Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #18

18. Ban Serep

Sudah satu jam lebih Doni dan Sena terjebak akibat ban mobil yang bocor. Raut wajah keduanya sudah menampakkan kebosanan yang teramat setelah berkali-kali mencoba memanggil mobil-mobil yang lewat tanpa hasil. Bahkan jika diperhatikan, jumlah kendaraan yang melintas sekarang sudah tidak sebanyak selepas senja tadi. Mereka kini hanya bisa duduk bersandar pada bagian sisi kiri mobil yang tidak langsung bersinggungan dengan jalan raya, mencoba mencari perlindungan dari angin malam.

Doni mulai cemas. Sesekali ia melihat jam dan bar sinyal di ponselnya yang sudah tidak muncul sama sekali sejak tadi. Ia tidak berani membayangkan sudah berapa banyak panggilan masuk yang tidak tersambung ke ponselnya—panggilan yang pastinya berisi kemarahan.

Sena duduk di atas tanah sambil menghisap rokok di tangannya, mencoba mengusir rasa jemu. Kemudian ia beranjak ke sisi belakang mobil, mengambil ponsel miliknya dari saku celana, lalu mengambil selfie dengan latar mobil yang mogok itu. Ini bakal jadi kenang-kenangan yang lucu di masa mendatang, pikirnya mencoba tetap positif. Wajahnya yang tampak berminyak dan lelah ia paksakan tersenyum lebar demi foto itu.

Tiba-tiba, terdengar suara ban mobil yang direm mendadak tepat di depan mobil mereka, diiringi lampu hazard yang juga ikut dinyalakan. Doni dan Sena pun dibuat kaget dan langsung mengalihkan pandangan mereka ke mobil itu. Doni terlihat bersiap, otot-ototnya menegang untuk melindungi diri jika saja orang-orang di dalam mobil itu memiliki niat jahat. Wajahnya yang kusut ia paksa untuk terlihat segarang mungkin guna mengintimidasi lawan. Namun, sekejap kemudian terlihat sosok perempuan memunculkan setengah badannya dari jendela dan menghadap ke arah Sena.

"Eh, benar itu Sena loh!" Ujar sosok perempuan itu dengan nada terkejut.

***

"Iyaaa, pas aku liat rambut birumu, aku langsung nyuruh Toni buat berhenti." Ujar Dita menjelaskan saat mereka sudah turun dari mobil.

"Wah wah, bener-bener tempat yang sial banget buat bocor ban." Toni menimpali sambil menggelengkan kepala melihat lokasi mereka.

"Waaah, Dita, Toni! Kalian nggak tahu betapa senangnya aku liat kalian ada di sini sekarang." Ujar Sena sambil menghambur memeluk Dita, merasa sangat lega.

"Iya, bener-bener kacau. Kami tadi buru-buru pulang soalnya ada keperluan urgent, taunya malah ada kejadian kayak gini. Sial banget!" Ujar Doni mendengkus, mencoba mengatur napasnya yang sempat memburu karena waspada.

"Wahh pantesan tadi tiba-tiba udah bersih aja tenda di samping kita." Toni berucap sambil terkekeh. "Terus kenapa kalian malah cuman duduk-duduk di sini? Si Sena malah selfie." Tambahnya tertawa melihat tingkah Sena tadi.

"Ehhh, kami dari tadi udah capek ngasih isyarat buat mobil-mobil lain berhenti loh, tapi cuman satu doang yang mau berhenti, itupun nggak bisa bantu. Akhirnya karena bosen ya aku selfie ajaa." Sena menjelaskan sambil nyengir.

"Berhentiin mobil buat?" Tanya Dita.

"Buat minjam dongkrak sama peralatan ganti ban serep ini sih." Doni menjawab lesu.

"Waduhhh. Gimana nih!" Kata Toni menggantung kalimatnya.

"Jangan bilang kalian juga nggak punyaaaa..." Sena merengek, hampir putus asa.

"Ahahaha, tenanggg kami punya kokkk~" Dita menimpali dengan nada menggoda.

Lihat selengkapnya