Bramasta tak tahu lagi, sudah berapa banyak kafe yang sudah dia sambangi terutama tiap malam minggu. Rasanya semua kafe di kota Amsterdam sudah pernah dia tongkrongi. Begitu juga tak ada yang spesial dari braun cafe berkonsep vintage di ujung jalan yang sibuk itu. Tidak terlalu besar, hanya sebuah bangunan kecil yang dindingnya dibiarkan tidak dicat dengan perabotan meja kursi yang terbuat dari kayu yang juga tanpa dicat dan tak pernah sepi pengunjung.
Lalu apa yang menarik? Secara fisik, cafe itu biasa saja. Tapi bagi anak muda seperti Bramasta yang tengah menyesap secangkir kopi di hadapannya ini, suasana cafe yang ramai dengan hiruk pikuk celotehan dan suara tawa muda-mudi Belanda yang sedang berdiskusi atau hanya sekedar nongkrong, kongkow di pinggir jalan sambil menikmati malam.
Seperti kebiasaannya, Bramasta hanya menyeruputnya beberapa teguk saja dan larut dalam lamunannya, hingga kopinya mendingin. Ketika sang pelayan cafe mengatakan bahwa cafe akan segera tutup, dia tak berkutik untuk terus berlama-lama disitu. Saat itu dia melirik jam tangannya. Hampir jam dua belas malam. Namun malam itu, dia masih tak ingin pulang.
Bramasta pindah ke kafe lain karena kafe yang ia singgahi memasuki jam tutup. Tentu tidak setiap kafe buka 24 jam. Entahlah, ia juga tak mengerti kenapa harus melakukannya malam ini. Memang tampak konyol, tapi bukanlah hal baru lagi baginya duduk sendirian berlama-lama di kafe dengan secangkir kopi.
Diiringi musik pop slow barat dengan lirik sedikit melo, sejenak Bramasta melayangkan pandangannya berkeliling. Malam kian larut, namun masih ada beberapa pasangan yang masih setia setia bertahan. Juga sekelompok remaja yang tak henti-hentinya cekikikan dengan laptop menyala di meja pojokan. Kembali pandangannya tertuju pada isi cangkir di hadapannya yang tinggal sepertiga. Dia termangu seperti tak berselera tapi nyaris tak berkedip. Entah kenapa hatinya gelisah.
Kenangan akan peristiwa demi peristiwa yang datang silih berganti dalam hidupnya terus berkelebat dalam benaknya. Semuanya, seolah-olah melebur jadi satu serupa pahitnya bubuk kopi dan manis gula pasir dalam seduhan air panas, meski ada juga yang dipadu dengan aneka rasa ataupun topping. Ya, hidup ini seperti minuman kopi. Ada masanya saat itu terasa manis semanis cappucino. Ada masanya juga terasa pahit sepahit espresso atau kopi hitam kental.
Membuat kita serba gelisah seperti kecanduan kafein. Tapi ingatlah bahwa di dunia ini masih ada hal yang disebut cinta. Ada untuk melengkapi semuanya. Seperti menambahkan creamy foam di atas cappucino dan menambahkan gula pada espresso. Bramasta mendengus pelan. Malam semakin larut tenggelam dalam temaram suasana kafe dengan alunan blues dan nyala lampu yang bergantian.
Setengah jam berlalu sudah. Semua terhanyut dalam suasana damai yang disuguhkan pihak pengelola kafe. Meski di luar dingin tapi di dalam hangat. Tatkala seorang pelayan kafe melintas di depan mejanya, entah kenapa, tiba-tiba saja Bramasta melambaikan tangan.
Begitu spontan. Dia juga tak tahu apa yang telah menggerakkannya. Dengan agak canggung dia lalu meminta secarik kertas dan pulpen kepada pelayan kafe itu untuk sekedar request lagu. Sejurus kemudian potongan kertas kecil itu telah berpindah ke tangan si pelayan bersama selembar uang dua puluh golden.
Malam yang syahdu, ditambah menikmati sebuah alunan lagu favoritnya, seperti yang telah dia minta tadi, dengan lampu remang-remang, mirip sebuah dongeng romantis. Alunan lagu itu seakan membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Sesuatu yang indah tapi sedih. Saat itu Bram ingin melupakan sejenak dan bebas dari kegundahan hatinya bersama sang malam.