Perempuan Amuk

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #8

Ni Waikong dan Nie Liankong

Ni Waikong

Ampas tebu sudah mengering terlalu lama, menumpuk tidak hanya di gudang, tetapi juga tersebar bagai sampah di berbagai sudut pabrik. Sudah terlalu lama pula pabrik gula ini tidak menghasilkan banyak. Aku berada di tengah-tengah buruh dan bekas buruh yang sudah menjadi pengangguran semenjak diberhentikan dari pabrik karena terpaksa.

Aku memutuskan untuk ikut terjun ke dalam rencana gerakan ini meskipun sahabat karibku, sang Kapitan Cina, Ah-Koe, tidak berani menjamin bahwa perlawanan kami akan dapat ia bela. Aku dan Ah-ti Liankong, adik kandung sahabatku itu, memutuskan untuk melakukan perjuangan bersama-sama dengan para buruh serta laki-laki Cina yang menderita selama ini di bawah pemerintahan Kompeni.

Obor di tangan kananku kulemparkan ke tumpukan tebu kering. Awalnya aroma tebu yang direbus masih mengambang di udara yang lembab karena tungku perebus telah menyala sejak subuh. Dengan apinya itulah kami menyalakan obor, kemudian mulai membakar segala penjuru.

Bau manis rebusan tebu kini berkelindan dengan aroma gosong, hangus, dan sangit.

Roda gilingan berderit tidak seperti biasa. Para pekerja memang telah memulai pekerjaannya dari dini hari tadi, tetapi sontak meninggalkan apa yang mereka sedang lakukan setelah ratusan orang datang dengan suara seruan lantang, bahkan berteriak-teriak dengan liar. Ratusan senjata teracung ke angkasa. Ada golok kerja, pisau dapur, pentungan kayu, tombak buatan, bedil tua yang biasanya disembunyikan di loteng rumah, sampai keris dan belati berkilat-kilat oleh api yang langsung membesar setelah merambat dari tumpukan ampas tebu kering oleh angin dari timur ke arah jerami, kemudian menyambar balok-balok kayu yang sudah menghitam oleh kala itu.

Suara-suara para pemberontak mengingatkan semua orang mengenai kapal Kompeni yang membawa saudara-saudara mereka pergi dari Betawi, entah untuk diperbudak di negeri lain, entah tewas dibuang ke tengah laut. Mereka juga meneriakkan gambaran keadaan dimana setiap anak yang harus dipaksa bersembunyi ketika serdadu Holanda datang, atau rumah yang ditinggalkan tergesa-gesa untuk menghindari cidukan para prajurit Kompeni. Belum lagi rasa lapar di tiap hari yang terus diancam dengan pajak yang semakin tinggi serta tindakan semena-mena pasukan Kompeni.

Aku menggenggam sebatang dao di tangan kiriku, milik A-kong[1]-ku yang merupakan salah satu pejuang pemberontak kemaharajaan wangsa Qing di Cina daratan sana. Setelah memastikan api merambat ke seluruh ampas tebu, dao kupindahkan ke tangan kanan. Sepasang mataku merekam peristiwa ini, dimana ratusan orang Cina, buruh, bekas buruh, atau para pasukan penggerak pemberontakan ini, menyebar ke segala penjuru pabrik.

Api itu sudah sampai ke dalam dadaku.

Satu pabrik gula di Meester Cornelis ini terbakar sudah.

 

Nie Liankong

Aku tahu serangan pertama berupa pembakaran pabrik gula di Meester Cornelis mungkin sama tepatnya dengan yang terjadi di Tanah Abang ini. Namun, kami membakarnya dari bagian belakang pabrik tempat air kotor dibuang. Karena, bukan begitukah kami, bagai orang-orang buangan belaka?

Api dengan rakus menjalar ke ruang pengeringan dengan cepat, lalu meluncur ke balok-balok utama. Asapnya hitam pekat, tebal, membawa serta bau gula bercampur dengan aroma rambut dan kain yang terbakar.

Bukan perwira tinggi yang muncul terlebih dahulu. Melainkan para penjaga Holanda rendahan, juru tulis, dan mungkin orang-orang Hóngmáo yang berada di saat yang tidak tepat.

Sekali melihat orang-orang berkulit pucat itu, kami meraung-raung kesetanan.

Bagai air bah, para buruh menggilas para Hóngmáo yang mereka lihat.

Lihat selengkapnya