Perempuan Asap Rokok

Rafdi Akbar
Chapter #11

Hujan, Tugas dan Kebetulan #11

Pagi itu, Raffi bangun dengan satu keyakinan baru: hidupnya akan jauh lebih mudah jika semua masalah bisa diselesaikan dengan menekan tombol skip.



Sayangnya, hidup bukan permainan di ponselnya.



Buktinya, alarm berbunyi sejak pukul enam, tetapi ia baru membuka mata pukul tujuh lewat dua puluh.



"ANJ-!"



Raffi buru-buru duduk. Rambutnya berdiri ke segala arah, selimut melilit pinggang, sementara satu kaus kaki entah bagaimana tersangkut di gagang tempat tidur.



Ia menatap jam di ponselnya seperti baru saja dikhianati orang yang paling dipercayainya.



"Kenapa lo nggak bangunin gue dari tadi?" protesnya kepada ponsel itu.



Jam di ponselnya tetap diam.



"Dasar nggak punya rasa solidaritas."



Dari luar kamar, suara Mak terdengar.



"Raffi! Kamu sudah bangun?"



"Sudah, Mak!"



"Kalau sudah, kenapa masih terdengar kayak orang berdebat sama lemari?"



Raffi melihat celananya yang tersangkut di sudut ranjang.



"Ini bukan berdebat, Mak! Lagi negosiasi!"



"Negosiasi apa?"



"Celana Raffi menolak kerja sama!"



"Kalau begitu, bilang sama dosenmu kamu tidak bisa kuliah karena kalah debat sama celana!"



Raffi terdiam.


Kadang-kadang, ia merasa Mak memiliki bakat terpendam menjadi komika. Bedanya, semua materi komedinya berasal dari penderitaan anak sendiri.


Setelah mandi secepat mungkin, Raffi berlari ke meja makan. Di sana, sepiring nasi goreng sudah menunggunya. Ia menyendok dua suap besar sebelum mengambil tas.


"Pelan-pelan makannya," tegur Mak.


"Raffi sudah telat."


"Kalau tersedak, kamu malah lebih telat."


Raffi berhenti mengunyah. Ia menatap Mak, kemudian mengangguk serius.



"Nasihat yang sangat masuk akal."



"Bagus."



"Tapi tetap saja Raffi harus berangkat."



Ia menyambar botol minum, mencium tangan Mak, lalu berlari keluar rumah.



Baru tiga langkah, ia kembali lagi.



"Kenapa?" tanya Mak.



"Kunci motor."



Mak menunjuk meja.



Raffi mengambilnya, lalu kembali berlari.



Lima langkah kemudian, ia muncul lagi.



"Sekarang apa?"



"Dompet."



Mak mengangkat dompet yang sejak tadi berada di tangannya.



Raffi memejamkan mata.



"Mak, sepertinya hari ini otak Raffi masih dalam perjalanan."



"Kalau begitu, tunggu sampai otakmu datang. Jangan berangkat sendirian."



"Bisa-bisa Raffi wisuda tahun depan, Mak!"



Untungnya, Jupe tidak mogok pagi itu.



Motor kesayangan Raffi melaju dengan suara mesin yang sedikit kasar, tetapi setidaknya masih bersedia menjalankan tugasnya. Bagi Raffi, itu sudah cukup untuk membuatnya kembali percaya kepada dunia.



Sesampainya di kampus, ia memarkir Jupe dengan hati-hati. Ia bahkan menepuk joknya dua kali sebelum pergi.



"Bagus, Pe. Hari ini kita kerja sama. Jangan bikin malu di depan umum."



Seorang mahasiswa yang kebetulan lewat menoleh.



"Ngomong sama motor, Bang?"



Raffi mengangguk.



"Lebih enak. Dia nggak pernah minta traktir."



Mahasiswa itu tertawa kecil lalu berlalu.



Raffi berjalan menuju gedung kuliah sambil memeriksa jadwal di ponselnya. Ada tugas kelompok yang harus dikumpulkan hari itu. Ia baru mengingatnya ketika melihat pesan dari ketua kelompok yang dikirim sejak malam sebelumnya.



Tugas dikumpulkan sebelum kelas dimulai. Jangan lupa bawa bagian masing-masing.



Raffi berhenti di tengah jalan.



"Bagian masing-masing?"



Ia membuka tas dan mengaduk isinya. Buku catatan ada. Pulpen ada. Dompet ada. Bungkus permen yang sudah kosong juga ada, bahkan dua.



Namun, berkas tugas yang seharusnya ia cetak tidak ditemukan.



Raffi memejamkan mata.



"Baiklah. Rupanya semesta belum selesai menguji kesabaran gue."


Ia berbalik kembali menemui Jupe, lalu meluncur menuju tempat fotokopi tak jauh dari kampus.



Tempat itu kecil, selalu ramai karena letaknya yang strategis diantara sekolah juga kampus, dan memiliki mesin fotokopi yang menurut Raffi hanya bekerja sesuai suasana hati pemiliknya. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang macet, dan kadang-kadang mengeluarkan bunyi seperti orang sedang batuk setelah menelan debu.



Di depan kios, beberapa mahasiswa dan siswa sekolah mengantre.



Raffi berdiri di belakang mereka sambil memeriksa berkas digital di ponselnya. Ia masih bisa mencetaknya, asal tidak ada masalah dengan jaringan atau mesin.



Dua hal yang, berdasarkan pengalaman hidupnya, hampir selalu bermasalah ketika seseorang sedang terburu-buru.



"Mas, bisa cepat sedikit?" tanya seorang mahasiswa kepada penjaga kios.



"Mesinnya juga butuh waktu, Dik."



"Cuma sepuluh lembar doang mas."



"Kalau begitu, minta mesinnya jangan banyak gaya."



Raffi tertawa mendengarnya.



Ia hampir ikut menimpali ketika seseorang di depannya bergerak ke samping, memperlihatkan sosok perempuan yang sedang merapikan beberapa lembar kertas.



Topi merah muda.



Rambut yang diikat ke belakang.



Tas di bahu.



Raffi membeku.



Tidak.



Jangan langsung bereaksi.



Ia menarik napas perlahan, memastikan bahwa matanya tidak sedang mengarang cerita akibat kurang tidur.



Perempuan itu menoleh sedikit.



Nayla.



Jantung Raffi mendadak melakukan sesuatu yang seharusnya memerlukan izin dari pemilik tubuh.



Dug.


Lihat selengkapnya