Beberapa hari telah berlalu tanpa pertemuan baru.
Raffi tidak kembali berjaga di halte sampai malam. Ia menjalani kuliah, mengurus Jupe yang kembali bermasalah, dan sesekali masih memikirkan Nayla ketika naik angkot. Ia tidak tahu apakah akan bertemu perempuan itu lagi, tetapi ia mulai menerima bahwa ia tidak bisa mengatur semuanya.
Pada hari lainnya, Jupe mogok di depan tempat fotokopi, dan Raffi mendorongnya sejauh dua ratus meter sambil dikomentari tiga orang berbeda yang semuanya merasa lebih paham mesin daripada montir.
Rahmat yang bertanya setiap hari seperti penyiar ramalan cuaca: "Ketemu?"
"Belum." "Besok mungkin hujan."
"Itu bukan jawaban buat pertanyaan gue."
Rutinitas yang kini ia harus jalani setiap hari.
Kadang setiap kali melihat topi merah muda di jalan, jantungnya masih berdegup sedikit lebih cepat. Bedanya, kini ia cukup mengingatkan diri sendiri, Bukan dia, Fi, lalu melanjutkan hidup tanpa menoleh dua kali. Itu kemajuan kecil yang tidak akan dirayakan siapa pun.
Pada sore hari lainnya, setelah menyelesaikan urusan di kampus, Raffi berjalan menuju halte untuk pulang. Langit mendung, dan udara berbau tanah basah yang selalu muncul sebelum hujan turun.
Ia baru keluar dari perpustakaan setelah dua jam menyelesaikan tugas yang biasanya baru ia kerjakan semalam sebelum tenggat. Untuk ukuran Raffi, itu hampir terasa seperti prestasi nasional.
"Eh!"
Ia menoleh.
Nayla berdiri tidak jauh dari bangku halte, masih mengenakan topi merah mudanya. Sebuah tas tersampir di bahunya. Wajahnya menunjukkan ekspresi heran sekaligus geli.
"Kamu lagi?" katanya.
Raffi menunjuk dirinya sendiri. "Saya?"
"Bukan. Tiang lampu di belakang kamu."
Raffi tertawa. "Wah, ternyata kamu bisa bercanda juga."
"Memangnya saya kelihatan seperti apa?"
"Seperti orang yang kalau marah bisa bikin satu angkot diam semua."
Nayla menggeleng, tetapi sudut bibirnya terangkat.
"Itu pujian atau hinaan?"
"Pujian. Dengan sedikit rasa takut."
Tampak Nayla kembali menyembunyikan tawa kecilnya itu.
Mereka menunggu angkot yang sama.
Kali ini, Raffi tidak buru-buru mengisi keheningan. Ia membiarkan Nayla melihat jalan, sementara ia memperhatikan kendaraan yang lewat. Sesekali mereka bertukar komentar tentang lalu lintas yang macet dan sopir angkot yang berhenti terlalu lama untuk menunggu penumpang.
Gerimis mulai turun, dan mereka bergeser ke bawah atap halte yang sempit. Seekor kucing oren yang entah muncul dari mana melompat ke bangku, lalu duduk tepat di antara mereka seperti penengah yang tidak diminta.
"Kamu kenal kucing ini?" tanya Nayla sambil mengelus kepalanya.
"Itu kucing halte. Namanya Pak Ogah."
"Kamu yang kasih nama?"
"Dia yang minta. Dia selalu duduk di tengah, seolah-olah sedang mengatur lalu lintas."
Raffi merogoh tasnya dan mengeluarkan sepotong tahu isi yang sudah dingin dari bungkus plastik. "Jatah makan siang gue." Pak Ogah menyambarnya dalam dua detik.
"Wah. Pengorbanan."
"Investasi. Kalau nanti gue punya bakso, dia pasti ingat."