Perempuan Asap Rokok

Rafdi Akbar
Chapter #4

2nd Day #4

"Gimana tadi malam, Fi? Ketemu?"


Rahmat bertanya kepada Raffi di tengah sesi pemanasan olahraga pagi itu.


Raffi menghela napas panjang.


"Belum, Mat."


Ia menatap kosong ke tengah lapangan. Wajahnya menunjukkan kekecewaan yang tidak bisa disembunyikan.


"Berapa angkot yang lo periksa?"


"Dua puluh. Tiga di antaranya cuma isi ibu-ibu bawa ayam."


"Ayamnya cantik nggak?"


"MAT!"


Rahmat yang melihatnya jadi tidak tega.


"Sudahlah, bray. Baru hari pertama juga. Masih ada hari lain."


Raffi menoleh.


"Gue bukan kecewa, Mat, tapi..."


"Tapi apa?


"Gue kebelet boker, Mat!"


Belum sempat Rahmat menjawab, Raffi langsung berlari menuju toilet.


"WOY! KAMPRET! DARI TADI KENAPA NGGAK BILANG?!


Rahmat melempar botol air mineral bergambar Hello Kitty ke arah Raffi, tetapi lemparannya meleset.


"Dasar lo ya Fi!"


Ia mendengus, lalu mengambil kembali botol itu. Botol tersebut milik Lisa, yang tadi meninggalkannya di bangku setelah latihan. Rahmat mengambilnya agar tidak hilang, tetapi kini malah menjadikannya senjata lempar.


Rahmat menatap botol itu sesaat.


Lisa memang cantik, dan Rahmat paham betul kenapa Raffi mengejarnya sejak awal kuliah. Tapi ia juga melihat hasilnya: Raffi yang capek, Lisa yang tidak pernah berubah.


Di dekat toilet, Raffi berlari dengan kecepatan yang bahkan bisa mengalahkan mahasiswa yang sedang mengejar dosen untuk meminta tanda tangan kehadiran.


Namun, tepat ketika berbelok, tubuhnya menabrak seseorang.


"ADUH!"


Seorang perempuan terjatuh.


Raffi berhenti mendadak.


"Eh, maaf! Maaf banget!"


Ia segera membantu perempuan itu berdiri.


Ternyata Lisa.


"Hehehe, sorry, Lis. Gue nggak lihat ada lo tadi."


Lisa membersihkan pakaiannya sambil mengerutkan kening.


"Fi, kalau jalan itu lihat-lihat dong!"


"Iya, iya. Maaf, Lis."


Raffi ingin segera melanjutkan perjalanannya ke toilet. Namun, baru beberapa langkah, tangan Lisa menahannya.


"Hey, Fi!"


Raffi menoleh dengan wajah tegang.


"Kenapa, Lis?"


"Lo jadi cowok nggak peduli banget, sih. Bantuin gue jalan dong ke sana."


Lisa menunjuk sebuah bangku di pinggir lapangan.


Raffi melirik bangku itu, kemudian melirik toilet. Wajahnya mulai pucat.


"Ta..ta..tapi... Lis."


"Nggak ada tapi-tapian! Buruan bantuin gue jalan."


Lisa merangkulkan tangannya ke bahu Raffi, seolah-olah mengharapkan dirinya digendong.


Raffi berusaha melepaskan diri.


"Please, Lis. Lepasin gue dulu sekarang. Gue... gue..."


Ia menahan napas. Keringat perlahan mulai membasahi dahinya. Perutnya terasa seperti sedang menggelar demonstrasi besar-besaran.


"Raffi!!!"


Lihat selengkapnya