Raffi pulang dengan senyum yang susah dijelaskan. Malam itu, Rahmat sudah mampir ke rumahnya dan menunggu di kamar.
Sepanjang gang menuju rumah, ia hampir tidak merasakan langkahnya sendiri. Penjual nasi goreng di ujung gang sempat menyapa, dan Raffi membalas dengan lambaian tangan serta senyum selebar spanduk kampanye. Penjual itu hanya menggeleng pelan, mungkin mengira pemuda itu baru saja memenangkan undian.
Ibu Raffi yang membukakan pintu sempat mengernyit melihat anaknya.
"Kamu kenapa, Fi? Habis nemu dompet?"
"Lebih bagus dari itu, Mak."
"Awas lho, jangan senyum-senyum begitu di jalan. Nanti orang kira kamu kurang waras."
Raffi sudah menaiki tangga dua-dua sebelum Ibu sempat menambahkan ceramah berikutnya.
Bukan senyum orang yang baru menerima uang kiriman. Bukan pula senyum orang yang berhasil lolos dari dosen killer setelah lupa mengerjakan tugas.
Ini senyum yang membuat Rahmat, begitu melihatnya, langsung curiga.
"Lo kenapa?"
"Gue ketemu dia lagi."
Rahmat menurunkan ponselnya. "Siapa?"
"Perempuan asap rokok."
"Oh." Rahmat mengangguk. "Gue kira lo baru saja menemukan obat buat penyakit aneh lo."
Raffi melempar bantal ke arahnya.
"Namanya Nayla," kata Raffi, tak bisa menyembunyikan senyumnya.
Rahmat menatapnya beberapa saat. "Jadi sekarang dia bukan cuma perempuan bertopi merah muda?"
"Bukan."
"Sudah tahu namanya?"
"Sudah. Nayla."
"Dia tahu nama lo?"
Raffi terdiam.
Rahmat menghela napas dramatis. "Luar biasa. Kemajuan satu langkah, kemunduran setengah langkah."
"Gue sudah memperkenalkan diri!"
"Hampir. Separuh nama gue ketelan klakson truk."
"Jadi dia kenal lo sebagai 'Raf'?"
"...Mungkin."
"Bagus. Berarti kalau ketemu lagi, dia bisa memanggil lo dengan nama, bukan 'hei, cowok aneh'."
Raffi mengambil bantal kedua, tetapi kali ini ia hanya memeluknya sambil duduk di tepi tempat tidur.
"Nayla," katanya lagi.
Rahmat menggeleng. "Lo sudah menyebut nama itu lima kali sejak masuk kamar."
"Baru tiga."
"Gue hitung tujuh."
"Berarti lo terlalu memperhatikan gue."