Rey berdiri di tengah ruangan yang seolah tak bertepi. Kegelapan di sana begitu pekat, hingga kesunyiannya menciptakan dengung yang menyakitkan di telinga. Namun, meski diselimuti hitam, mata Rey mampu menangkap pemandangan ganjil di langit-langit: berbagai benda melayang dan berputar perlahan dalam orbit yang kacau.
Ia mengenali benda-benda itu. Ada bangkai sepeda motornya yang ringsek tak berbentuk, helm yang pecah berkeping-keping, buku-buku, sepatu, hingga ponselnya. Pemandangan itu terasa seperti museum atas tragedi yang menimpanya. Namun, di tengah barang-barang kusam itu, matanya terpaku pada sebuah benda seukuran bola tenis yang melayang tepat di atas kepalanya. Warnanya kuning cerah, sangat kontras dengan sekelilingnya.
Nggak salah lagi, itu buah lemon! batinnya.
Rey berjinjit, menjulurkan tangan setinggi mungkin untuk meraihnya, namun jemarinya hanya menyentuh udara kosong. Ia mencoba melompat sekuat tenaga.
Pluk!
Buah itu justru jatuh dan mendarat tepat di dahinya. Rey mengernyit kesakitan, lalu membungkuk untuk memungutnya. Namun, sebelum jemarinya menyentuh kulit buah yang kasar itu, sebuah teriakan samar memecah keheningan, menariknya paksa dari alam mimpi.
"I love youuu!"
Rey tersentak bangun. Napasnya tersengal, dan butiran keringat dingin membasahi pelipisnya. Ia mengerjap-ngerjap, mencoba mengusir sisa-sisa halusinasi dari matanya. Kepalanya berdenyut pening. Suara perempuan itu... ia yakin tidak pernah mendengarnya selama enam bulan terakhir, tapi entah kenapa, gema suara itu terasa sangat akrab di dadanya.
Bahkan setelah terjaga, aroma lemon yang segar seolah masih tertinggal di indra penciumannya, membuat dadanya terasa sesak oleh kerinduan yang tak ia pahami alasannya. Dengan tangan sedikit gemetar, ia meraih tumbler di atas nakas dan menenggak airnya dalam-malam, berusaha membasuh rasa cemas yang mengganjal di tenggorokan.
***
Pagi harinya, Rey sudah berada di depan lemari buku. Jemarinya menyisir deretan punggung buku satu per satu, hingga terhenti pada sebuah jurnal bersampul cokelat. Sampul kulit sintetisnya sudah terlihat kubas dan usang, namun masih terawat. Saat membukanya, lembar-lembar awal penuh dengan coretan materi pelajaran sekolah.
Rey memutuskan. Mulai detik ini, buku ini bukan lagi buku catatan sekolah, melainkan jangkar untuk ingatannya. Ia mengambil pulpen, lalu menuliskan satu kata dengan huruf kapital:
LEMON Apa dan kenapa?
Ia menggigit ujung pulpennya, merenung. Entah kenapa aku ngerasa buah yang satu ini punya peran penting. Apa jangan-jangan ini buah favoritku yang sekarang aku lupakan?
Matanya kemudian beralih ke meja komputer. Di sana, sebuah bingkai foto menampilkan sosok wanita dengan senyum lembut—mendiang ibunya yang telah tiada sejak ia SD. Rey meraih bingkai itu, memandanginya dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Ini Ibu... mana mungkin aku melupakan sosok sepenting ini. Ia bersyukur setidaknya memori paling berharga ini tidak ikut terhapus bersama sisa hidupnya yang lain.
Saat meletakkan kembali bingkai itu, punggung tangannya menyentuh sesuatu yang tersembunyi di belakang foto. Sebuah benda tabung dengan lubang kecil di bagian atas.
"Celengan!?" gumamnya. Ia mengangkat benda itu, menimbang-nimbangnya. Ada bunyi denting logam dan gesekan kertas yang cukup padat di dalam sana. Senyum lebar seketika tersungging di bibirnya. Wah, kayaknya isinya lumayan!