"Done. Bahkan lebih baik lagi, katanya ponselmu yang rusak itu bisa dia coba recover datanya, Rey. Aku bakal pastiin dulu kapan dia bisa bantu kita, ya."
Membaca pesan WhatsApp dari Kris malam itu membuat beban di pundak Rey terasa sedikit terangkat. Titik terang mulai muncul setelah berbulan-bulan hidupnya terasa seperti layar televisi yang hanya menampilkan semut hitam-putih. Namun, kelegaan itu tidak datang sepenuhnya. Tidurnya tetap tidak nyenyak; ada rasa sesak yang mengganjal di dadanya, sebuah ruang kosong yang menuntut untuk diisi.
Suara perempuan yang berteriak dalam mimpinya terus bergema, menjadi teka-teki paling menyiksa yang pernah ia hadapi. Siapa dia? Kenapa suaranya terasa begitu lekat di telinga namun asing di ingatan?
Rey mencoba menarik napas panjang, menenangkan badai di kepalanya. Ia tidak ingin otaknya "korsleting" lagi karena dipaksa bekerja terlalu keras. Ia mulai menyusun rencana yang lebih masuk akal. Hidup harus terus berjalan, meski tanpa peta yang utuh.
Sambil duduk di meja belajar, ia mengambil pensil dan jurnal cokelatnya. Jemarinya mulai menari, membuat sketsa kasar desain logo. Ada kepuasan tersendiri saat menyadari bahwa kemampuan visualnya tidak ikut terhapus. Ia tersenyum kecil, menyandarkan punggung ke kursi sambil menerawang.
Andai kecelakaan itu nggak terjadi...
Mungkin saat ini ia sedang sibuk mengantre kartu tanda mahasiswa. Di kampus mana? Jurusan desain grafis, atau mungkin seni rupa? Imajinasi itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
Tiba-tiba, aroma itu datang lagi. Tajam, segar, dan sangat spesifik: lemon.
Rey memejamkan mata, membiarkan keheningan kamar menyergapnya. Ia mengatur napas, membiarkan aroma itu meresap ke dalam kesadarannya. Dalam kegelapan di balik kelopak matanya, sebuah kilasan muncul—seperti potongan film tua yang rusak. Sebuah ruangan bernuansa putih dan merah muda yang samar. Di hadapannya, berdiri sesosok bayangan yang sangat kabur. Lalu, sebuah sensasi dingin yang manis mendadak terasa di ujung lidahnya.
Rey tersentak. Ia membuka mata dan segera mengusap wajah dengan kedua telapak tangan, mencoba mengusir sensasi aneh yang baru saja hinggap.
"Apalagi ini...!" gerutunya, merasa frustrasi dengan potongan memori yang hanya muncul seujung kuku.
***
Keesokan siangnya, suasana kamar Rey jauh lebih ramai.