Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #17

17. Stuck!

Fuck! Doni mengumpat habis-habisan dalam hati. Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel dengan gerakan kasar untuk mengecek panggilan atau pesan yang mungkin saja masuk. Dilihatnya bar sinyal yang hanya tersisa satu batang itu silih berganti menjadi tanda silang yang menyebalkan.

Meskipun sekitar satu jam lagi mereka seharusnya memasuki batas kota, tempat mereka mengalami kebocoran ban sekarang bisa dibilang benar-benar bad time and bad place. Lokasi ini jauh dari pemukiman penduduk; hanya ada hamparan hutan dan rumput-rumput liar yang tumbuh tinggi di sisi jalan. Doni menarik napas panjang, lalu masuk ke dalam mobil sebentar untuk menyalakan lampu hazard. Ia kemudian turun lagi, meletakkan segitiga pengaman di belakang mobil pada jarak yang menurutnya cukup aman agar tidak dihantam kendaraan lain.

"Kayaknya kita stuck di sini, Sen." Ujar Doni pelan, ia menghampiri jendela mobil di sisi tempat duduk Sena.

"Ban serepnya nggak ada??" Tanya Sena, suaranya terdengar cemas.

"Ada, tapi dongkrak sama toolbox-nya ketinggalan di garasi rumah. Kemarin habis dipakai buat benerin ban mobil Papah, lupa masukin lagi." Ujar Doni sambil berkacak pinggang. Wajahnya tampak sangat cemas sekaligus kesal pada keteledorannya sendiri.

Sena melirik angka digital pada jam yang tertera di head unit mobil Doni. Jarum waktu menunjukkan pukul 18:58. Sudah cukup gelap bagi mereka jika ingin mencoba peruntungan dengan berjalan kaki mencari pemukiman terdekat. Kalaupun sampai, rasa-rasanya bengkel mobil nggak ada yang buka jam segini, pikir Sena lesu.

Apa aku coba minta tolong Kris, ya? Pikir Sena sambil menggenggam erat ponselnya. Err... tapi Kris kan selama ini naik motor, kayaknya nggak mungkin dia punya dongkrak. Lagian jarak dari kota ke sini masih jauh banget.

Doni mencoba menggunakan ponselnya lagi, kali ini berusaha menghubungi supir ayahnya di rumah. Barangkali pria itu bisa diandalkan untuk sekadar mengantarkan dongkrak atau menjemput mereka saat ini. Tut... tut... tut... panggilan itu langsung terputus. Tidak ada sinyal sama sekali.

"Siaaaal!" Doni mendecak keras dan mengernyitkan dahinya dalam-dalam. Sena tampak sedih melihat kondisi itu; ia melepaskan beanie dari kepalanya dan merenung menyesali keadaan. Coba tadi nggak buru-buru pulang, kan kita nggak perlu lewat sini pas gelap begini.

Beberapa kendaraan lewat silih berganti dengan kecepatan tinggi, namun tampak tidak ada satu pun yang memedulikan mereka. Selain karena jalur tersebut cukup gelap, jalanan ini memang biasa dipacu kencang oleh pengendara dari luar kota yang ingin cepat sampai ke tujuan.

"Tuuhh kan, padahal enakan di pantai dulu tadi kitaa... kamu sih buru-buru banget, Don." Sena menyandarkan dagunya ke punggung tangan yang bertengger di jendela pintu mobil yang sudah terbuka sepenuhnya. Pipinya menggembung cemberut.

"Ya gimana, kalau nggak urgent juga kan aku nggak bakal ngajak pulang! Kamu kayak gitu nggak ngebantu loh, Sen. Malah bikin kesel!" Ujar Doni dengan nada bicara yang meninggi. Ia menyulut sebatang rokok, lalu bersandar di sisi mobilnya dengan gusar.

Sena terdiam seketika. Ia menyadari memang bukan hal yang pantas untuk menambah kekesalan pacarnya di situasi yang benar-benar stressful seperti sekarang. Hanya saja, keinginannya untuk menghabiskan waktu di luar rumah ditemani Doni jauh lebih kuat daripada harus kembali ke rumahnya yang terasa hampa dan sepi.

"Hahhhh..." Sena menghembuskan napas panjang. Matanya memicing merajuk. Terlihat Doni sesekali masih tetap berusaha menghentikan kendaraan-kendaraan yang lewat dengan membentangkan lengannya ke arah jalan dan mengarahkan jempolnya ke atas—isyarat minta tolong yang universal.

Setelah sekitar hampir setengah jam lamanya mencoba, Sena menyadari ada satu mobil yang perlahan melambat.

Lihat selengkapnya