Perempuan Amuk

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #6

Nie Hoe-kong

Tak ada satu manusia pun yang dapat meramalkan dengan tepat apa yang akan terjadi di dalam kehidupan mereka di masa depan, apalagi menebak bagaimana cara dunia bekerja. Meskipun telah ratusan kali aku mencoba berbicara, melakukan daya upaya, dan bahkan menjadi sosok yang dapat mengatur irama hubungan kerjasama orang-orang Cina dan Kompeni, pecahnya pertikaian yang telah terpupuk lama itu akhirnya tak dapat kucegah.

Bukan aku yang memimpin pemberontakan tersebut. Mungkin jangan-jangan memang aku berharap bahwa aku sungguh memimpin pemberontakan itu, mungkin juga aku berharap bahwa aku dapat mencegahnya. Aku tak tahu pasti. Yang jelas, api sudah terlanjur membara di segala penjuru Betawi.

Sebagai seorang Kapitan Cina yang diberikan kepercayaan dan tanggung jawab untuk ‘mengatur’ warganya, aku memiliki pengetahuan yang baik atas keadaan kota ini, termasuk sejarah, tata letak, termasuk keadaan masyarakatnya.

Kota ini terletak di pesisir bagian utara laut Jawa, berada di tepi muara Sungai Ciliwung yang memecahnya menjadi dua bagian di masing-masing sisi sungai. Setiap bagian secara garis besar dipisahkan oleh 2 buah parit dan 8 buah jalan yang lebarnya lebih dari 25 chi[1]. Seluruh kota Betawi yang berempat penjuru[2] itu dikelilingi tembok karang tinggi dengan 22 baluwarti[3] serta 4 buah gerbang yang terhubung dengan jembatan-jembatan melintang di atas parit bagian dalam yang mengelilingi kota.

Aku lahir dari keluarga yang telah memiliki hubungan mesra dengan Kompeni. A-pa-ku, Letnan Nie Lok-koe[4], memang telah memegang jabatan yang diberikan oleh Kompeni serta memegang peranan penting di dalam masyarakat Cina di Betawi. Aku kemudian menggantikan ayahku pada tahun 1733 tahun Masehi untuk kemudian diangkat menjadi Kapitan tiga warsa kemudian.

Aku jelas termasuk sosok yang kaya raya. Rumahku besar, begitu pula bangunan-bangunan lain yang mendukung usaha perdaganganku. Aku juga memiliki beberapa perkebunan tebu untuk gula di luar Betawi, yang kemudian aku sewakan dan tak kuurus langsung ketika diangkat menjadi Kapitan Cina.

“Engkau sudah menjadi sosok yang dipercaya oleh orang-orang Han di negeri ini. Kau bisa bayangkan seberapa besar mereka berharap padamu sebagai seorang pemimpin. Sudah dari 10 tahun yang lalu ketika harga gula terjun bebas, para pemuda Cina mulai menjadi pengangguran, tetapi di sisi lain, gelombang masyarakat Han dari negeri Qing sana berbondong-bondong masuk ke Betawi untuk mengharapkan masa depan yang lebih baik,” ujar Ni Waikong[5], sahabat baikku itu.

Tak heran ia kembali meyakinkan letak sosokku di dalam masyarakat Cina di Betawi ini.

“Maksudmu, Ah-Kong?” tanyaku.

Laki-laki yang usianya tepat sebaya denganku itu menggelengkan kepalanya keras-keras. “Perang sudah diambang pintu. Kerusuhan akan segera terjadi, korban akan berjatuhan. Tetapi engkau memiliki tempat yang penting dalam peristiwa ini,” ujarnya kemudian.

Bukan tidak pernah terpikirkan, sebaliknya aku sudah mencoba melakukan banyak hal untuk mencoba mencari jalan keluar agar amarah kedua belah pihak tak bermuara di sebuah persengkataan, apalagi seperti apa yang dikatakan oleh Waikong saat itu, perang!

Perkataan Ah-Kong hanya membuatku semakin bingung dan gusar saja.

“Saudara-saudaraku. Aku tahu dengan baik bahwa pihak Kompeni telah memutuskan sebuah peraturan yang membebani kita semua. Tidak hanya membebani, peraturan-peraturan mereka membuat kita semua ketakutan dan berada di dalam kecemasan.”

Aku ingat mengumpulkan warga Cina di halaman rumahku yang besar itu. Wajah-wajah yang lelah, kaki-kaki kurus, serta sebagian besar raut menguarkan kemarahan terlihat begitu menonjol di tengah lapangan rumput yang selalu rapi dipangkas secara berkala itu.

“Aku baru saja kembali dari benteng,” seruku.

Lihat selengkapnya