"Jadi, kamu memang menunggu angkot?" tanya perempuan bertopi merah muda itu.
Raffi mengangguk. "Iya."
"Dari tadi?"
"Lumayan."
Perempuan itu melirik bangku tempat Raffi duduk tadi. "Kamu kelihatan seperti orang yang sedang menunggu seseorang."
Raffi hampir menjawab bahwa orang yang ditunggunya berdiri tepat di depannya. Untunglah, otaknya sempat bekerja sebelum mulutnya mendahului.
"Memang," katanya. "Tapi orangnya belum tentu datang."
"Lalu kenapa masih menunggu?"
Raffi mengangkat bahu. "Kadang-kadang, kalau sesuatu cukup penting, kita ingin mencoba sedikit lebih lama."
Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia menatap Raffi dengan ekspresi yang sulit dibaca, kemudian mengalihkan pandangan ke jalan.
Raffi sendiri terkejut mendengar kalimat yang baru saja keluar dari mulutnya. Kedengarannya bijaksana. Padahal, kalau dipikir-pikir, ia hanya sedang berusaha mencari alasan agar tidak terlihat seperti pengangguran yang duduk di pinggir jalan.
Untuk memecah keheningan, ia menunjuk angkot yang sudah menjauh.
"Kalau kamu mau, kita bisa naik angkot berikutnya."
Perempuan itu menoleh. "Kita?"
"Maksud saya, kalau tujuan kita searah."
"Kamu tahu tujuan saya?"
Raffi terdiam.
"Belum."
Perempuan itu tertawa lagi. "Kamu memang aneh."
"Sudah sering dengar itu."
"Dari siapa?"
"Teman saya. Dosen saya. Ibu saya. Kadang-kadang juga dari diri saya sendiri."
Perempuan itu menggeleng sambil tersenyum.
Angkot berikutnya datang beberapa menit kemudian. Perempuan itu naik lebih dulu, dan Raffi menyusul setelah memastikan mereka menuju arah yang sama. Ia memilih duduk dengan jarak yang cukup, tidak ingin membuat perempuan itu merasa terganggu.
Di dalam, lampu kuning angkot berkedip redup. Sopirnya memutar lagu dangdut dengan volume yang terlalu ramah untuk telinga, seorang ibu memeluk kantong belanjaan di pangkuannya, dan seorang anak sekolah tertidur dengan kepala bersandar di jendela. Raffi menarik napas pelan. Ia sudah menunggu tiga hari untuk duduk di angkot seperti ini, tetapi tiba-tiba tidak tahu harus meletakkan tangannya di mana.
Ketika angkot mulai bergerak, Raffi teringat satu hal yang selama dua hari terakhir terus ia sesali.
Rokok.
Tangannya meraba saku baju, menemukan bungkus rokok yang biasa ia bawa. Ia mengeluarkannya, memandangnya sejenak, lalu memasukkannya kembali tanpa menyalakan sebatang pun.
Perempuan itu memperhatikan gerakannya.
"Nggak jadi ngerokok?"
Raffi menoleh. "Lagi nggak pengen."
"Tumben."
"Memangnya saya kelihatan seperti orang yang selalu merokok?"
Perempuan itu menatapnya tanpa ekspresi.
Raffi menghela napas. "Oke, pertanyaan bodoh. Saya tahu."
"Setidaknya kamu ingat kalau asap rokok bisa mengganggu orang lain."
Raffi mengangguk. Kali ini ia tidak mencoba mengubah teguran itu menjadi bahan lelucon.