PERANG SUDAH BERAKHIR

DENI WIJAYA
Chapter #13

NEGERI VAN ORANGE #13

Enam bulan kemudian…………………………

Bagi Pratiwi, ini adalah perjalanan udara internasional pertamanya. Perjalanan cukup jauh karena selama 15 jam harus berada di atas pesawat. Perasaan bercampur aduk jadi satu, antara senang mendapat beasiswa untuk melanjutkan kuliah S2 di Belanda, sebagai bentuk apresiasi pemeRintah untuk perjuangannya dan ketegarannya mewujudkan ketersediaan dan pemerataan pelayanan kesehatan bagi warga pedalaman Papua, rindu keluarga, orang-orang tercinta dan sahabat-sahabat terdekat sudah muncul di kala berada di atas pesawat, padahal perjalanan baru saja dimulai. Tapi tidak, ia menepis semua rasa itu.

Apa yang terlintas dalam pikiran ketika mendengar seseorang sedang belajar atau lulusan sebuah perguruan tinggi di luar Indonesia? Jawabannya bisa sangat beragam dan bervariasi sebab dinamika belajar, budaya dan lingkungan negara-negara sebagai tempat kuliah sangatlah berbeda. Masing-masing negara memiliki ciri khas masing-masing dalam menggembleng mahasiswanya. Bagian lain yang juga menjadi isu adalah persoalan bahasa. Meskipun masyarakat Belanda bisa berbahasa Inggris, namun bahasa Belanda masih sangat mendominasi pada fasilitas publik, pusat-pusat perbelanjaan, urusan administrasi hingga label-label harga.

Jadi, bisa dibayangkan bagaimana jika Pratiwi dan mahasiswa Indonesia lain yang tidak segera menyesuaikan diri dengan lingkungan yang baru? Jika sampai itu terjadi, maka bisa dimungkinkan proses perkuliahan, belajar di kampus dan kehidupan bersosialisasi dengan lingkungan sekitar akan terganggu. Asa dipanjatkan, semangat diazamkan dalam hati bahwa dia harus berusaha untuk menyelesaikan studinya tepat waktu dengan hasil sIbusimal mungkin.

Begitu mendarat di Schipol, Amsterdam dan menjejakkan kaki di tanah Belanda, pada saat itulah culture shock mulai muncul. Hawa musim semi di bulan April dengan suhu di bawah 20 derajat Celcius membuat badan merasakan dingin yang luar biasa karena terbiasa hidup di daerah tropis. Pratiwi melakukan sujud syukur sebagai tanda syukur kepada sang Maha Pencipta bahwa diRinya selamat sampai ke tujuan. Ritual yang kerap dilakukan saat pertama kali sang perantau menginjakkan kaki ke tanah tujuan.

Selain cuaca, karena baru datang dan belum paham dengan lingkungan dan budaya negeri Belanda, makanan juga menjadi isu di awal-awal kedatangan di Belanda. Maklum, sebagai orang Indonesia, kalau belum makan nasi, maka rasanya belum makan. Di Amsterdam, Pratiwi akan menempuh studi S2 di Universiteit van Amsterdam (UvA) dan rencananya ia akan tinggal di sebuah apartemen di daerah Nieuwmarkt. Suasana adem dan sejuk sudah terbayang dalam benaknya. Pasti maknyus...... nantinya. Akhirnya kesampaian juga impian bisa bermain di atas salju.

******

Sinar matahari menembus kaca jendela apartemen. Seolah ingin menyapanya dengan memberi kehangatan pagi di setiap sudut ruangan. Namun kehangatan mentari pagi tak mampu untuk membangunkannya. Sandi mengacuhkan pagi, kantuk ini benar-benar tak bisa ia lawan. Setelah sepersekian menit dia ikuti rasa kantuk yang berat, Sandi mencoba membuka kedua kelopak matanya.

Ahh, pagi tak pernah terlambat datang. Andai cinta tak pernah terlambat datang, sama seperti pagi. Ada angin dingin yang bertiup dan berhembus di balik celah jendela. Seperti permainan biola yang paling merdu di pagi hari. Setelah mandi, sholat, Sandi mengenakan dengan jaket kulit warna coklat kesayangannya, lengkap dengan syal yang membalut leher dan topi di kepalanya. Kota Amsterdam sedang dingin kali ini. 

Beberapa saat kemudian, Sandi segera turun ke lobi apartemen. Sesampainya di lobi, di sana sudah duduk menunggu seorang perempuan dengan mengenakan syal warna merah muda di lehernya.

“Hi, Pratiwi, sudah lama nunggu ya…” sapa Sandi.

“Nggak kok, baru aja nyampe… ya sekitar sepuluh menit yang lalu,” balas Pratiwi.

“Pratiwi, kamu cantik sekali pakai syal warna merah muda… perfect.. !” puji Sandi.

“E…. baru tahu ya kalau aku itu cantik…hehehe. .....“ sahut Pratiwi.

Lihat selengkapnya