PERANG SUDAH BERAKHIR

DENI WIJAYA
Chapter #11

OPERASI BEDAH #11

Dengan nafas terengah-engah dan bermandikan keringat dingin di sekujur tubuhnya, Pratiwi terjaga dari tidurnya.

”Ya Allah, terimakasih, Engkau masih memberiku kesempatan untuk menghirup udara-Mu saat ini, meskipun sebentar lagi mungkin Engkau berkehendak untuk mengambil nyawaku. Ya Allah, aku datang ke sini dengan tujuan baik, kupenuhi janjiku sebagai seorang dokter untuk membantu sesama dalam kondisi terburuk sekalipun. Meski aku bukanlah seorang ahli bedah namun mereka memaksaku untuk melakukan ini. Ya Allah tuntunlah tanganku ini untuk bisa melewati operasi pembedahan ini!” ucap Pratiwi dalam kepasrahannya.

Dengan serta merta ia meletakkan kedua telapak tangannya pada debu-debu dinding kayu untuk bersuci. Tayamum, begitulah cara bersuci bagi seorang muslim jika tidak mendapati air yang cukup untuk bersuci ketika hendak menunaikan ibadah sholat. Bergegas Pratiwi mengerjakan sholat Subuh. Saat bait-bait takbir keluar dari mulutnya, dengan mengangkat kedua tangannya untuk takbiratul ihram, maka bergetarlah bibir, hati dan seluruh tubuhnya. Mengguncang batinnya. Gelisah. Bimbang. Takut. Dan dengan kepasrahan yang dalam, dia bermunajat kepada Tuhannya. Menyampaikan segala duka dan keluh kesah, dan berharap Tuhan akan memberikan pertolongan-Nya.

Dalam kegelapan ruangan yang pengap, Pratiwi terlelap dalam nikmatnya bercengkrama dengan sang pemilik jiwa. Ruangan penyekapan yang sempit serasa bagaikan di sebuah taman yang indah. Dinding-dinding kayu yang kuat bagaikan tirai kain sutra yang melambai. Dia pun semakin terlena dalam kepasrahannya, dia serahkan segenap jiwa dalam kehendak Tuhan.

Pagi itu, pelupuk matanya mengerjap-ngerjap seperti kelilipan. Sudut-sudut matanya masih digerayangi sisa-sisa air mata yang mengering. Pratiwi mengambil napas panjang. Ditatapnya langit-langit honai yang rendah, dengan bau lembab, Pratiwi melangkah berat menuju lubang di antara sekat-sekat dinding kayu. Pagi ini cuaca sedang mendung. Di luar sana, ekor matanya segera hinggap pada lalu-lalang orang-orang bersenjata api yang sibuk mengepulkan asap rokok. Sesekali tampak menggerombol, berbincang-bincang, nampak keseriusan dan ketegangan terpancar pada wajah mereka, lantas menyebar entah kemana.

Meski sang surya memaksa ingin menunjukkan kekuasaannya namun tak mampu mengalahkan pekatnya awan hitam. Tak terdengar suara riuh nyanyian cecet burung cendrawasih, kokok ayam jantan, seolah mereka juga enggan untuk bangun. Pagi pun datang dengan kelabu. Tibalah detik-detik operasi pembedahan dilakukan. Dari balik dinding kayu, Pratiwi mendengar dari jauh, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki, decit sepatu, berpasang-pasang, tetapi teratur. Semakin lama semakin keras, semakin dekat, memecah kesunyian pagi yang meruang.

Entah kapan waktu mereka tiba, yang pasti hal itu pasti akan terjadi. Semua suara sepatu itu berhenti tepat di depan pintu honai dimana Pratiwi berada.

Terdengar pintu dibuka, dengan suara berat… ceklek… kriek… blak. Sesaat terdengar suara datar menyapanya.

“Selamat pagi dokter!” sapanya.

“Selamat pagi!” jawab Pratiwi seraya bangkit dari pembaRingannya.

“Dokter, apa kamu sudah siap?” tanya lelaki tersebut yang hanya dijawab Pratiwi dengan anggukan kepalanya.

“Dokter, maafkan kami. Kami tidak bermaksud menculikmu tapi kami terpaksa melakukannya karena kami tidak ingin pemimpin kami mati. Beberapa butir peluru bersarang di tubuhnya. Kamu harus bisa menyelamatkannya. Jika dokter gagal, kamu tahu sendiri akibatnya!” kata lelaki itu dengan nada berat.

  “Aku mengerti!” sahut Pratiwi.

  “Dokter, apakah kamu takut?” tanya lelaki itu lagi.

 “Mengapa harus takut, Bapa, nyawa ini hanyalah titipan yang sewaktu-waktu dapat diambil oleh pemiliknya, kita tidak tahu kapan hidup kita akan berakhir. Bukankah kematian itu adalah sebuah takdir. Bapa, aku ke Papua bukan untuk sebuah permusuhan dan kebencian tapi untuk sebuah persaudaraan dan kebersamaan. Jadi mengapa aku harus takut?” jawab Pratiwi penuh keyakinan.

Lihat selengkapnya