Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #9

09. Buah Lemon

Pagi itu terasa begitu cerah, matahari menyiram jalanan kompleks dengan cahaya yang hangat. Rey memutuskan untuk berjalan kaki menuju toko buah terdekat, sekadar mencari udara segar sekaligus memenuhi satu misi kecil: membeli beberapa buah lemon. Sepanjang langkahnya, pikiran Rey seolah enggan beranjak dari sosok perempuan yang wajahnya kini tersimpan rapi di dalam komputernya.

Cantik, tapi siapa? Pertanyaan itu berulang-ulang seperti kaset rusak. Sahabat? Pacar? Tanpa sadar, sebuah senyum salah tingkah terbit di wajahnya saat bayangan wajah perempuan itu melintas. Jantungnya berdegup dengan ritme yang asing, seolah-olah ia sedang jatuh cinta untuk pertama kalinya dalam hidup. Namun, di balik rasa hangat itu, ada satu ganjalan besar yang menyesakkan dadanya: di mana perempuan itu sekarang?

Sesampainya di rumah, Rey segera menuju dapur. Ia mengambil satu buah lemon yang paling segar, sementara sisanya ia masukkan ke dalam lemari pendingin. Ia membawa buah kuning itu ke kamar, duduk di kursi kerjanya, lalu meraih sebuah spidol hitam. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun tekun, ia menggambar garis mata, hidung, dan mulut di kulit buah lemon tersebut. Garis mata dan mulut itu dibuat melengkung, membentuk sebuah senyuman jenaka.

Rey mengangkat buah itu, menghirup dalam-dalam aroma segar yang menguar darinya sebelum meletakkannya dengan hati-hati di atas meja.

"Kamu siapa sih?" tanyanya pelan pada buah lemon bisu itu.

Ia kemudian meraih jurnal cokelatnya dan mulai mencoret-coret, memperbarui daftar rencana yang selama ini menghantuinya:

● Mengingat password loginkomputer. Stuck! > Done!

● Mencari informasi, foto tempat/orang (komputer akan sangat membantu). Masih stuck! > On process!

● Menjangkauorang-orang/teman semasa sekolah. Stuuuuck! > On process!

● Social media? Sama saja. > On process!

● Suara perempuan: Siapa?

● Aroma Lemon: Kenapa begitu terekam kuat?

Pena Rey terus menari, menuliskan pengalaman-pengalamannya bersama Kris dan Andi, kemajuan penyembuhan fisiknya, hingga kondisi mentalnya yang naik-turun. Tanpa ia sadari, jurnal itu kini mulai berubah wujud dari sekadar daftar tugas menjadi sebuah buku harian yang intim.

Tak ingin larut dalam kegalauan, ia mulai membuka software desain. Rey bertekad harus bisa menghasilkan uang sendiri. Ia tak ingin terus-menerus membebani sang Ayah, apalagi usianya sekarang sudah bukan lagi masa remaja yang pantas menadah tangan. Di hari-hari pertama, layar komputernya memang masih sepi. Namun, ia tetap optimis. Di kolom diskusi, mulai muncul beberapa notifikasi dari calon pelanggan yang bertanya tentang sistem pengerjaan dan durasi desain. Angka di fitur "produk dilihat" juga perlahan merangkak naik. Setidaknya, orang-orang mulai menyadari keberadaannya di sana.

Menjelang sore hingga malam, suasana kamar menjadi lebih sunyi. Rey kembali memfokuskan diri pada masa lalunya yang hilang. Ia membuka folder foto, kali ini menemukan pose yang berbeda. Di sana, perempuan cantik itu sedang melakukan selfie dengan senyum manis, dan ada sosok Rey sendiri yang tampak berdiri di sampingnya.

Nggak salah lagi, orang ini pasti spesial buatku!

Lihat selengkapnya