Perempuan Asap Rokok

Rafdi Akbar
Chapter #8

Hal Kecil yang Berubah #8

Beberapa hari setelah pertemuannya dengan Nayla, Raffi kembali menjalani rutinitas seperti biasa.


Ia terlambat bangun, hampir lupa membawa tugas, dan harus berdebat dengan Jupe sebelum akhirnya berhasil menyalakan motornya.


Pagi itu, Jupe mogok untuk ketiga kalinya dalam seminggu. Raffi menendang starter sekali, dua kali, lalu sepuluh kali, sambil membujuk motor itu dengan kalimat yang sama sekali tidak pantas didengar tetangga. Baru setelah ia berjanji akan memandikan Jupe akhir pekan nanti, mesin itu terbatuk, menggeram, dan akhirnya menyala.


"Nah, gitu dong," katanya, lalu menepuk tangki motornya. "Tapi minggu ini kita tetap ke bengkel. Jangan geer."


Pak Hasan, tetangga yang sedang menyiram tanaman, hanya menggeleng. "Motor kamu itu butuh dokter, Fi, bukan bujukan."


"Doa juga sudah, Pak."


Sebelum berangkat, Mak sempat memanggilnya dari dapur.


"Fi, bungkus rokok di tasmu kok masih penuh? Kamu sakit?"


"Lagi ngurangin, Mak."


"Alhamdulillah." Mak menyipit curiga. "Siapa yang ngajarin?"


"Nggak ada yang ngajarin."


"Hm."


Mak tidak bertanya lagi. Tetapi senyumnya sepanjang Raffi menyeruput teh tadi terlihat seperti orang yang baru memenangkan sesuatu.


Selepas menghabiskan sarapannya, Raffi pamit dan langsung meluncur membelah jalanan ditemani si Jupe.


Sepanjang jalan, ia sengaja memperlambat laju motor di tikungan yang biasanya ia lewati sambil menyalip. Ia tidak tahu kenapa. Mungkin karena seseorang pernah memarahinya agar lebih memperhatikan orang di sekitarnya.


Setibanya di kampus, Rahmat tetap menjadi orang pertama yang mengomentari rambutnya yang berantakan.


"Lo habis berantem sama bantal?"


"Bantal gue yang mulai duluan."


"Kasihan. Bahkan bantal pun nggak tahan sama lo."


Ketika melihat seorang mahasiswa di meja sebelah mulai batuk karena asap rokoknya, Raffi bergeser menjauh dan mematikan rokok yang baru dinyalakannya.


Ia bahkan membelikan sebotol air mineral untuk mahasiswa itu, lalu meletakkannya di meja tanpa banyak bicara. Mahasiswa itu menatap botolnya, lalu menatap Raffi dengan bingung.


"Buat lo. Maaf soal asapnya."


"Eh... makasih, Bang."


Rahmat memperhatikan.


"Tumben."


"Apa?"


"Lo sadar ada orang lain di sekitar lo."


Raffi menatapnya datar. "Gue selalu sadar."


"Lo pernah berjalan sambil nabrak tiang."


"Itu tiangnya yang berdiri di jalur gue."


Rahmat tertawa.


Tidak lama kemudian, Lisa melintas di dekat meja mereka, bersama dua temannya. Dulu, Raffi pasti sudah menegakkan punggung, merapikan rambut, dan menyiapkan tiga kalimat pembuka yang semuanya akan gagal.

Lihat selengkapnya