Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #1

01 - Perpisahan SMA

"Hwaaaaaa...! Akhirnya kita lulus, Reyyy!"

Fara berteriak kegirangan. Suaranya melengking di antara kerumunan, dibarengi dengan pelukan erat dari samping yang membuat Rey hampir limbung. Kedua tangan Fara mencengkeram lengan kiri Rey kuat-kuat, sementara tubuhnya bersandar santai, seolah-olah keseimbangan bukan lagi hal penting di tengah euforia ini.

Halaman sekolah yang biasanya kaku seketika berubah menjadi lautan warna. Pengumuman kelulusan siswa-siswi kelas XII menjadi gong pembuka bagi kegilaan remaja-remaja itu. Canda tawa bersahut-sahutan, beradu dengan bunyi cesss-cesss dari kaleng cat semprot yang menyemburkan warna-warni ke seragam putih yang kini tak lagi suci. Mereka bersorak, seakan puluhan paku tajam yang selama ini menghunjam tengkorak kepala baru saja dicabut paksa. Ada rasa bebas yang membuncah, sebuah pelarian dari jeruji kurikulum yang selama ini terasa mengekang dan melelahkan.

Tak terkecuali bagi Fara dan Rey. Pasangan yang telah merajut kasih sejak kelas X itu sudah lama memimpikan momen ini; sebuah gerbang menuju jenjang pendidikan tinggi yang ingin mereka tempuh bersama.

"Wooiii! Kalau mau pacaran, cari tempat dong! Ini masih di sekolah, gesss!"

Sena berteriak mengejek. Gadis mungil berambut pendek itu berlari zig-zag menghindari kejaran Doni, yang sudah bersiap dengan kaleng cat di tangan untuk membidik seragam pacarnya. Sena tampak terengah-engah, namun matanya berbinar jenaka di balik sisa-sisa keringatnya.

"Yeee, bilang aja sirik!" sahut Fara sambil menjulurkan lidah, menggoda sahabatnya sejak SMP itu.

Fara kemudian kembali menempel pada Rey. Ia memeluk manja lengan laki-laki itu, persis seperti kucing yang sedang merayu tuannya minta makan. "Reyyy, pulang dari sini kita makan siang di tempat biasa, yuk?" ajaknya dengan nada merajuk yang khas.

"Hemm, oke... okeee. Tapiii... anu, udah dong peluknya, malu nih."

Rey terlihat salah tingkah. Bahunya sedikit kaku, matanya bergerak gelisah memindai sekeliling, memastikan tidak ada guru yang lewat dan memberikan teguran terakhir di hari kelulusan. Setelah merasa keadaan aman, barulah ia membalas pelukan Fara dengan hangat. Bagaimanapun, gadis di pelukannya ini adalah pusat dunianya saat ini.

Dengan langkah ceria, Fara menggandeng tangan Rey, jemari mereka bertaut rapat. Mereka berjalan menembus kerumunan menuju tempat motor Rey diparkirkan. Di tengah hiruk-pikuk kegembiraan yang memekakkan telinga, samar-samar terdengar isak tangis di sudut-sudut koridor. Ada yang bersedih karena harus segera berpisah dari sahabat-sahabat masa sekolah. Perpisahan memang selalu punya dua sisi, dan ia tak pernah benar-benar mudah bagi siapa pun.

***

Motor Rey melaju membelah jalanan menuju tempat makan favorit mereka—sebuah kafe kecil yang selalu menjadi saksi bisu perjalanan cinta mereka. Pinky Rabbit Ice Cream & Dessert, begitu nama yang tertera di papan nama depan.

Kafe itu tampak menonjol dengan dominasi warna putih dan merah muda. Ornamen berbentuk kelinci tersebar di setiap sudut, menciptakan suasana yang manis dan sangat instagrammable. Tak heran jika tempat ini selalu penuh dengan pasangan muda yang sekadar ingin duduk berdekatan atau menghabiskan waktu bersama.

"Fiuh... Akhirnyaaa~" Fara mengembuskan napas panjang sembari melepaskan helmnya. "Panasss, aku haus. Ayo cepetan, Reyyy."

Sinar matahari siang itu cukup terik. Kulit Fara yang putih bersih kini terlihat kemerahan di bagian pipi. Rambutnya yang dikuncir kuda tampak sedikit berantakan, memperlihatkan bulir-bulir keringat yang mengucur di leher jenjangnya.

"Hayuk, Ra. Aku juga lapar," jawab Rey singkat sambil menyeka dahi.

Mereka melangkah masuk ke dalam kesejukan ruangan ber-AC. Seperti ritual yang sudah dihapal di luar kepala, Rey bergegas mencari meja kosong sementara Fara menuju meja kasir untuk memesan.

"Welcome to Pinky Rabbit! Makan es krim di hari yang cerah, hati pun jaaadi senanggg! Silakan pesanannya, Kaaak~"

Pelayan perempuan di balik meja kasir menyapa dengan nada yang sangat ceria. Kedua tangannya membentuk simbol hati di depan dada. Ia tampak melayani dengan energi yang meluap-luap, seolah-olah rutinitas yang ia lakukan ratusan kali dalam sehari itu adalah hal paling menyenangkan di dunia.

"Hai, Kak! Seperti biasa ya!" balas Fara dengan senyum yang tak kalah lebar. Pelayan itu mengangguk cepat, sudah mengenali pelanggan setianya.

"Baik, Kak. Satu buah Orange-Vanilla Ice Cream dengan topping Chocolate Sprinkles, satu buah Choco-Strawberry Ice Cream, dan satu porsi Plain Bread Toast ya, Kak? Ada tambahan lainnya?" ucap pelayan yang mengenakan bando telinga kelinci itu dengan cekatan.

"Emm, lemon tea-nya satu ya, Kak," tambah Fara.

Lihat selengkapnya