Pagi kembali datang lagi. Matahari mulai mengintip dari balik jendela, tetapi Raffi masih sibuk dengan ritual wajibnya setiap bangun tidur: meraih ponsel, memeriksa pesan, membuka media sosial, lalu berharap ada keajaiban di layar.
Siapa tahu ada pesan masuk.
Met pagi, sayang...
Atau setidaknya pesan dari seseorang yang salah kirim.
Sayangnya, tidak ada.
Notifikasi yang menunggunya cuma tiga: promo diskon sarung dari toko online, pengingat tugas kuliah yang belum ia sentuh, dan satu stiker dari grup kelas yang bahkan tidak ia mengerti artinya.
"Ah, nasib jomblo," gumam Raffi.
Ia meletakkan ponsel di atas dada, menatap langit-langit kamar, lalu ingat kejadian semalam.
Perempuan itu.
Wajahnya kembali muncul di kepala Raffi. Topi merah mudanya, tatapan matanya, dan cara dia memarahinya gara-gara asap rokok. Anehnya, omelan itu justru terasa menyenangkan di telinga Raffi. Seperti alunan saksofon Kenny G-lembut, merdu, dan membuatnya ingin mendengarkannya lagi.
Belum lagi senyum Pepsodent-nya itu.
Raffi tersenyum geli sendiri.
"Gila, Fi. Baru ketemu sekali doang, udah begini lo."
Matanya beralih ke vas bunga di sudut kamar. Isinya bukan bunga layaknya vas pada umumnya, melainkan beberapa kaus kaki yang ia gulung dan tancapkan seperti rangkaian bunga plastik.
"Setidaknya bunga gue ini nggak akan pernah layu," katanya membela diri.
Ia kemudian bangkit dari tempat tidur dan meraih handuk yang terselip di bawah ranjang. Namun, sebelum melangkah ke kamar mandi, ia berhenti.
Satu pertanyaan besar memenuhi benaknya.
Bagaimana caranya menemukan perempuan itu lagi?
Ia tidak tahu nama perempuan itu. Tidak tahu alamatnya. Tidak punya nomor teleponnya. Bahkan, ia tidak sempat bertanya apa pun karena terlalu sibuk terpesona.
"Hebat lo, Fi. Ketemu perempuan secantik itu, tapi pulangnya cuma bawa asap rokok."
Ia mondar-mandir di kamar sambil berpikir. Sesekali duduk, lalu berdiri lagi. Sesekali menatap ponsel, seolah-olah perempuan itu tiba-tiba akan muncul secara ajaib di daftar kontaknya.
Beberapa ide sempat melintas, lalu gugur satu per satu.
Bertanya ke Bang Usup? Mustahil. Satpam itu pasti menagih biaya informasi, dan Raffi sudah cukup kenyang membayar uang rokok, uang gula, serta uang "pengertian" kemarin malam. Lagian dia mana mungkin kenal cewek random yang naik angkot.
Bikin unggahan di media sosial? "Dicari: perempuan bertopi merah muda yang pandai mengomel." Raffi membayangkan seluruh kampus menertawakannya, dan Rahmat tentu akan menjadi orang pertama yang menyebarkannya.
Berdiri di tengah jalan sambil membawa papan bertuliskan "Mbak topi merah jambu, tolong temui gue"? Ia langsung menggeleng. Itu terlalu mirip orang yang kehilangan akal, bukan orang yang kehilangan perempuan.
Setelah berpikir cukup lama, akhirnya sebuah ide muncul.
"Angkot!"
Raffi menjentikkan jari.
"Gue kan ketemu dia di angkot. Berarti gue harus naik angkot lagi, di jam yang sama. Siapa tahu dia naik angkot yang sama juga."
Ia mengangguk-angguk, puas dengan rencananya sendiri.
"Gue lakuin itu selama tiga hari. Kalau ketemu, berarti usaha gue berhasil. Kalau nggak ketemu..." Ia terdiam sebentar. "Ya, berarti gue harus mikir lagi."
Raffi tersenyum lebar.