"Kakaaak! Mau camping nggak ngajak-ngajak ish! Sama kak Sena ya??" Suara Sasha memecah kesunyian kamar, alisnya bertaut protes melihat kakaknya sibuk berkemas.
"Ehh, diemmm, nanti kedengaran Papah bisa panjang urusannya." Ucap Doni cepat sambil membekap mulut Sasha, adiknya, dengan telapak tangan.
"Ishh curaaang, aku juga mau ikut." Sasha mendengkus kesal setelah Doni melepaskan tangannya. Ia menyilangkan kedua tangannya di dada, perempuan yang kini duduk di bangku kelas XI SMA itu cemberut, membuat wajahnya yang bulat semakin tampak membulat.
"Aku ikuuut, kalau nggak ku aduin ke Papah nih??" Tantangnya dengan nada mengancam.
"Eh, jangan, kamu tahu kan Papah nggak suka sama Sena?" Ucap Doni serius sambil terus mengepak barang-barang ke dalam tas ransel besarnya.
"Au ah bodo!" Ujar Sasha sambil menghempaskan badannya, tengkurap dengan lesu di atas kasur Doni.
"Ini acara orang dewasa, entar aja kalau jalan-jalannya ke mall, baru kamu boleh ikut, ok?" Doni mencoba membujuk sambil menggosok-gosok kepala Sasha dengan gemas. Ia kemudian menggantungkan ranselnya ke bahu, lalu melangkah turun menuju lantai satu rumahnya.
Rumah bernuansa Eropa itu didominasi warna krim dan putih di sekelilingnya. Banyak sumber cahaya yang masuk dari jendela-jendela besar di sekitarnya, memunculkan vibrasi kemewahan yang kental ketika berada di dalamnya. Bahkan ruang tengahnya dirancang begitu luas hingga bisa menampung puluhan orang. Di sana, tepat di atas pendiangan, terdapat foto berukuran besar sang Ayah yang berpose lengkap dengan setelan kerjanya sebagai anggota dewan, menampilkan sosok kharismatik dengan sorot mata yang terasa buas.
Sang Ayah terlihat sedang duduk santai di sofa yang menghadap ke televisi berukuran raksasa di ruang tengah itu. Kedua tangannya sibuk membentangkan lembaran koran yang dibacanya dengan serius di hari Sabtu yang masih tampak cerah itu. Sementara itu, si Ibu sibuk merawat bunga-bungahias yang tertata di ruang tamu.
"Mau kemana kamu, Don?" Tanya sang Ayah yang menyadari kehadiran anaknya, walaupun matanya masih fokus pada baris-baris berita di koran di hadapannya.
"Mau ke tempat temen ngerjain tugas, Pah. Nginep sampai besok ini kayaknya, soalnya tugas buat pengganti ujian akhir."
"Hmm, ya." Jawab sang Ayah singkat tanpa menoleh.
"Mah, aku berangkat dulu ya." Ujar Doni sambil melangkah mantap ke pintu keluar.
"Heyy, uang sakumu masih ada??" Tanya si Ibu memastikan.
"Masih kok Mah, tenaang." Doni segera duduk di kursi teras untuk memasang sepatunya, lalu segera meluncur menuju rumah Sena.
***
"OTW" – Tampak isi pesan WhatsApp dari Doni muncul di layar ponsel milik Sena.
"Yesss! Ah iya, belum packing baju aduhhh~" Ujar Sena kegirangan membaca pesan tersebut. Ia bergegas mengepak beberapa barang dan pakaian yang akan ia bawa nanti. Tak lupa, ia mengambil beanie kesayangannya dan memasangkannya ke kepala untuk melengkapi penampilannya.
Sambil menunggu Doni datang, Sena menyeduh mie instan cup dan menyantapnya di dalam kamar. Terdengar latar alunan musik yang meraung-raung dari ponselnya. Dengan lahap ia menyuap mie ke dalam mulut, sesekali kepalanya miring ke kanan dan kiri mengikuti irama musik. Ia merasa sangat senang karena pacarnya akhirnya mau memenuhi keinginannya untuk bisa "lari" sebentar dari kejemuan di rumah. Ketika sudah selesai dan ingin membuang sampah cup mie instan itu, ia melihat mobil Doni datang melalui jendela kamarnya.