Dari balik tirai hujan dengan siluet senja di lembah Baliem, pepohonan di sepanjang sungai itu basah oleh guyuran air hujan. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh hembusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona.
Ketika angin tiba-tiba bertiup lebih kencang, daun-daun di pucuk ranting serempak terjulur sejajar satu arah, seperti tangan-tangan penari yang mengikuti irama hujan, seperti bocah-bocah berbanjar dan bergurau di bawah curah pancuran.
Pepohonan yang tumbuh di tanah pinggir sungai di antara sIbu perdu yang rapat dan rimbun. Kelandaian sungai membuat pemandangan seberang sungai yang cukup luas dengan rona warna merah kekuningan di sore hari seperti lukisan alam yang memukau terpapar di dinding-dinding langit. Dalam sapuan hujan panorama di seberang sungai itu terlihat agak samar.
Namun cuaca pada musim pancaroba sering kali mendadak berubah. Lihatlah, sementara hujan tetap turun dan angin makin kencang bertiup tiba-tiba awan tersibak dan sinar matahari sore langsung menerpa dari barat. Lukisan besar di seberang lembah mendadak mendapat pencahayaan yang kuat dan menjadikannya lebih hidup.
Seketika muncul butiran-butiran bening yang berasal dari pantulan sempurna cahaya matahari sore oleh dedaunan yang kuyup dan bergoyang. Dari balik bukit, di langit timur matahari yang biru-kelabu, dengan warna oranye keemasan, terlukis di garis langit.
Ketika dengan tiba-tiba pula matahari lenyap ditelan waktu, suasana kembali samar. Apalagi hujan pun berubah deras menyusul ledakan guntur yang bergema di dinding-dinding bukit. Angin kembali bertiup kencang sehingga pepohonan itu seakan hendak rebah ke tanah.
Suasana perkampungan di Oksibil menjadi sunyi dan hening di tengah guyuran hujan yang sangat lebat. Tetapi beberapa saat kemudian hujan pun berangsur-angsur reda, tinggallah gerimis yang mengundang siapa saja untuk mengambil selimut tebal untuk sekedar menghangatkan tubuh yang terbalut udara dingin.
Malam itu, tidak seperti malam-malam sebelumnya, Pratiwi tidur lebih dulu dari teman sekamarnya, Bertha. Malam itu entah kenapa dia tak kuasa untuk menahan rasa kantuknya. Hingga beberapa jam kemudian, Bertha, salah seorang perawat asli Papua yang setiap harinya membantu Pratiwi, terbangun. Dia terjaga dari tidurnya karena mendengar suara gaduh dan pintu kamar berderit, terbuka.
Dalam keadaan kesadaran yang belum pulih benar, dalam artian masih menahan rasa kantuk, Bertha melihat seorang pria tinggi besar masuk kamar dan melonggarkan bohlam lampu hingga padam. Sementara lampu di luar kamar pun juga sudah dimatikan. Dalam keadaan yang gelap itu, tiba-tiba, seseorang memegangi Bertha dan membekap mulutnya.
”Jangan berteriak atau aku akan membunuh kamu!” bentak lelaki itu.
Bertha tak mengenali wajah lelaki itu karena memang saat itu kamar sedang gelap, namun dia mengenali suara lelaki itu. Demi keselamatannya, Bertha pun diam tak melawan.
Dia memegang ujung jemari kanannya. Dalam sekejap, Bertha merasakan aliran udara yang bertiup kencang di balik rambutnya. Semakin lama, semakin kencang. Seluruh tempat itu bagai berputar dan tiba-tiba saja seperti memasuki pusaran air, semuanya lenyap, menghilang.
Suasana menjadi tenang dan hening. Wajah orang itu tampak menakutkan di bawah bayangan gelap, Bertha merasakan laki-laki itu sedang menatapnya tanpa berkedip. Beberapa detik berlalu, ketika Bertha mulai merasa panik, dan dadanya tiba-tiba sesak seperti kehabisan udara. Bertha berusaha menarik tangannya, tapi tak bisa.
“Mau apa kalian?” kata Bertha memberanikan diri sambil memandang sekitar, namun kedua matanya tak bisa menembus tabir gelap yang menyelimuti.
Sejauh mata memandang hanya kegelapan dan keheningan. Lelaki itu melepaskan genggamannya, lalu bangkit. Entah apa yang akan dia lakukan. namun dia hanya berdiri di tepi meja membelakanginya. Punggungnya yang lebar dan panjang tampak lebih mengerikan daripada ketika lelaki itu menatapnya.
Dan ketika mereka pergi meninggalkan kamar, Bertha memanggil-manggil Bram, namun tak kunjung ada jawaban. Kemudian perlahan Bertha mencoba untuk menghampiri tempat tidurnya. Bram masih saja tidak menjawab panggilannya. Sementara itu juga Bertha tidak bisa melihat apapun karena kondisi kamar saat itu sangat gelap karena lampu mati.
Bertha menjadi sangat takut, dan memutuskan untuk meminta bantuan kepada salah seorang penjaga puskesmas.
“Bapa, Bapa tolong! Saya takut. Ada laki-laki masuk kamar!” Bertha terus berteriak.