Laporan terbaru menyebutkan bahwa 16 serdadu VOC tewas di Kaduwang. Keparat-keparat itu membokong pasukan kami dengan cara pengecut. Beramai-ramai, mencacah tubuh orang-orang terhormat bangsa Holanda tanpa ampun.
Sebelumnya, lebih awal kejadian, dua parbik gula sudah dibumihanguskan, juga oleh berandalan berkuncir yang biadab itu. Korban berjatuhan bagai turunnya air hujan.
Kapitan Cina bernama Nie Hoe-kong itu memang bedebah. Ia adalah salah satu dari beberapa tokoh Cina kaya raya yang ditugasi untuk mengatur perilaku kaumnya. Juragan-juragan Cina kaya itu telah memiliki semuanya, dari tanah dan lahan, pabrik gula, rumah mewah, sampai tentu saja keuangan yang cukup malahan berlebihan untuk beberapa keturunan. Mereka bahkan lebih kaya dari orang-orang Holanda di negeri ini.
Di depanku, Nie Hoe-kong bermanis mulut dengan mengatakan bahwa masyarakat Cina menghindari kekerasan. Mereka tidak mungkin melakukan perlawanan bersenjata, apalagi sampai pada pemberontakan. Nyatanya, dua pabrik sudah habis terbakar dan 50 orang Holanda tewas dalam kedua peristiwa tersebut.
Kini ribuan warga Cina bersenjata sudah berkumpul di gerbang benteng kota Batavia[1]. Satu orang Sersan pribumi asal Bali telah dibunuh pula. Keputusanku tidak bisa ditahan-tahan lagi.
Dengan sigap aku mengirimkan 50 serdadu[2] dan beberapa kuli pribumi yang dipersenjatai ke gardu penjagaan di sebelah selatan dan timur kota. Sembari mengirim mereka, aku sudah merencanakan penyerangan balik.
Untuk memadamkan pemberontakan di pabrik gula, 1.800 prajurit yang ditemani dengan schutterij[3] serta sebelas kelompok[4] wajib tempur[5] aku kerahkan. Malam itu juga mereka aku perintahkan untuk melaksanakan jam malam dan membatalkan perayaan tahun baru Cina.
Kekerasan adalah jalan keluarnya.
Pasukanku menyapu semua warga Cina. Mereka diperintahkan merampas segala benda yang memungkinkan untuk dijadikan senjata. Aku tidak bisa begitu saja menyepelekan sepak terjang mereka. Siapa saja sekarang ini adalah rakyat bersenjata yang bisa membahayan kapan saja. Pisau dapur, golok pemotong kayu bakar, bahkan cangkul dan sabit bisa saja dijadikan alat untuk menyerang orang-orang VOC.
Apa yang sudah dikhawatirkan bertahun-tahun lalu terjadi sudah. Kuli dan buruh-buruh Cina yang digerakkan secara terencana itu sudah memulai serangan ke benteng. Jelas sekali mereka menyasar rumah-rumah para pejabat Kompeni serta bangunan-bangunan pemerintahan.
Mereka mencoba mendobrak gerbang benteng Batavia dengan balok-balok kayu yang disodok bersama-sama.
Beragam senjata tajam yang aku tahu pasti mereka buat sendiri teracung ke udara. Teriakan-teriakan liar menggemuruh di balik benteng. Beberapa pasukan penjaga mulai terluka karena mereka mulai menembak dengan menggunakan bedil yang sepertinya sudah mereka simpan dan selundupkan sedari lama.
Beberapa kali letusan bedil dari arah para perusuh itu terus diarahkan ke para penjaga yang berlindung di balik bilik penjagaan di atas benteng. Mereka juga melemparkan bebatuan dan barang-barang keras lainnya yang dapat melukai bahan membunuh para prajurit.
Tak lama, bagai kumpulan semut yang diasapi, satu kumpulan pemberontak bubar ketika pasukan Holanda menyerang balik. Serangan prajurit VOC tentu lebih terencana dan teratur. Tembakan mereka terarah. Langsung saja para bandit tak tahu diri itu berjatuhan seperti rerumputan yang ditebas.
Suasana menjadi semakin riuh.
Teriakan semangat dan perintah dari para pemimpin lapangan pemberontak mengumandang sehingga mereka tak berhenti melakukan serangan, tak undur hanya dengan tumbangnya beberapa buruh. Aku rasa begitu pikir mereka.