Meski Pratiwi sudah memenuhi keinginan mereka untuk melakukan operasi bedah terhadap pimpinan mereka, namun Pratiwi belum juga dibebaskan. Mereka masih membutuhkan Pratiwi untuk perawatan pasca operasi hingga benar-benar dipastikan pimpinan mereka selamat dan kesehatannya pulih seperti sedia kala.
Di luar dugaan, mereka memperlakukan Pratiwi dengan baik, tanpa ada intimidasi dan kekerasan. Dan setelah beberapa hari menunggu akhirnya pimpinan mereka pun siuman. Hal ini tentu sangat membuat semuanya menjadi lega dan gembira.
“Dokter, terimakasih telah menyelamatkanku! Kamu telah berhasil mengeluarkan peluru yang bersarang di tubuhku. Entah andai saja dokter nggak dibawa kesini, mungkin aku sudah mati. Dokter, maafkan kami jika telah membuat dokter takut. Kami melakukannya karena terpaksa. Sebenarnya kami sangat berterimakasih karena dokter bersedia memberikan pelayanan kesehatan bagi kami warga pedalaman!" kata Boas, nama pimpinan mereka.
“Bapa Boas, aku hanya seorang dokter yang sudah seharusnya untuk membantu sesama namun yang menyelamatkan Bapa adalah Tuhan sang pemilik jiwa. Bagaimana kondisi bapa saat ini?” balas Pratiwi.
“Sudah lebih baik. Terimakasih!” jawab Daud.
“Dokter, sekali lagi maafkan kami, sebenarnya kami tidak berniat untuk melakukan tindakan yang tidak menyenangkan ini, kami juga tidak ingin membuatmu takut, tapi kami terpaksa melakukan ini semua karena aku dan anggota kami banyak yang terluka dalam pertempuran antar suku beberapa hari yang lalu sehingga kami sangat membutuhkan dokter dan obat-obatan!” lanjut Boas.
“Sudahlah bapa, tidak apa-apa, semua sudah berlalu. Aku berharap semoga tidak ada lagi kebencian dan permusuhan karena kita semua bersaudara. Kita sama-sama warga negara Indonesia. Perang sudah berakhir, kini saatnya kita tatap masa depan dengan kebersamaan dan persatuan untuk kehidupan yang lebih baik. Kita bangun Papua yang lebih baik. Betul begitu bapa Boas?” balas Pratiwi.
“Hmm..... iya dokter, betul apa yang baru saja dokter katakan. Memang dengan kebersamaan dan saling menghargai semoga akan terwujud persatuan yang baik antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tokoh masyarakat, antar suku, dan masyarakat untuk keamanan dan kedamaian di tanah Papua ini!” sambung Boas.
“Bapa, kita pastilah berharap semua akan berjalan dengan baik!” sahut Pratiwi.
“Dokter, beberapa hari yang lalu beberapa pejabat pemerintah daerah Wamena dan tokoh masyarakat telah menemui kami dan bernegosiasi untuk kebebasan dokter. Dan kami katakan pada mereka bahwa kami tidak melakukan tindakan jahat kepada dokter Pratiwi. Kami hanya membutuhkan bantuan seorang dokter untuk beberapa anggota kami yang terluka. Setelah semuanya selesai, kami berjanji akan membebaskan dokter Pratiwi. Akhirnya semua menyepakati negosiasi ini!" kata Boas kepada dokter Pratiwi.