai kamar dengan hidung mimisan dan air liur yang menetes.
"Bram, apa yang terjadi dengan dirimu???" ucap Pratiwi yang kebingungan sambil memeluk pemuda itu.
Yang semakin membuat Pratiwi penasaran saat dia melihat di samping Bramasta ada sebuah jarum suntik, terlihat seperti telah terisi oleh sejenis cairan berwarna putih yang agak sedikit berbusa. Kini tahulah Pratiwi bahwa pemuda itu sedang sakaw.