"The Arts Socio?" Tanya Andi, alisnya terangkat sebelah, tampak asing dengan istilah itu.
"Yes! Aku membayangkan website ini nantinya akan merangkul pelaku-pelaku seni di negara kita, produk lokal, tentunya." Rey menjelaskan dengan binar mata yang redup namun penuh keyakinan.
"Hemm... Social media berarti ya?" Andi mencoba menyimpulkan.
"Termasuk di dalamnya. Bayangannya sih bakal punya fitur untuk melakukan jual-beli juga nanti ke depannya." Ujar Rey sambil menyeruput latte di hadapannya. Mereka sedang bercakap di meja outdoor coffee shop tempat Kris bekerja, ditemani semilir angin sore.
"Ohh, berarti social media dan e-commerce jadi satu?" Andi mengangguk-angguk pelan sambil menyalakan rokok yang sedari tadi bertengger di mulutnya.
Rey menjentikkan jari tangan kanannya ke udara, "YES! Idealnya nanti seniman-seniman ini bisa mengupload hasil karyanya, tentunya juga akan dilindungi hak cipta, menambah teman ke sesama seniman, dan bisa menawarkan produk-produk yang mereka kreasikan. Kita bikin website simpel aja kayaknya, yang nggak usah terlalu banyak fitur ini itu. Biar semua kalangan bisa mengaksesnya dengan mudah."
"Semakin simpel semakin bagus sih, semakin mudah juga kita bikinnya." Ujar Andi terkekeh, ia mulai tertarik dengan tantangan teknisnya. "Kepikiran aja kamu buat ginian." Imbuhnya sambil menjentikkan abu rokok ke asbak.
"Yahh, karena nggak kuliah, aku mau coba manfaatin waktu buat ngerintis pekerjaan yang sustainable aja sih. Lagipula Website buat 'wadah' produk-produk seni kan masih belum banyak di negara kita. Jadi nantinya segala macem bentuk hasil seni bisa dipamerkan atau dijual di sana, entah itu kerajinan tangan, karya-karya tulis, lukisan, macem-macem deh." Ucap Rey dengan nada bicara yang semakin antusias.
"Gini, kita visinya aja yang jauh duluan, ujungnya ini mengarah ke e-commerce, nahh, untuk terdekat ini kita coba bikin platform simpel social medianya aja dulu, kayaknya bisa dalam timeline 1-2 bulan ya? Nah dari sana nanti kita lihat seberapa gede peminatnya untuk dikembangkan lebih lanjut." Tambah Rey lagi, memetakan rencana jangka pendek mereka.
"Good idea sih, okay aku join." Andi mengulurkan tangan, tanda sepakat.
"Nice, err, tapi ini kita sistemnya kerjasama dulu yak. Tahulah, namanya kan merintis." Rey tertawa kecil, menyadari keterbatasan modalnya saat ini.
"Oke, toh ini sekalian nyalurin hobi juga, base campnya?" Balas Andi.
"Rumahku aja." Ucap Rey mantap.
***
"Krisssss!" Sena berteriak nyaring dari arah gazebo kampus. Ia berdiri sambil mendekap tumpukan buku di dadanya, sementara tangan kanannya melambai-lambai penuh semangat ke arah Kris.
Sejurus kemudian ia berlari kecil dan berjalan beriringan di samping Kris. "Gimana ujian hari ini??"
"Neraka." Ucap Kris datar, wajahnya tampak lelah setelah berkutat dengan soal-soal sulit.
"Hihihi, aku donggg dari sepuluh soal essay cuman bisa jawab tiga~" Ucap Sena tanpa beban, malah terkikik.
"Mau ke mana kamu?" Kris bertanya.
"Ke kantin, laper gara-gara soal, mau ikut??" Ajak Kris.
"Emm, lagi nggak nafsu makan siii, tapi boleh deh mau minum yang anget-anget, harinya mendung gini." Jawab Sena sambil mendongak menatap langit yang mulai abu-abu.
"Eh, kamu punya sakit asam lambung loh, masa iya nggak makan siang?" Kris menoleh, menatap Sena dengan raut khawatir.
"Hemmm, nambah lagi orang yang perhatian selain Doni, andai orang tua ku juga kayak gini." Ucap Sena tiba-tiba, nada suaranya sedikit merendah.
"Orang tuamu?" Kris menaikkan alisnya, penasaran.
"Iya, sekarang rumah kayak neraka, nggak bikin betah banget, makanya sekarang aku banyak ngabisin waktu di luar rumah sih." Sena berujar jujur, ada gurat kesedihan yang coba ia tutupi dengan senyum tipis.
Sesampainya di kantin, mereka berdua memilih tempat duduk outdoor yang teduh di bawah pepohonan besar.
"Kamu mau pesen apa? Biar ku pesenin sekalian." Tanya Kris berdiri.
Sena menarik kursi kayu, mendudukinya dan menaruh buku-buku yang ia bawa ke atas meja dengan suara buk yang pelan. "Emm, cokelat panas ajaa~"
"Serius nggak mau makan? Nanti pingsan lagi loh, terus aku ngegendong kamu lagi dari sini ke depan kampus, badanmu berat loh. Hahaha." Ucap Kris meledek, mencoba mengalihkan suasana sedih tadi.
"Ahh?? Jadi?? Kemarin kamu gendong aku sendirian??" Sena terbelalak kaget.
"Err, iya lah, mau ngarepin siapa lagi? Haha."
"Duhh." Wajah Sena seketika memerah sampai ke telinga, membayangkan kejadian itu.
"Ku pesenin roti bakar aja gimana, mau? Yang penting perutmu nggak kosong aja ini lohh." Tawar Kris lembut.
"Emmm, boleh deh~" Sena akhirnya menyerah.
"All right!" Kris berjalan ke arah stan kantin untuk memesan.
Sena segera mengambil ponselnya, membuka WhatsApp. Ada pesan masuk dari Doni.
Doni: Gimana UASnya??
Sena mengetikkan balasan dengan cepat.
Sena: Eazy peazy~ Tinggal 2 hari lagi, habis itu kita liburan yuk Dooon, camping gitu kek. Aku pengen nginep gitu beberapa hari.
Kris kembali, ia menggeser kursi yang ada di samping Sena, lalu malah memilih untuk duduk di seberang gadis itu.