Perempuan Asap Rokok

Rafdi Akbar
Chapter #1

Perempuan Asap Rokok #1

Seperti sebidang puzzle yang terdiri dari banyak kepingan-kepingan.

Seperti itu pula cara kerja memori otak kita.

Butuh semua kepingan untuk menjadikannya utuh.

Saat ini aku nggak tahu, sudah berapa jauh aku berjalan.

Lutut dan betisku sudah sangat letih. Telapak kaki ku juga mulai terasa perih.

Tanpa sadar, dari tadi aku berjalan tanpa alas kaki.

Darah yang mengering di telapak kaki pun mulai meninggalkan rasa nyeri.

Tapi aku tak mau berhenti sekarang.

Karena sedikit lagi, beberapa mil di depan, aku akan menemuimu Nayla.

Aku menujumu, kepingan memoriku yang tersisa.


Hey, iya kamu


Masih ingat pertemuan kita?


Asapku membias wajah indahmu


Dan tawa yang selalu menyertai


Saat kuingat semua itu.


====================================


"Sial banget hari ini!"


Raffi menendang ban motornya dengan kesal.


"Udah pulang kuliah malam, si Jupe ini pakai acara ngambek segala lagi! Kalau aja nggak sayang, udah gue bakar dari tadi biar nyala!"


Ia terduduk lemas di samping motor kesayangannya. Kedua tangannya penuh oli. Berkali-kali ia mencoba memperbaiki motornya, tetapi tidak ada perubahan berarti. Motor itu tetap diam seribu bahasa, seolah-olah sedang menertawakan pemiliknya yang sama sekali tidak mengerti persoalan otomotif begini.


Pada akhirnya, Raffi menyerah juga.


Dengan berat hati, ia menuntun motor yang tidak menunjukkan sedikit pun rasa simpati kepada tuannya. Langkahnya terhenti sesaat ketika terbayang sosok satpam kampus yang dijuluki anak-anak kampus sebagai "Mr. Dollar". Bukan karena ia punya banyak uang atau dia blasteran, melainkan berurusan dengannya, sudah pasti berurusan dengan yang namanya uang.


"Mohon bersabar, ini ujian," gumamnya sambil menghela napas.


Ia kembali berjalan mendekati pos satpam.


"Jaga diri baik-baik, ya, Jupe. Love you," ucapnya kepada motor kesayangannya sebelum meninggalkannya di dekat pos.


Tak jauh dari sana, Bang Usup, si Mr. Dollar, sudah terlihat tersenyum penuh arti. Senyum yang makin buat Raffi ngerasa buruk.


Belum sempat lagi Raffi membuka mulut, Bang Usup lebih dulu menyela.


"Mas, kalau mau nitip motor di sini, saya harap mas pengertiannya. Saya cuma manusia biasa. Butuh rokok, butuh ngopi juga buat jaga malam. Jadi, ya, ehm... gimana, ya, bilangnya?"


Lihat selengkapnya