Perempuan Amuk

Nikodemus Yudho Sulistyo
Chapter #11

Gustaaf Willem Baron van Imhoff

Ruang Raad van Indië terasa lebih pengap dibanding biasanya. Di luar, angin membawa bau sungai yang khas bersama aroma gula yang membusuk. Karena hujan belum turun selama entah berapa hari, bebebauan ciri Batavia ini semakin kentara. Belum lagi lumpur hitam yang ditinggalkan di parit-parit yang mengitari kota, semakin menambah rasa sumpekku.

Pandanganku menembus keluar jendela-jendala tinggi berdaun kayu, menyentuhi atap-atap merah kota yang tersusun rapi seperti papan catur.

Aku ingat saat itu aku mengesah. Harusnya ada hal yang lebih baik bisa dilakukan untuk menanggulangi permasalahan yang sudah menggumpal dan siap meledak seperti bisul.

Awal tahun 1740 ini, gesekan antara diriku dan Gubernur Jenderal yang memimpin Batavia sekarang, Adriaan Valckenier, sudah semakin membesar. Tidak heran bila api akibat gesekan itu menyala sejenak kemudian.

Ular beludak itu membuatku terpaksa ikut campur di dalam permasalah dengan orang-orang Cina yang memberontak. Mereka menyerang benteng, yang mana, tentu saja harus aku pertahankan. Bersama van Aerden, dentuman meriam berhasil meluluhlantakkan gempuran lawan, mengirim para kuli dan buruh Cina itu ke neraka.

Dan itu sama sekali belum usai. Pembantaian yang dilakukan setelahnya, adalah yang terburuk di dalam catatan sejarah dunia.

Meja besar yang terbuat dari bahan kayu jati asli itu berdiri mengangkang di tengah ruangan. Salinan kertas-kertas berisi daftar nama-nama orang Cina yang ada di Batavia tanpa izin, laporan kebun dan pabrik gula yang pailit, serta laporan pengiriman kapal ke Ceylon[1], bertumpuk di atasnya. 

Adriaan Valckenier duduk di ujung meja.

Hari itu aku ingat benar dengan busana yang ia kenakan, setelan jubah panjang merah terang melapisi dan menimpa rompi abu-abu gelap di dalamnya. Pembungkus kaki kulit hitam berkilap dan gesper perak menyempurnakan penampilannya sebagai sesosok pejabat tinggi Batavia. Rambut palsu putih berombak yang ia kenakan mengesankan wajah seekor domba bagiku. Sepasang pipinya penuh sedangkan keningnya lebar. Untung dia tidak membek, “Baaa …, baaa …” Aku sudah pastikan bahwa kami memiliki perasaan yang sama mengenai udara di negeri ini, panas, tidak bersahabat dengan kain wol dari negara kami berasal.

Sayangnya itu satu-satunya persamaan kami dan satu-satunya hal yang kami setujui.

“Jumlah orang Cina yang tinggal tanpa izin di Ommelanden[2] sudah melebihi kewajaran. Padat dan berantakan. Tidak hanya tinggal, mereka tidak bekerja tetap, kadang malah kebanyakan menganggur. Kerjaan mereka berkumpul, minum arak, dan paling parah, mereka juga bersenjata,” ujar Valckenier sembari menunjuk ke arah salinan laporan yang bertumpuk di atas meja.

“Penyebabnya?” kataku kuusahakan agar tak terdengar ketus.

“Kelebihan jiwa, kelebihan kebun gula, dan kelebihan tangan yang tidak kita butuhkan lagi,” balasnya setelah menatapku singkat.

Aku membuka wadah kertas dari kulit yang kubawa sendiri.

“Penghasilan gula turun bukan karena jumlah mereka,” ujarku. “De Europeesche markt[3] sudah jenuh. Ini yang membuat harga gula jatuh. Begitulah putaran dagang.”

Valckenier tidak langsung menjawab. Ia menyentuh ujung meja dengan jari-jarinya. Berani sumpah aku melihat ada seringai tipis, cemooh, yang luar biasa samar menghiasi wajahnya. Kalau tidak sedang rapat denganku, ia mungkin akan terkekeh.

Lihat selengkapnya