Sabtu sore.
Tok Tok
Sena mendorong pintu kamar kos Kris yang tidak terkunci rapat. "Kris aku masuk y--"
Langkah Sena terhenti seketika. Di hadapannya, Kris yang baru saja kembali dari kerja part-time tengah berdiri di tengah ruangan. Ia baru saja melepaskan kemeja kerjanya untuk berganti pakaian, memamerkan bagian atas tubuhnya yang polos tanpa sehelai benang pun. Karena posisi pintu depan yang langsung tembus ke area tempat tidur, keduanya langsung bertemu muka. Mata mereka beradu selama beberapa detik dalam keheningan yang canggung.
"Aaaaak!" Sena menjerit kecil sambil refleks menutup seluruh wajah dengan kedua telapak tangannya. Saking kagetnya, kantung plastik yang sedari tadi ia jinjing terlepas dan jatuh begitu saja ke lantai.
"Eeh! Wait Sen, aku pakai baju dulu!" Kris panik, ia bergegas menyambar kaus hitam dari lemari dan memakainya dengan terburu-buru.
"Udah? Kris??" tanya Sena masih dengan posisi tangan menutupi mata, tubuhnya terpaku di ambang pintu.
"Udah udah. Beres. Hahaha. Lagian aku kan tadi masih pakai celana," canda Kris berusaha mencairkan suasana yang mendadak gerah itu.
Sena perlahan menurunkan tangannya. Wajahnya merah padam, tersipu malu hingga ke telinga. "Maaf yak Kris, aduuhh aku nggak sopan banget ya kayaknya~" ujarnya sambil menundukkan kepala, tak berani menatap langsung.
"Ahaha nggak papa sih, harusnya aku yang malu loh, santai aja. Kamu bawa apaan nih?" Kris mendekati Sena, membungkuk untuk membantu memungut kantung plastik yang tadi terjatuh.
"Aaah iya itu camilan sama beberapa mie instan cup. Biar ngerjain tugasnya hari ini tambah semangat~" sahut Sena sambil mulai melepaskan sepatu kets putihnya di depan pintu.
"Ya ampuun, kemaren Selasa kamu kelaperan yak? Maaf ya tuan rumahnya nggak peka," ucap Kris sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Ehhh enggak kok, kemarin kan aku udah makan dulu sebelum ke sini, terus pas pulangnya makan di rumah. Ini tadi kan ku lihat di luar cuacanya mendung, takutnya kita nggak bisa keluar. Hihi."
"Okay, mau makan dulu apa nugas dulu nih??"
"Nugas dulu ajaah~ Eh, Reza mana? Nggak datang lagi ya?" Sena memicingkan mata dan menggembungkan pipinya, merasa gemas dengan teman sekelompok mereka yang satu itu.
"Tadi di WhatsApp sih katanya datang, sambil ngerjain aja yuk nungguinnya."
"Yuks. Bab yang ini yang paling banyak soalnyaa~"
***
TING
Kris melirik ponselnya. Sebuah pesan masuk dari Reza.
"Hemmm, nggak jadi datang lagi dia, hujan deras katanya," keluh Kris sambil menghela napas panjang.
"Tuhh udah ku duga sih, hehe~ Ya udah deh kita berdua aja yang ngerjain, toh tinggal sedikit, terus habis ini juga tinggal bab penutup."
Sena kemudian mengecek jam di ponselnya. "Ehh udah jam seginii, mau ngisi perut dulu nggak, Kris?"
"Ah, ayuk, hujan gini jadi bikin laper yak." Kris berjalan ke dapur kecilnya, memeriksa termos air panas, namun hasilnya kosong—ia lupa memasak air tadi pagi karena terburu-buru berangkat kerja.
"Sini kubantu." Sena berinisiatif mengambil ketel, mengisinya dengan air lalu merebusnya di atas kompor. Dengan cekatan, ia menyiapkan dua buah mie instan cup, membuka kemasan plastik, dan mulai menuangkan bumbu-bumbunya. Kris hanya berdiri mematung di samping Sena, matanya tak lepas memandangi wajah gadis itu dari samping.
Sena melirik sekilas, menyadari tatapan itu. "Eh kalau kamu liatin aku kayak gitu terus nanti kamu jatuh cinta gimana loh," ucapnya diiringi tawa kecil yang menggoda.
Kris tertawa canggung, merasa tertangkap basah. "Jangan lah, nanti dihajar sama cowokmu aku Sen, bisa rontok ini badan."
Kris lalu beralih menuju kulkas mini. Cuman ada cola lagi sih, batinnya. Ia mengeluarkan dua kaleng soda dingin itu dan meletakkannya di atas meja setelah menyingkirkan laptop serta tumpukan buku agar mereka bisa makan dengan leluasa.
"Aww!!" pekik Sena tiba-tiba.
"Eh, kenapa Sen??" Kris panik dan segera menghambur ke dapur.
"Aduhh. Ini tadi cup mie nya kesenggol, dan begonya malah kutahan pakai tangan airnya, panasss."