Para Hóngmáo Kompeni sengaja memecah suku bangsa di negeri ini. Orang-orang Han tinggal di luar benteng kota. Mereka hidup berdempet-dempetan sepanjang terusan kota luar, dekat penggilingan gula dimana rata-rata orang Cina bekerja, serta kampung-kampung padat nan miskin.
Kemiskinan bukanlah hal utama yang kukeluhkan, melainkan ketidakadilan. Para pejabat Holanda mengatur masyarakat Cina melalui orang-orang istimewa yang mereka pilih sendiri. Ada para Kapitan Cina – Kapitein de Chinezen, ada Letnan Cina, ada pula Majoor Cina. Mereka ini adalah orang-orang Cina kaya raya yang berpakaian baik dan mahal, setia kepada Kompeni, dan tentu saja hidup terpisah dari orang-orang Cina yang miskin dan hidupnya kesulitan.
Orang-orang Cina yang terus bekerja tanpa henti bagai kerbau selalu hidup pas-pasan bahkan kurang. Banyak dari kami terikat utang, diperas pajak, serta yang paling parah adalah tidak mendapatkan kepercayaan bahkan sering dicurigai oleh mereka yang tinggal di dalam benteng.
Seperti apa yang sudah diceritakan oleh A-Peh Tàu-seng, orang Cina yang tinggal dan bekerja di Betawi hidup bagai bara di dalam sekam, ketakutan yang tenang. Kabar burung mendera kami. Mereka bilang ada pembatasan izin untuk tinggal di tempat ini. Ada pula kabar ancaman penutupan penggilingan gula. Orang-orang Cina yang yang hidup tidak sesuai keinginan para penguasa, atau hanya sial, diceritakan akan dibuang ke Se-lân[1] atau Hǎowàng Jiǎo[2], hidup di bawah penjajahan orang Hóngmáo.
Aku, bersama orang-orang Cina lainnya yang memutuskan berbondong-bondong tinggal di Betawi ini pernah mendengar bahwasanya pada masa pimpinan Tāi-koa[3] Koan[4], orang Cina hidup rukun dengan Kompeni. Sampai sang Tāi-koa tidak lagi menjabat, semuanya berubah. Apalagi dengan adanya gelombang orang-orang Han yang semakin banyak datang ke Betawi.
Orang-orang tua kami menyebut bahwa setelah itu, aturan baru mulai keluar untuk membatasi masuknya orang-orang Cina ke Betawi. Alasannya banyak dari orang-orang Cina yang datang dianggap sebagai gerombolan yang tidak memiliki keterampilan sehingga melakukan banyak tipuan kasar, penipuan, pencurian, dan tindakan tidak pantas lainnya.
Tentu saja itu tidak selalu benar adanya. Namun, apa mau dikata, peraturan sudah dibuat dan diputuskan. Bertahun-tahun lalu, sebelum kedatanganku ke Betawi, orang-orang Cina yang bahkan sudah menetap belasan tahun bila tidak memiliki surat izin tinggal, atau sudah kadaluarsa izinnya, akan diusir dan disuruh pulang ke negeri Cina, tempat mereka berasal. Padahal, banyak dari kami membayar izin tinggal, menyetor ringgit, serta tunduk pada para pejabat Kompeni.
Laki-laki Cina bekerja di pabrik gula, para ibu berdagang arak dan beras. Bagaimanapun, dinding kota ini dibangun di atas keringat orang-orang Cina, meskipun nama Betawi bukanlah nama Cina.
Ketika harga gula mulai jatuh semenjak beberapa tahun yang lalu, banyak orang Cina mulai menganggur. Harga diri mereka mulai dipertaruhkan, dituduh dan semakin dicurigai orang Kompeni sebagai para pembuat onar dan beban negeri. Yang berdatangan, baik resmi maupun di dalam gelap, akan sama-sama dianggap wabah yang berbahaya nan merugikan.
Orang-orang kempeni kemudian memiliki alasan untuk menancapkan kuku-kuku mereka semakin dalam ke tubuh masyarakat Cina.
Pasukan Kompeni datang dari rumah ke rumah. Menarik paksa mereka yang tidak memiliki izin tinggal, atau bermasalah secara khusus dengan para pejabat.
“Kau tahu, Ah-Nio? Mereka yang diambil oleh para serdadu Holanda itu dikatakan akan dipindahkan. Tapi sesungguhnya, tidak ada yang tahu kemana mereka pergi. Entah benar-benar dipulangkan ke negeri Han, diasingkan ke Se-lân untuk kerja paksa, atau ditenggelamkan ke laut,” ujar Ah-Peh Wan Sui kepadaku.