Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #10

10. Kamar Biru

Berbekal informasi dari Adel, Rey akhirnya mendapatkan secarik harapan berupa nomor kontak Fara. Jemarinya bergetar saat menekan tombol panggil. Ia menempelkan ponsel ke telinga, jantungnya berdebar hebat mengisi keheningan yang terasa panjang dan memekakkan. Tut... tut... tut... nihil. Tidak ada jawaban.

Rey mencoba peruntungan lain dengan menyimpan nomor itu dan mengeceknya di aplikasi WhatsApp. Namun, tidak ada profil yang muncul. Nomor itu sudah tidak aktif, atau mungkin Fara memang sudah berganti nomor. Sebuah ganjalan besar kembali muncul di kepala Rey.

Dia nggak pernah datang, dan sekarang mengganti kontaknya. Apakah Fara sengaja ingin menjauh dariku? Padahal kata Adel, hubungan kami dulu membuat orang lain iri. Kenapa kenyatannya sekarang bertolak belakang banget?

Lalu, ia teringat sesuatu.

Rey: Oh iya, maaf kalau pertanyaan ini terdengar aneh, apakah kamu pernah tau Fara ada hubungannya dengan, emm, buah lemon, Del?

Rey mengetikkan pesan itu, mencoba mengurai benang kusut rasa penasarannya.

Adel: Haa?? Buah lemon?? Gimana tuh? Aku nggak terlalu tau kehidupan pribadi dia sih, Rey. Tapi rasa-rasanya nggak pernah ada liat dia bawa buah lemon ke kelas deh. 

Rey: Ah, I see. Okay, Del. Makasih ya, senang akhirnya bisa kontakan sama teman sekelas, walaupun aku bener-bener lupa sama aslinya kamu kayak gimana. Next time aku hubungin kamu lagi kalau mau nanya sesuatu, boleh?

Rey menghela napas, meraih buah lemon di dekatnya. Ia menggenggamnya erat dengan tangan kanan, lalu mendekatkannya ke wajah, menghirup aromanya yang segar namun misterius.

"Sekarang aku tahu siapa nama kamu, Fara. Tapi, kenapa kamu menghilang gitu aja sih?" tanyanya pada buah kuning yang membisu itu.

Ia lantas mengambil buku jurnalnya, mulai menggoreskan sketsa wajah Fara di sana. Ia ingin mengumpulkan semua kepingan informasi ini dalam satu wadah agar mudah ia akses kembali.

TING!

Adel: Maaf baru balas Rey, hoo tentu saja boleh! Aku akan sangat senang untuk membantu, Rey! Just let me know if you need anything, ok.

Rey tersenyum kecil membaca balasan itu. Melihat respons Adel yang begitu ramah, ia bisa membayangkan bahwa dirinya di masa lalu bukanlah sosok yang menyebalkan atau tidak disukai. Sambil meletakkan ponsel, ia melanjutkan goresan pensilnya, memperhalus detail sketsa Fara di atas kertas.

***

TING!

Suara notifikasi yang lupa disenyapkan itu memecah keheningan kelas. Padahal, saat itu semua mahasiswa tengah khusyuk mendengarkan paparan dosen yang terkenal killer.

"PONSELNYA TOLONG DIMATIKAN! Bukannya saya sudah perintahkan dari awal kelas?!" gertak sang dosen dengan suara lantang. Aumannya yang berat membuat seisi ruangan mendadak tegang, seperti domba yang menahan napas agar tidak diterkam singa.

Beberapa mahasiswa di sekitar Kris melirik tajam, tatapan mereka seolah berteriak menyuruhnya segera bertindak. Kris yang tersentak segera merogoh saku celana dan menekan tombol power dengan cepat.

Seusai kelas berakhir, Kris baru sempat mengecek pesan tersebut di parkiran.

Sena: Haiii Kris, maaf yaa aku belum sempat ngucapin makasih langsung sama kamu, Mamah bilang yang nganter pertama kali ke RS naik taksi online adalah kamu. Untung ada kamu kemarin, makasih banget loh.

Dari Sena ternyata... Sebuah senyum lebar terukir di bibir Kris.

Kris: It's OK, Sen. Btw, gimana keadaanmu sekarang? Kamu sakit apa sih??

Kris berjalan menuju motornya. Ia berniat mampir ke rumah Rey setelah membaca pesan sepupunya itu tadi malam. Ponselnya bergetar lagi.

Sena: Asam lambungku naik parah, kayaknya gara-gara keseringan telat makan. Ngomong-ngomong, gimana caranya kamu bisa ngehubungin nomor Mamahku kemarin, Kris?? Aku penasaran xD

Kris: Hahaha. Ya lewat ponselmu lah, kan aku bisa buka kunci layarnya pakai fingerprint-mu, Sen. Terus kucari deh nomor Mamahmu buat ngabarin kondisimu.

Sena: Cerdik jugaaa~ Sekali lagi makasih loh, Kris. Err, kalau ada tugas kampus tolong kabar-kabarin yaahh."

Kris: Okay Sena!

Lihat selengkapnya