Perempuan Asap Rokok

Rafdi Akbar
Chapter #5

Last Day #5

Hari ketiga.


Bagi sebagian orang, hari ini mungkin sama saja dengan hari-hari sebelumnya. Matahari terbit, orang-orang berangkat bekerja, mahasiswa pergi kuliah, dan angkot tetap setia menunggu penumpang yang sering kali tidak setia membayar dengan uang pas.


Namun, bagi Raffi, hari ini terasa seperti babak penentuan.


Tiga hari. Itu batas waktu yang ia tetapkan sendiri untuk mencari perempuan bertopi merah muda yang telah mengacaukan pikirannya sejak pertemuan pertama mereka.


Dua hari berlalu tanpa hasil.


Hari pertama, dua puluh angkot telah ia periksa. Hari kedua, tiga puluh angkot lewat di depan matanya, tetapi perempuan itu tak kunjung muncul.


Kalau saja ada hadiah untuk orang paling tekun menghitung angkot tanpa tujuan yang jelas, Raffi mungkin sudah naik podium.


Sayangnya, tidak ada hadiah. Bahkan tidak ada sertifikat.


Yang ada hanya Rahmat, sahabatnya yang semakin yakin bahwa Raffi telah kehilangan sebagian besar akal sehatnya.


"Fi, gue mau tanya," kata Rahmat saat mereka berjalan keluar dari area kampus.


"Tanya aja."


"Kalau sampai hari ini lo nggak ketemu juga, apa rencana lo?"


Raffi memasukkan kedua tangan ke saku celana.


"Gue belum tahu."


"Bagus. Setidaknya lo konsisten."


"Apaan?"


"Dari awal sampai sekarang, rencana lo memang tidak pernah jelas."


Raffi mendengus. "Lo ini sahabat apa komentator hidup gue?"


"Dua-duanya. Bedanya, kalau komentator dibayar, gue masih gratis."


Raffi tertawa kecil. Ia sudah terbiasa dengan ocehan Rahmat. Di antara semua orang yang mengenalnya, Rahmat mungkin satu-satunya yang bisa menghinanya sambil membuatnya merasa ditemani.


"Satu saran gue Fi. Kalau lo ketemu dia, jangan langsung bahas asap rokok."


"Gue bukan anak kecil."


"Lo pernah nanya ke tukang bakso kenapa baksonya bulat."


"Itu rasa ingin tahu ilmiah!"


"Itu rasa ingin tahu yang bikin si tukang bakso hampir tutup warung."


Raffi hanya membalas ucapan Rahmat dengan tawanya yang khas.


Mereka berpisah di dekat tempat parkir. Rahmat harus mengurus sesuatu, sedangkan Raffi masih punya waktu sebelum jam yang biasa ia gunakan untuk mencari angkot itu.


Ucapan Rahmat tentang tukang bakso terus terngiang, dan untuk pertama kalinya ia mulai meragukan semua kalimat pembuka yang ia susun di kepalanya.


Sepanjang hari tadi, ia mencoba menyibukkan diri. Ia mengikuti kuliah, mencatat beberapa hal, bahkan berusaha memperhatikan penjelasan dosen.


Namun, setiap kali pikirannya melayang, yang muncul justru wajah perempuan itu.


Topi merah muda.


Tatapan kesal.


Omelan panjang yang entah bagaimana terdengar menyenangkan di telinganya.

Lihat selengkapnya