Anak perempuan itu lahir di Guangdong pada warsa Tanah-Monyet, Wùshēn[1]. Dari awal kelahirannya, mungkin hanya aku dan A-Pa-nya saja yang dapat melihat tanda-tanda kebesaran anak perempuan itu. Ah-Nio, sungguh pun tumbuh menjadi seorang gadis berwajah telur puyuh, mungil, dan cenderung manis, tidak ada yang mampu menolak bahwa sorotan matanya begitu kuat.
Ah-Nio, terlibat di dalam beragam pertemuan gerakan Hoā-gī-hōe bersama Tan Wan Sui. Gadis kecil itu memperhatikan dengan seksama, matanya awas, perhatiaannya terkunci dan tertuju dengan beragam perincian rencana perlawanan.
Awalnya tentu saja banyak yang tidak setuju dengan kehadiran Ah-Nio. Mereka risih dan tidak percaya bahwa seorang gadis yang umurnya saja belum 10 tahun itu dapat menjaga mulutnya, atau malah dapat mengacaukan semua rencana yang berkali-kali kami godok sampai matang.
Sang pemimpin, Tan Wan Sui bergeming. Ah-Nio hampir selalu ikut di dalam pertemuan demi pertemuan mereka. Anak perempuan satu-satunya pemimpin kami tersebut terbukti tak mengacau. Walau aneh, tetapi kehadirannya lama-kelamaan menjadi semacam kebiasaan saja.
Tidak ada yang tahu bahwa Ah-Nio telah belajar banyak di usia semuda itu. Bukan sebagai bocah laki-laki yang bakal meneruskan kepemimpinan yang A-Pa, melainkan seorang perempuan yang harus melanjutkan perjuangan di tempat lain, di tanah asing.
Sepertinya semua alasan ini sangat bertentangan. Ah-Ti Beeng Goe benar-benar menolak rencana yang diberikan kepadanya oleh pemimpin kami. Butuh waktu yang lumayan untuk akhirnya meyakinkan Ah-Ti Beeng Goe bahwa apa yang diputuskan Ah-Hia Wan Sui beralasan.
Nanyang, tepatnya pulau Jawa, sebuah kota besar bernama Betawi yang diatur oleh bangsa Holanda yang berkulit pucat dan berambut jagung itu menjadi pilihan pelarian kami.
Aku dikirimkan oleh Ah-Hia Wan Sui karena dianggap sebagai seorang yang memiliki pengetahuan luas tidak hanya akan Dunia dan Nanyang, tetapi juga tempat yang akan kami tuju, pulau Jawa. Sungguh, telah bertahun-tahun aku bekerja sebagai pelaut dan pedagang, sebelum akhirnya memutuskan untuk bergabung dengan gerakan Hoā-gī-hōe. Kemampuanku di dalam ilmu bumi, sejarah, dan tentu saja hubungan antar bangsa itulah yang membuatku dipercaya oleh Ah-Hia Wan Sui melarikan anak perempuan bermata awas itu bersama Ah-Ti Beeng Goe yang sudah seperti adiknya sendiri, serta beberapa orang kepercayaan Hoā-gī-hōe.
Dalam Kitab Sejarah Han Akhir[2], disebutkan catatan mengenai pulau Jawa yang dipanggil dengan Yediao. Disebutkan secara khusus bahwa pada masa Maharaja Yongjian tahun ke-6[3], Raja Yediao bernama Bian, mengirim utusan sebagai upeti atau sesembahan. Sebagai balasannya, sang maharaja memberikan cap emas kemaharajaan Cina dengan pita ungu.
Di masa pemerintahan tahun ke-12 maharaja Yuanjia[4], Jawa disebut sebagai Shepopoda. Dimana ditulis di dalam Song Shu[5], Raja Sri Paduka Alapamo dari negara Shepopoda mengirim utusan ke kerajaan wangsa Song. Di masa ini pula aku pernah membaca dari beragam sumber bahwasanya tercatat jalur atau lintasan pelayaran perdagangan dari Guangzhou, Condore, Tumasik, Sriwijaya, kemudian ke Jawa. Sedangkan lintasan kembali ke Cina dari Jawa melalui Sriwijaya, Kuala Trengganu, Annam, kemudian sampai ke Guangzhou.
Itu sebabnya, mengenai pelayaran, aku telah mendapatkan cukup pengetahuan dan pengalaman yang mampu bermanfaat bagi perjalanan penting ini.
Sungguh, aku tak membesar-besarkan keistimewaan gadis muda putri salah satu pemimpin gerakan Han kami tersebut. Dalam masa 2 warsa kami tinggal di Betawi, ketajaman mata dan batinnya semakin menguat. Umur 10 tahun, Ah-Nio tidak hanya sudah mampu mengangkat bedil dan menembakkannya, ia bahkan sudah mampu melesatkan pelor ke arah sasaran berkali-kali dengan keakuratan yang cukup mengejutkan. Kemampuannya menembakkan bedil lontak juga diimbangi dengan kemampuannya memanah.
Ah-Nio merentangkan tali busur dengan lengan rampingnya itu. Hampir seperti tak meyakinkan, sampai anak panah melesat dan menancap di sasaran.
Semakin hari aku semakin diyakinkan bahwa darah pejuang mengalir kental di tubuh anak perempuan tersebut. Umur 12 tahun, tidak ada yang bisa menentang kemauan keras Ah-Nio untuk terjun terlibat di dalam satuan pasukan Cina yang dibentuk di negeri Betawi ini.