Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #8

08. Sena

Beberapa minggu sebelumnya...

"Fuahhh! Gak kuaaattt." Wajah Sena tampak memerah, keringat mengalir deras di lehernya. Setelah menjatuhkan dumbel dari tangannya, ia duduk dengan kaki yang diluruskan di lantai gym.

"Kayaknya aku nggak bisa ngikutin hobi kamu yang satu ini deh, Don," ucapnya terengah.

"Hahaha, makanya latihan kardio aja sana dulu," Doni menertawakan Sena yang kelelahan, sembari tangan kanannya mengangkat naik-turun dumbel seberat 20 kg.

"Ogahhh!" Ia lalu berbaring di lantai dengan merentangkan kedua tangannya, seakan-akan tidak mempedulikan orang-orang di sekitar. Sena memang seunik itu, ia tidak pernah memusingkan pendapat orang lain tentang dirinya, selama tidak menyusahkan orang lain, apa salahnya? Pikirnya.

"Sesen emang pengen bikin badan jadi lebih bagus sih, tapi kalau sakitnya kayak gini kayanya enggak dulu!" Sena mendengkus.

"Yaudah, tunggu bentar lagi ya, mau mandi di sini apa entar aja di rumah?" tanya Doni.

"Di rumah aja, deh," jawab Sena. Perempuan itu lalu beranjak menuju ke ruang loker untuk mengambil handuk kecil berwarna putih dan mengelap keringat yang ada di lehernya. Matanya tertuju pada ponsel miliknya yang tampak menyala pada bagian layarnya, ada pesan WhatsApp dari Fara.

Fara: Seennn, besok weekend aku kesana, hangout yuks! ^^

Sena: Yooks! Sabtu gimana? Soalnya hari Minggu aku mau jalan sama Dodon :3

Setelah membalas pesan dari Fara, Sena bersenandung kecil sambil mengepak barang-barang bawaannya sembari menunggu Doni selesai. Setelahnya ia memilih untuk duduk beristirahat di kursi yang disediakan di dekat ruang loker dan mengambil tumbler air minum yang ia selipkan di tas, memasukkan sedotan ke dalam mulutnya yang mungil, lalu membiarkan air putih mengalir membasahi kerongkongannya yang sedari tadi sudah sangat kering.

TING!

Fara: Okay, deal!

"Yuk, Sen. Bentar aku beres-beres barang loker dulu," kata Doni seraya ia berlalu menuju ke ruang loker.

***

Doni mengantarkan Sena dengan mengendarai mobil sampai ke rumahnya.

"Okay, makasih ya, Don," ucap Sena.

"Udah? Gitu doang? Kiss-nya mana?" ujar Doni sambil sedikit memonyongkan bibirnya ke arah Sena.

Setelah memastikan keadaan sekitar aman melalui kaca mobil, Sena dengan cepat mengecup bibir Doni, lembut, singkat, namun penuh kehangatan.

"Nih, udah," katanya sambil menjulurkan lidah. Ia lalu membuka pintu mobil untuk keluar.

"Bye, Don, jangan lupa kabar-kabarin kalau sudah sampai!" sambungnya sambil tersenyum, lalu menutup pintu mobil.

Doni meluncur pulang sambil melambaikan tangannya ke arah Sena, lalu menutup kaca jendela mobilnya.

Suasana rumah Sena tampak senyap. Rumah berlantai dua itu minimalis dengan desain yang sederhana namun tetap modern ketika dilihat. Terlihat di halamannya sebuah pohon tinggi dengan bekas tali ayunan tua menjuntai di bawahnya. Di depan jendela kamar utama ada taman kecil dengan air mancur, tidak terlihat air mengalir dari sana, bunga-bunga di taman itu pun tampak sebagian layu tak terurus.

Tok tok tok!

"Maahhh." Sena mencoba mengetuk pintu rumah, tidak ada sahutan. Ia kemudian berjalan menuju susunan batu-batu yang dibentuk seperti jalan setapak di taman, lalu membalik salah satu tumpukan batu tersebut, dan mengambil kunci cadangan rumahnya.

Ini dia, gumamnya sambil mengangkat kunci itu dengan satu tangan.

Sena beranjak masuk ke dalam rumah. Lampu-lampu rumahnya yang dalam keadaan mati membuat ruangan di dalam rumah itu terasa suram. Setelah menyalakan lampu ruang tengah, ia berlari kecil menaiki tangga menuju ke kamarnya.

Ahh. Room sweet room! batinnya. Sena menghempaskan tubuhnya dengan posisi tengkurap di atas kasur. Matanya mengantuk, tapi ia menyadari sekujur tubuhnya masih terasa lengket akibat keringat. Ia bangkit, bergegas mengambil baju ganti dari lemari, dan menuju kamar mandi di lantai bawah.

Lihat selengkapnya