Raffi tiba di kampus dengan semangat yang tidak biasa. Biasanya, ia datang dengan wajah kusut, rambut berantakan, dan langkah orang yang merasa hidup terlalu berat untuk dijalani sebelum jam sepuluh pagi.
Namun, hari ini berbeda.
Senyumnya lebar. Langkahnya ringan. Bahkan, ia merasa dunia terlihat lebih indah daripada biasanya.
"Pagi, Mang Didin!"
Petugas kebersihan yang sedang menyapu halaman kampus itu menoleh heran.
"Eh, pagi, Fi. Tumben pagi-pagi sudah ceria."
"Namanya juga hidup, Mang. Harus dinikmati!"
Raffi melanjutkan langkahnya.
"Pagi, Bu Ayu!"
Ibu kantin yang sedang menyiapkan dagangan mengangkat wajah.
"Pagi, Raffi. Mau sarapan?"
"Nanti, Bu. Doakan saja saya sukses hari ini."
"Sukses apaan lagi?"
"Rahasia negara, Bu!"
Ia tertawa sendiri lalu berjalan lagi.
"Asep! Pagi!"
Asep, yang sedang mencuci peralatan dapur di belakang kantin, hanya melirik sekilas.
"Pagi. Kesambet apa lo?"
"Kesambet kebahagiaan, Sep!"
"Kurang-kurangi merokok, Fi. Bisa-bisa otak lo makin aneh."
Raffi mengacungkan jempol dan berlalu tanpa merasa tersinggung.
Ia menyapa Pak Budi, menyapa Miss Ratna, menyapa Pak Alam, bahkan sempat mengucapkan selamat pagi kepada benda-benda yang dilewatinya.
"Pagi, pohon. Pagi, tiang. Pagi, tempat sampah. Semoga kalian semua sehat selalu."
Beberapa mahasiswa yang mendengarnya menoleh dengan ekspresi bingung.
Raffi tidak peduli. Baginya, pagi itu semua makhluk berhak mendapatkan sapaan.
Termasuk tempat sampah.
Di dalam kelas, Raffi berjalan melewati deretan bangku dengan gaya bak selebritas yang baru tiba di lokasi syuting.
"Pagi, para ladies yang begitu cantik hari ini. Aa' mau lewat dulu, yah. Permisi."
Beberapa mahasiswi langsung menggelengkan kepala. Ada yang tertawa, ada pula yang melemparkan tatapan malas.
Raffi justru semakin percaya diri.
Ia duduk, membuka buku, lalu mulai membaca materi kuliah.
Ya, membaca.
Sungguh pemandangan langka.
Biasanya, buku hanya menjadi alas tidur atau properti agar ia terlihat seperti mahasiswa yang sedang belajar. Namun, pagi itu ia benar-benar membaca sampai beberapa halaman.
Tak lama kemudian, Rahmat datang.
Sahabatnya itu berhenti di samping bangku, menatap Raffi yang sedang serius membaca, lalu memeriksa wajahnya seolah-olah sedang memastikan bahwa orang di depannya benar-benar Raffi.
"Pagi, Mat," sapa Raffi tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
Rahmat mengernyit.
"Pagi?"
"Iya, pagi."
Rahmat menarik kursi dan duduk di sebelahnya.
"Siapa lo?"
Raffi akhirnya menoleh. "Hah?"
"Jangan pura-pura. Lo siapa? Temen gue yang asli mana?"
"Mat, lo sudah sarapan belum?"
Rahmat langsung menjauhkan kursinya sedikit.
"Waduh. Makin parah. Biasanya lo datang telat, tidur di kelas, atau sibuk main game. Sekarang malah belajar dan menyapa orang. Jangan-jangan lo kerasukan setan martabak!"