Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #4

04. Plus Enam Dua Delapan

SIM card lama sudah ada di genggaman. Dengan gerakan hati-hati, Rey membuka casing ponsel merah muda itu—warna yang masih membuatnya ingin menghela napas setiap kali melihatnya—lalu menyelipkan kartu kecil itu ke slotnya. Ia menekan tombol power.

Layar menyala, diiringi nada startup khas yang memecah keheningan kamar. Rey menunggu dengan dada sedikit berdebar saat barisan menu utama tampil sempurna di layar yang agak retak itu. Namun, harapannya pupus seketika saat melirik pojok kanan atas. Bar sinyal di sana mati total; hanya ada gambar antena dengan tanda silang kecil yang seolah mengejeknya.

Apa yang kamu harapkan, Rey? Sudah enam bulan, loh! batinnya sambil menggembungkan pipi, lalu menggelengkan kepala pasrah.

Ia pun menyerah. SIM card itu dicabut, diganti dengan kartu baru yang baru saja dibelikan ayahnya. Proses aktivasi berjalan lancar. Jemarinya menari di atas layar, menyelesaikan pembuatan akun e-mail baru dan mengunduh aplikasi-aplikasi media sosial dari daftar teratas.

Aneh memang, amnesia rupanya tidak menyentuh kemampuan motoriknya dalam mengoperasikan teknologi. Ia masih tahu persis di mana letak pengaturan, cara mengetik cepat, hingga cara kerja sinkronisasi data. Ingatan mana yang dihapus dan mana yang dibiarkan menetap oleh otaknya benar-benar terasa seperti undian acak yang kejam.

Sambil menunggu proses instalasi di latar belakang, Rey membuka jurnal cokelatnya. Ia menyalin nomor Kris, lalu membuka aplikasi pesan untuk mengetikkan sesuatu:

Rey: Kris, maaf mengganggu selarut ini. Ini nomorku yang baru. Aku kayaknya bakal butuh bantuanmu. – Rey

Tak butuh waktu lama hingga ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk dari nomor Kris.

???: Rey? Rey siapa??

Rey mengernyit. Dahinya berkerut dalam. Ia kembali mengecek deretan angka di jurnal dengan yang ada di layar. Sama, kok, gumamnya heran. Ia baru saja hendak mengetik balasan saat pesan berikutnya muncul.

???: Maaf, salah sambung. Nama saya Kristine, dan saya nggak punya sepupu yang namanya Rey. Rey siapa emang? Reynaldi?

Mata Rey membelalak. Jantungnya berdegup kencang karena rasa malu sekaligus bingung. Ia ingin segera keluar kamar dan meminjam ponsel ayahnya untuk memastikan nomor itu, tapi ia melirik jam. Terlalu larut. Ia tidak tega mengusik istirahat ayahnya yang sudah bekerja keras seharian.

Sudahlah, besok pagi saja.

Rey mengembuskan napas panjang, meraih kruk di samping tempat tidur. Ia mencoba berdiri, merasakan kakinya yang kini terasa lebih kokoh menapak lantai. Ada kemajuan fisik yang nyata; mungkin hanya butuh hitungan hari sampai ia bisa membuang kruk itu selamanya. Namun, tepat saat ia hendak melangkah, ponsel di tangannya kembali berdering nyaring.

Kris: PRANK!! HAHAHA. Maaf, aku nggak tahan buat ngerjain kamu. Lagi suntuk nugas di rumah temen, nih. Besok habis dari kampus aku mampir ke sana. Btw, install WhatsApp dulu gih sana. xD

"Apaan—!"

Lihat selengkapnya