Warung gorengan di dekat kampus itu sudah ramai sejak sore. Rahmat memesan bakwan, tahu isi, dan pisang goreng, seolah-olah makanan adalah satu-satunya cara menyelesaikan masalah Raffi.
"Jadi, dia nggak ngasih Lo nomor hp nya?"
Rahmat mengunyah gorengan sambil menatap Raffi.
"Nggak."
"Dan lo nggak maksa?"
"Nggak."
Rahmat mengangguk. "Bagus."
Raffi menatapnya curiga. "Cuma begitu?"
"Lo mau gue bikin pidato?"
"Biasanya lo punya minimal lima hinaan."
"Gue simpan buat keadaan darurat."
Raffi tertawa kecil, lalu menceritakan bagaimana Nayla menolak dengan sopan. Ia mengakui bahwa dirinya kecewa, meski ia tahu Nayla tidak melakukan kesalahan apa pun.
Rahmat mendengarkan sambil menghabiskan gorengannya.
"Lo masih mau ketemu dia?" tanyanya.
"Masih."
"Kalau ketemu lagi, ya ngobrol lagi."
Raffi mengaduk minumannya. "Kalau nggak ketemu?"
"Ya hidup lo tetap jalan."
Jawaban itu sederhana. Biasanya Raffi akan membalasnya dengan lelucon, tetapi kali ini ia hanya mengangguk.
Asbak di tengah meja masih kosong. Bungkus rokok Raffi tergeletak di samping gelasnya tanpa tersentuh, dan Rahmat sempat meliriknya dua kali, seperti menunggu sesuatu yang tidak kunjung terjadi.
"Kapan terakhir lo ngerokok?"
"Kemarin sore. Satu batang, dan gue matiin di tengah."
"Lo kayak anak SD yang baru belajar naik sepeda."
"Yang penting nggak jatuh."
"Lo tahu bedanya orang yang ditolak sama orang yang nggak pernah nanya?" kata Rahmat akhirnya.
"Apa?"
"Yang ditolak setidaknya sudah berani nanya."
Raffi mendengus. "Itu penghiburan atau hinaan?"
"Dua-duanya. Gue lagi hemat kata."
Raffi tertawa lagi, kali ini lebih lepas.
"Lo mau tahu penolakan paling kreatif yang pernah gue dapat?" lanjut Rahmat.
"Apa?"
"Gue minta nomor ke anak jurusan sebelah. Dia kasih nomor tukang galon."
"Terus?"