Perempuan Amuk

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #7

Nie Liankong

Kakak laki-lakiku bukan seorang pengecut. Ia juga bukan seorang pengkhianat bagi orang-orang Han. Ia hanya kurang cekatan dalam jabatannya sebagai seorang Kapitan Cina. Ia lemah, terlalu banyak pertimbangan, dan tidak berani mengambil keputusan yang terlalu memihak pada bangsanya. Malangnya, semua ini mungkin karena ia memiliki rasa kepedulian yang besar terhadap warga sebangsa. Ia tidak mau merugikan orang-orang Cina yang malah sebaliknya membuat warga Han semakin sengsara.

Ah-Hia Hoe-kong juga akhirnya berada di dalam keadaan yang serba sulit. Di satu sisi, keluargaku telah lama menjadi kaya raya karena hubungan akrab dan saling menguntungkan dengan Kompeni, tetapi di sisi lain, hanya sedikit orang Cina yang seberuntung kami di tanah Betawi ini.

Sangat menyedihkan bila mengingat keluargaku memiliki tanggung jawab yang besar dalam mewakili bangsa Cina di Betawi tetapi banyak dari orang Cina yang mendapatkan perilaku kasar dan tidak menyenangkan dari orang-orang Holanda. Belum lagi mereka yang kehilangan pekerjaan, tidak mendapatkan pekerjaan, kelaparan, miskin, luntang-lantung tanpa tempat berteduh karena menjadi gembel dan pengemis, serta mereka yang kehilangan sanak saudara dan teman karena kebijakan pemerintah Kompeni dari balik benteng pusat kota itu.

Memang, ada banyak pula orang Cina yang akhirnya malah mencari masalah. Mereka membuat ribut, mengganggu ketertiban, bahkan mencuri dan merampok demi mempertahankan hidup[1]. Namun, kebanyakan pun itu terjadi karena kemalangan dan aturan memberatkan Kompeni itu sendiri.

Ah-Hia Hoe-kong tidak cakap dalam melihat keadaan ini. Ia terlalu lemah di depan Kompeni, pun tidak tegas terhadap orang-orang Cina. Kerjaannya selama ini lebih pada bolak-balik benteng dan luar benteng. Itu pun bukan mencari penyelesaian atas masalah-masalah yang ada. Ia seperti menjadi kurir berita saja.

Aku tak bisa menyalahkannya secara keseluruhan. Karena toh, ia tidak memiliki kekuasaan penuh atas orang-orang Cina, pun tak dapat mengubah peraturan dari Kompeni. Masalahnya, aku juga tidak bisa menyalahkan amarah yang menggunung dari para pekerja pabrik gula dan semua orang Cina yang tinggal di Betawi. Pajak semakin tinggi bagi para pekerja Cina. Sama juga para pothia[2] yang pemasukannya berkurang jauh tetapi tetap harus membayar banyak. Kehancuran keuangan dan perdagangan Betawi selama sepuluh tahun terakhir ini semuanya dibebankan kepada orang Cina yang dianggap sebagai biang keroknya. Padahal, aku tahu benar bahwa kehancuran Betawi ini dikarenakan Kompeni Holanda kalah bersaing dengan maskapai perdagangan Britania Raya[3] yang berpusat di Benggala[4].

Awal warsa 1740 Masehi[5], ketika kami sedang merayakan Tahun Baru Cina, puluhan pasukan Holanda datang dengan persenjataan lengkap.

Tanpa mempedulikan tata krama dan penghormatan terhadap perayaan bangsa Cina itu, mereka menangkapi lebih dari 100 orang Cina yang dituduh tidak memiliki surat izin tinggal di Betawi.

Kekacauan, ketakutan, dan rasa benci dengan mudah ditebar oleh Kompeni.

Aku menjadi saksi, ikut terbakar bersama para buruh yang melengkapi diri dengan berbagai senjata, membakar habis dua pabrik gula di Meester Cornelis[6] dan Tanah Abang.

Satu purnama[7] sebelumnya[8], seribu laki-laki Cina berkumpul di pabrik gula Gandaria setelah mendengar bahwa Ah-Hia Hoe-kong tidak dapat memberikan jaminan apa-apa terhadap nasib mereka.

Oey Pang-kong[9], pemuda yang kelak dijuluki sebagai Kapitan Sepanjang[10] itu, berdiri di lantai atas. Khe[11] Pang-kong, kepala mandor kuli pabrik gula itu memiliki sorot mata yang tidak bisa tidak diacuhkan. Perawakannya sedang saja, tetapi siapa pun dapat melihat otot-otot ulet yang menonjol di lengannya yang terlihat dari baju kutungnya.

Tidak ada seorang pun yang meragukan pengaruh dan hawa kepemimpinan orang ini. Khe Pang-kong berbicara menyala-nyala, seakan ada letupan api pada setiap kosakatanya, bak ada bara pada semangatnya, seperti ada kekuatan di setiap semangatnya.

Lihat selengkapnya