Fara memarkirkan mobilnya di area kawasan parkir taman yang terletak di pinggir laut itu, ia memasang earphone di telinganya, lalu mulai berlari mengitari jogging track yang bersebelahan dengan laut di sana. Ia tampak tenang mengatur nafas, keringat menyembul di keningnya, sementara bibirnya tampak komat-kamit turut merapal lirik lagu yang ia dengar di telinganya.
Tank top berwarna kuning serasi dengan legging berwarna hijau muda yang ia kenakan, membuat kulitnya yang putih kemerahan menjadi semakin cerah kelihatannya di bawah sinar sore.
Gimana ini, makin ke sini makin kerasa kusut benangnya! Kenapa susah banget sih??!
Matanya sesekali memejam mencoba memikirkan jalan keluar masalah yang mungkin saja akan ia hadapi kedepannya.
Setelah jogging beberapa saat lamanya. Ia berdiri diam menghadap laut, dengan kedua tangan membentuk huruf O di depan mulutnya, Fara berteriak sekencang mungkin.
"AAAAAAAAHHHH!"
Ahh harus gimana lagi sekarang, aku capek! Harusnya nggak perlu sepanjang ini kan ceritanya! Batinnya merasa lelah. Kedua tangannya bertumpu kuat pada pagar pembatas di pinggir laut itu, kepalanya menunduk payah karena kehabisan nafas.
Anak-anak kecil yang sedang bermain di areal taman itu terkaget dan satu demi satu menengok ke arah track tempat Fara berdiri.
"Haiiii, adik-adik, maafin kakak udah buat kaget yaa~" Ujar Fara tersenyum sambil melambaikan tangan, lalu ia bergegas menuju mobilnya untuk pulang. Langit sudah mulai menunjukkan jingganya, warna langit yang sangat ia sukai.
***
Fara membuka pintu kamar mandi, lalu berjalan perlahan menuju cermin di kamarnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Setelah selesai berpakaian, ia menuju ke arah easel yang ia letakkan di dekat jendela kamar kosnya yang terletak di lantai dua gedung kos itu. Jendela kaca besar seukuran tinggi orang dewasa itu memampangkan pemandangan laut dan pantai yang sangat jelas di luar sana. Terlihat kanvas bertengger di easel itu, terlukis langit senja di permukaannya, namun dengan pewarnaan yang belum sempurna. Sedang beberapa hasil karya Fara yang lain—namun tetap bertemakan langit— ia pajang di dinding kamar kosnya.
Okay, aku akan nyelesein yang ini sekarang~ Tekad Fara dalam hati.
***
Kris: Rey pengen ketemu sama kamu loh, gimana Sen?
Sena membaca pesan WhatsApp dari Kris di ponselnya, ia berpikir sejenak, lalu menghela nafas panjang.
Tuuhhh kaaan, aiihh~
"Err. Nggak dulu deh, Kris-" (hapus pesan) "Err. Boleh, tapi entar aja ya habis UAS minggu dep-" (hapus pesan) "Err. Aku nggak bisa, lagi banyak kesibu-" (hapus pesan)
Sena kebingungan mencari-cari alasan. Ia merenung sejenak, seandainya ia sekarang ada di posisi Rey, ia bisa turut merasakan seorang yang tengah amnesia sedang mencari-cari sosok penting di hidupnya, dia pasti merasa kosong, pikirnya. Sama seperti keadaan dia saat ini ketika sedang di rumah seorang diri, Sena menghisap panjang rokok di tangan kirinya, menghirupnya ke dalam kerongkongan, lalu perlahan menghembuskan asapnya.
Sena: Okay, Kris, boleh. Kapan, di mana?
***
Rey berkendara menuju kafe tempat Kris bekerja. Ia memarkirkan skuternya, dan melepaskan helm yang ia kenakan. Penampilan Rey agak berbeda semenjak ia punya kendaraan untuk mobilisasi, ia merapikan rambutnya yang sudah mulai panjang dan berantakan, sehingga kini terlihat lebih rapi dengan gaya rambut quiff-nya. Rey berjalan menuju meja kasir, bermaksud menanyakan keberadaan Kris.
"Mohon maaf, kita udah close order kak." Ucap si kasir perempuan sambil memberikan senyum.
"Err, saya cuman nyari Kri--"
"Rey!" Panggil Kris dari arah belakang etalase. "Wait, bentar lagi tutup, kita ngobrol di meja outdoor aja kali ya?"
Kris melirik ke arah belakang Rey, dan memberikan kode mata pada Rey untuk memalingkan badannya. Belum sempat Rey berpaling ia merasakan tangan halus menyentuh pundak kanannya. Mata Rey menangkap sosok seorang perempuan yang terasa familiar baginya.
"Rey?" Tanya perempuan itu lembut.
"Ah, si rambut biru??" Kata Rey separuh berbisik karena terkejut.
Sena memiringkan kepala dan memicingkan matanya. "Si rambut biru...??!"
***
"Okay guys, makasih semua." Ujar Kris kepada kolega-koleganya yang pulang duluan. Ia kemudian mengambil kursi di antara Rey dan Sena yang duduk di meja payung outdoor.
"Yesss. Aku tau dari Fara dulu kalau rumah kita satu kompleks, tapiii, aku nggak pernah tahu pasti rumahmu di mana loh." Ujar Sena terkekeh pelan.
"Phew~ Andai ingatanku nggak ilang, mungkin aku langsung mengenalimu kemarin."
"Ahaha~ tapi waktu SMA kan rambutku nggak kayak gini, kayaknya kamu juga nggak bakalan langsung kenal deh."
"Ngomong-ngomong, kita nggak satu kelas waktu SMA ya?" Tanya Rey penasaran.
"Nggak." Sena mengambil sebatang rokok dari dalam tasnya, "Eh, aku sambil ngerokok nggak papa kan?"
Kris dan Rey mengangguk setuju.