"Yah, dokter bilang sih ada cedera otak yang cukup parah sampai menyebabkan amnesia," ucap Rey datar. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri, seolah ia sedang menceritakan nasib buruk orang lain, bukan dirinya sendiri.
Pria di hadapannya mendengarkan dengan saksama. Rey menghela napas panjang, matanya menatap kosong ke arah jendela kamar. "Katanya aku nggak sadarkan diri hampir lima bulan. Nggak ada yang bisa jamin juga apakah ingatanku bakal bisa pulih sepenuhnya atau nggak." Rey menjeda sejenak, tenggorokannya terasa kering. "Aku sendiri nggak bisa ingat detail kejadiannya. Yang kuingat cuma saat aku terbangun di rumah sakit, di sampingku udah ada Ayah."
Lawan bicaranya memajukan tubuh, menatap Rey dengan selidik namun hangat. "Hm, tapi kamu ingat denganku, kan? Rey?"
Rey terdiam beberapa detik, memindai wajah familier namun terasa "jauh" itu. "Kamu... Kris, 'kan?" jawab Rey ragu, namun benar.
Sudah enam bulan berlalu sejak dentum keras truk itu menghancurkan dunianya. Kondisi Rey sempat berada di titik nadir saat pertama kali dilarikan ke IGD. Pecahan kaca helm nyaris merenggut penglihatannya, tungkai bawah kaki kirinya patah hingga harus dipasang pen, dan dada kirinya kini dihiasi jaringan parut panjang akibat hantaman serpihan motor. Namun, dari semua luka itu, cedera kepalalah yang paling fatal. Jika saja dokter terlambat beberapa menit saja, mungkin nama Rey sekarang hanya tinggal deretan huruf di atas nisan.
Kris menarik kursi di dekat meja komputer Rey. Ia membalik kursi itu, lalu duduk dengan posisi menyilangkan tangan di atas sandaran punggungnya—sebuah gestur santai yang seolah ingin mencairkan suasana kaku di kamar itu.
"Terus, kakimu gimana sekarang?" tanya Kris, melirik ke arah kaki Rey yang masih terbalut kruk.
"Udah agak mendingan sih, tapi masih harus pakai kruk sampai bisa jalan normal." Rey mencoba menggeser tubuhnya, menyandarkan diri ke headboard tempat tidur. Ia menarik napas pelan, menahan nyeri yang sesekali masih berdenyut. "Tapi amnesia ini ganggu banget. Aku bahkan nggak ingat hari-hariku di sekolah, teman-teman, bahkan lokasi sekolahnya. Nama sekolah aja baru aku tahu dari seragam-seragam yang disimpan di lemari."
Rey memijat pangkal hidungnya. "Semakin aku coba ingat, makin pening kepala." Ia menempelkan telapak tangan ke kening, menekannya kuat-kuat seolah-olah tindakan itu bisa memperbaiki ingatannya yang sedang error.
"Hey, udah, jangan dipaksain. Semua butuh waktu buat pulih," potong Kris lembut. "Ngomong-ngomong, maaf ya, aku baru bisa jenguk sekarang. Jadi mahasiswa baru ternyata nggak gampang, tugas numpuk, hadeuh," keluh lelaki berkacamata itu sambil menyandarkan dagu di lengannya. "Ponselmu gimana? Mungkin bisa bantu ingat sesuatu?"
"Rusak. Pecah semua. Bahkan mungkin kartu SIM-nya juga udah mati. Haha." Rey mencoba tertawa, tapi tawa itu terdengar datar, kering, dan kosong—seperti sebuah guci retak yang dipukul.
"Yah, sosial mediamu juga kayaknya nggak bantu. Kamu nggak aktif sama sekali," ujar Kris sambil mendorong bingkai kacamatanya yang sedikit melorot. "Instagram cuman ada satu foto, Facebook nggak punya, dan aku juga nggak tahu kamu punya medsos lain atau nggak."
"Kalaupun punya dan aktif, aku juga nggak bakal inget kata sandinya," jawab Rey muram, menyadari betapa terputusnya ia dari kehidupannya yang lama.
Kris terdiam sejenak, lalu matanya menyipit penasaran. "Tapi... aku penasaran. Di antara semua yang kamu lupain, kamu masih bisa ngomong dengan lancar. Kenapa ya, kemampuan bahasa nggak ikut hilang pas amnesia? Terus soal berpakaian, kamu masih tahu mana baju, mana celana, gimana cara makainya—nggak ketuker?"
Rey mengernyit, menatap sepupunya itu dengan ekspresi tak percaya. "Kamu... serius nanya hal beginian di saat aku lagi begini?"
Keheningan canggung sempat mengisi celah-celah ruangan selama beberapa saat, sebelum akhirnya tawa mereka pecah bersamaan. Itu adalah tawa pertama Rey yang terasa sedikit lebih nyata. Tak lama kemudian, Kris pamit pulang, tak lupa menitipkan salam untuk pamannya melalui Rey.