Malam semakin larut, namun bagi Rey, kegelapan hanya memperjelas kebuntuan yang ia rasakan. Ia membuka jurnal cokelatnya, mencoba memperbarui daftar rencana yang telah ia susun sebelumnya. Namun, pena di tangannya hanya menorehkan kata-kata yang sama:
● Mengingat password loginkomputer. Stuck!
● Mencari informasi, foto tempat/orang (komputer akan sangat membantu). Masih stuck!
● Menjangkauorang-orang/teman semasa sekolah. Stuuuuck!
● Social media? Sama saja.
● Suara perempuan: Siapa?
● Aroma Lemon: Kenapa begitu terekam kuat?
"Ahh, ini nggak akan membawaku ke mana-mana!" keluhnya seraya menjatuhkan tubuh ke atas kasur. Kasur itu berderit, seolah ikut merasakan beban pikirannya.
Rey terdiam menatap langit-langit. Mau sampai kapan rebahan begini? batinnya menyentil. Ia membayangkan teman-teman sebayanya yang mungkin saat ini sedang sibuk dengan euforia mahasiswa baru, atau mereka yang mulai mandiri mencari penghasilan sendiri—seperti Kris.
Ia kemudian bangkit dan duduk di tepi ranjang. Pikirannya melayang pada sang Ayah yang hampir setiap malam pulang larut dengan gurat lelah yang disembunyikan. Satu-satunya toko mereka adalah napas keluarga ini, dan biaya rumah sakit selama lima bulan koma tentu tidak sedikit.
Rey kembali meraih jurnalnya. Kali ini, ia menuliskan daftar rencana yang lebih realistis untuk masa depannya:
Kuliah. (Opsi terakhir, mengingat kondisinya).
Melamar Pekerjaan. (Kontra: Kaki belum sembuh total, tidak punya pakaian pantas, tidak ada transportasi. Hanya akan menambah pengeluaran).
Keahlian: Ilmu komputer dan desain grafis dasar.
"Ini dia!" gumamnya. Desain grafis.
Rey menyadari ia memiliki modal di kepalanya. Keterampilan itu bisa dipasarkan secara online tanpa harus banyak bergerak. Pandangannya langsung tertuju pada meja komputer di sudut kamar.
Sial! Ujung-ujungnya balik lagi ke masalah awal: kata sandi!
Pekerjaan desain membutuhkan perangkat yang mumpuni. Ponsel merah muda yang layarnya retak itu jelas tidak akan sanggup menjalankan software berat. Dengan gusar, ia merogoh ponsel di saku celananya untuk melakukan riset pasar.
Ia memasukkan kata kunci 'Jasa Desain' di kolom pencarian aplikasi e-commerce. Benar saja, ribuan penawaran muncul: desain poster, cover buku, hingga logo perusahaan dengan harga yang fantastis. Matanya juga menangkap jasa pembuatan website dan aplikasi.