Ting tong!
Rey bergegas membuka pintu depan. "Oh, hei! Silakan masuk."
Andi melepas sepatu ketsnya dengan santai lalu melangkah masuk, mengikuti Rey menuju kamar. Setelah mempersilakan tamunya duduk, Rey pergi ke dapur dan kembali dengan dua kaleng soda dingin dari lemari es. Ia meletakkannya di atas meja, di samping ransel Andi yang tampak berat.
"Sudah siap melihat isi kepalamu yang terdigitalisasi?" tanya Andi sambil mengeluarkan beberapa USB Drive dari tasnya.
"Apakah ini bakal berhasil?" suara Rey terdengar penuh harap, namun ada sedikit getaran cemas di sana.
"Mari kita coba," jawab Andi dengan senyum percaya diri.
Selama setengah jam berikutnya, kamar itu hanya diisi oleh suara deru kipas komputer dan bunyi klik keyboard. Komputer Rey beberapa kali melakukan restart dan masuk ke boot mode melalui USB yang sudah disiapkan Andi. Rey memperhatikan setiap pergerakan tangan Andi, sesekali mencatat langkah-langkah teknis itu di jurnal cokelatnya. Ini akan sangat berguna jika suatu saat aku terkunci lagi, pikirnya.
"Ini restart terakhir," ucap Andi pelan, matanya fokus menatap layar. "Semoga jebol."
Animasi loading yang berputar-putar di layar terasa berjalan sangat lambat, seolah-olah waktu sengaja ditarik ulur untuk menyiksa mereka. Satu detik, lima detik, sepuluh detik... dan tiba-tiba, desktop Windows muncul dengan sempurna. Layar itu terbuka luas, tanpa meminta kata sandi lagi.
"Wah, kamu berhasil, Andi!" seru Rey, nyaris melompat dari kursinya.
"Well, ini sih sebenarnya masalah kecil buat ahli," ujar Andi dengan nada sedikit congkak, meski binar matanya menunjukkan rasa bangga. "Tunggu dulu, Rey. Aku tahu kamu sudah tidak sabar mengeksplor komputer ini, tapi aku masih punya satu kado lagi untukmu."
***
Sementara itu, di kampus, Kris sedang berjuang melawan waktu. Ia duduk di salah satu gazebo, jari-jemarinya bergerak cepat menuliskan jawaban di atas kertas double folio bergaris.
Hadeuh, sudah zaman serba AI begini, masih saja ada tugas tulis tangan, gerutunya dalam hati. Namun, ia tak punya pilihan. Dosennya cukup baik hati memberinya tenggat hingga sore ini, dan ia harus segera mencegat beliau sebelum kelas berakhir jika ingin nilainya aman.