Perempuan Amuk

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #9

Oey Pang-kong

Kelak aku digelari Kompeni Holanda sebagai Kapitan Sepanjang.

Apakah aku bangga? Mungkin juga. Apakah aku merasa memiliki tanggung jawab atas gerakan pemberontakan ini? Tentu saja!

Sebagai seorang mandor buruh-buruh Cina di pabrik gula, aku tahu benar bagaimana penderitaan kaumku.

Aku memang bukan kapitan sesungguhnya seperti seorang Nie Hoe-kong, tetapi aku juga adalah seorang khe, pemimpin kelompok, seorang mandor yang menjaga dan mengatur para buruh Cina.

Kapitan Nie Hoe-kong sudah tak bisa diandalkan. Ia berada di dalam peringkat tinggi di kemasyarakatan Cina, tetapi tetap saja rendah di hadapan Kompeni. Aku yakin, tidak banyak yang bisa ia lakukan untuk mendukung gerakan ini.

Aku harus mengakui bahwa kadangkala budaya, pengetahuan, dan kemajuan memang perlu untuk dibagikan. Para buruh di Betawi ini banyak yang langsung datang dari Cina. Meskipun banyak diantara mereka mengaku bahwa mereka sengaja pergi dari negeri itu karena tidak cocok dengan pemerintahan Qing yang berasal dari bangsa lain, pakaian dan rambut mereka merupakan pengaruh langsung dari orang-orang Manchu tersebut.

Para tetua memuja kebesaran Ming dan merasa bahwa budaya bangsa asing telah mengganggu keagungan peradaban mereka, namun tetap saja changsan[1] adalah pakaian utama mereka. Begitu juga dengan mencukur rambut mereka dengan gaya taucang atau bianzi[2], yang jelas-jelas merupakan bagian dari budaya asing tersebut.

Namun, bagi diriku, hal-hal semacam itu bukan menjadi perkara. Lihat saja ketika bangsa Cina menemukan bubuk api, orang-orang Hóngmáo kemudian mengembangkannya menjadi senjata yang digunakan untuk menindas dan menghancurkan bangsa lain. Maka, menggunakan bedil lantak yang mereka ciptakan untuk kembali melawan mereka, bukanlah sebuah hal yang terlarang.

Bukan saja orang-orang Cina yang terpuruk. Aku tahu benar bahwa orang-orang Jawa juga sudah lama memendam api di dalam sekam. Perlu gerakan besar untuk menyalakan api tersebut hingga membakar. Lihatlah, bukankah sudah kukatakan bahwa berbagi budaya dan saling memahami adalah hal yang baik?

Tidak sedikit kemajuan yang diberikan oleh kemaharajaan Qing di Cina sana. Sama halnya dengan bangsa Holanda yang sedikit banyak menyumbang pada perkembangan negeri dimana aku hidup sekarang ini. Namun, baik Qing maupun Kompeni Holanda tetap memiliki niat dan tindakan sebagai penguasa yang lalim, yang merasa bahwa bangsa mereka lebih besar dibanding bangsa yang mereka taklukkan.

Aku dan ribuan bangsa Han di Betawi tidak mampu lagi menerima penghinaan dan penindasan oleh bangsa asing tersebut, yang mana bisa dikatakan tidak ubahnya dengan bangsa Manchu yang kami hindari sampai harus berlayar jauh dari negeri kelahiran.

Hubungan kami dengan orang-orang Jawa bahkan bisa dikatakan mesra. Kami saling berbagi budaya, saling mempengaruhi, dan saling menolong. Sialnya, ketika di pasar kami bekerjasama dengan baik, Kompeni malah membuat kekisruhan dalam hubungan kami tersebut. Di lapisan atas, mereka membuat seakan-akan orang-orang Cina adalah musuh bagi para pribumi. Bukan hanya bagi orang Jawa, tetapi juga Melayu, Bugis dan Makassar, Bali, sampai orang-orang Ambonia.

Pajak tinggi yang mereka bebankan kepada kami hanyalah lapisan paling dangkal permasalahan ini. Ketidakpercayaan dan rasa iri dengki mereka yang kemudian berubah menjadi penculikan, pembunuhan, dan segala ketidakadilan di dalamnya – termasuk mengadu doma kami dengan orang-orang pribumi – adalah masalah yang lebih menyiksa, yang lebih utama.

Lihat selengkapnya