PERANG SUDAH BERAKHIR

DENI WIJAYA
Chapter #8

PERJODOHAN YANG TIDAK DIKEHENDAKI #8

“Bram!” teriak Pratiwi.

Lagi. Suara itu?

“Bram!” ucap Pratiwi dengan mata berbinar.

Bramasta menoleh cepat. Matanya bertemu pada dua buah kornea hitam di depan sana. Dia menatap tajam, gerahamnya yang kuat seolah berperang dengan kendalinya sendiri. Detik berikutnya matanya berkedip, tatapannya berubah tak setajam tadi.

Nafasnya berhembus kasar. Gadis itu berdiri seolah memberi jarak. Tentu saja dia menunggu di sana, di hadapannya sekitar 5 meter. Dia membiarkan lalu lalang orang menghalangi pandangannya. Selanjutnya dia melangkah perlahan menghampirinya, semakin dekat membuat hatinya semakin berdebar.

Bergegas Bramasta berbalik arah. Matanya melotot terkejut melihat Pratiwi telah berdiri di hadapannya seraya menunjukkan senyum manisnya. Belum sempat pemuda itu kembali melangkah, Pratiwi menubruk tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya, memeluknya erat. Bramasta hampir saja jatuh ke belakang, tapi tubuh gadis cantik itu tidak cukup kuat untuk merobohkan pertahanannya. Dengan tidak menghiraukan tatapan orang-orang di sekelilingnya. Membiarkan perasaannya bersemayam detik ini, dan Pratiwi berharap waktu berhenti sekarang juga.

Dia membenamkan wajahnya di dada Bramasta. Biarkan saja orang-orang melihatnya dengan tatapan aneh. Biarkan saja detak jantungnya beradu dengan aliran darahnya yang deras. Biarkan saja keringatnya mengucur karena rasa gugupnya yang terlalu hebat. Dan dia biarkan saja, pemuda ini tetap memeluknya seperti ini.

“Tuhan apa yang kurasakan ini sungguh nyata, entah apapun ini tapi semua ini sungguh nyata!” bisiknya dalam hati.

******

Dari Wamena, Bramasta naik pesawat menuju bandara Sentani, Jayapura. Rencananya dari Jayapura, dia akan bertolak ke bandara Juanda, Surabaya. Dan saat itu Pratiwi merasa separuh nyawanya hilang, buliran bening air mata turun tak terbendung membasahi pipi, dia tetap berharap mereka dipertemukan kembali. Dia terus menatap pesawat yang membawa Bramasta sampai hilang dari pandangannya.

******

Sesuai rencana, dari Juanda, Surabaya, Bramasta take off ke Amsterdam dengan transit dulu di Kuala Lumpur. Menurut jadwal, penerbangannya ke Kuala Lumpur dijadwalkan pukul 11.30 RINB. Setelah beberapa jam di udara, Bramasta tiba di bandara Juanda. Dia bergegas check in dan masuk ke boarding lounge di Gate D1 yang unfortunately tidak ber-AC. Atau mungkin ber-AC tapi tidak dingin sama sekali. Setelah melalui proses pemeriksaan bagasi, check in, dan pengurusan boarding pass, yang dilanjutkan dengan pemeriksaan dokumen keimigrasian, prosedur itu dilaluinya dengan lancar.

Setelah menunggu satu jam namun kedatangan pesawat yang akan membawanya ke Kuala Lumpur terlambat setengah jam. Akhirnya, Bramasta take off sekitar jam 12.00 RINB. Setelah menempuh perjalanan udara kurang lebih dua setengah jam, pesawat yang ditumpangi Bram landing di LCCT Kuala Lumpur. LCCT merupakan airport khusus untuk penerbangan budget airlines.

Sesuai dengan jadwal penerbangan dari Kuala Lumpur ke Amsterdam, Bram harus menunggu keberangkatannya sekitar 7 jam, jadi baru nanti sekitar jam 22.00 waktu Malaysia bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan pesawat maskapai penerbangan Belanda KLM.

Untuk menghabiskan waktu sambil menunggu malam, Bramasta online dengan menggunakan fasilitas internet bandara secara gratis, yang letaknya tepat di bawah mushola bandara. Bandara Kuala Lumpur terkesan sangat mewah dan bagus, bangunan dan fasilitasnya sudah modern. Tapi ya itu, karena sangat luas dan harus muter-muter jadi membingungkan.

Sambil menunggu kedatangan pesawat yang menuju Belanda, dia memutuskan untuk menunggu di sebuah cafe. Sesekali melihat jam tangan yang dikenakannya. Membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Terkadang raut wajahnya berkerut tapi tiba-tiba pula ada senyum menghiasi bibirnya. Entah apa yang ada dalam benaknya saat itu.

Dengan mengenakan kaos oblong putih yang dipadu dengan celana jeans warna krem, Bramasta begitu kelihatan sangat menikmati perjalanannya. Koran pagi juga turut menemani secangkir kopi manis dan sebungkus roti. Kedua bola matanya tak hendak lepas dari topik-topik hangat yang termuat di koran harian lokal tersebut.

Tiba-tiba ia didatangi seorang laki-laki paruh baya berwajah khas Melayu.

Assalamu’alaikum. Boleh saya duduk?” sapa laki-laki paruh baya itu dengan logat Melayu.

Lihat selengkapnya