Perempuan Beraroma Lemon

Sugianes
Chapter #19

19. Adel

"Ayah, ini ada sedikit uang untuk bantu keuangan keluarga kita." Ucap Rey sambil menyodorkan sebuah amplop berisi uang kepada sang Ayah di ruang tengah rumah mereka.

"Uang?" Sang Ayah terheran, menatap amplop itu dengan dahi berkerut.

"Iya, maaf kalau nggak seberapa." Ucap Rey tersenyum tulus.

"Rey." Sang Ayah juga tersenyum lebar, sorot matanya tampak haru. "Sebelumnya Ayah ucapkan terima kasih, tapi, kamu simpan saja uang ini, atau kamu pakai saja buat kebutuhan kamu. Kamu nggak usah memikirkan keuangan kita, penghasilan dari toko masih sangat cukup kok. Ya?" Sang Ayah menjelaskan dengan nada menenangkan.

"Tapi..." Ujar Rey mencoba menyela.

"Sudah, simpan saja. Kalau pun nantinya kita krisis keuangan, Ayah pasti akan komunikasikan semuanya ke kamu. Ok? Pakai saja uangnya untuk membeli barang-barang yang kamu butuhkan sekarang, Ayah akan selalu mendukungmu kok." Ucap sang Ayah sambil mengelus kepala anaknya dengan lembut.

"Hm. Baik, terima kasih, Ayah." Ucap Rey tersenyum lebar, merasa sangat dihargai. Setelah berpamitan, sang Ayah pun pergi berangkat untuk membuka toko pada pagi hari ini.

***

Siang harinya...

"Rey? Rey kan??" Ucap sosok perempuan yang sudah berdiri di depan pagar sekolah.

"Adel??" Rey balik bertanya. Di hadapannya berdiri seorang perempuan bertubuh langsing yang tingginya hampir sama dengan bahu Rey. Rambutnya yang hitam lurus sepinggang tampak halus dan lembut. Lensa matanya tampak kehijauan. 

Contact lens? Pikir Rey dalam hati.

"Betullll!" Ujarnya sambil menyunggingkan senyum dan menyodorkan tangannya untuk bersalaman, "Udah kayak baru kenalan pertama kali ya? Hehe."

Rey menyambut tangan Adel dan menyalaminya, "Kamu udah lama?"

"Enggak koo, barusan jugaa, mau masuk? Gerah juga ternyata siang-siang ke sini."

"Hayukk."

Setelah meminta ijin ke petugas keamanan yang sedang bertugas, keduanya berjalan masuk ke dalam area sekolah. Untungnya ada Adel yang kebetulan kenal baik dengan si petugas keamanan dan tahu seluk beluk tentang sekolah itu. Dikarenakan proses belajar mengajar yang sedang libur semester, suasana sekolah itu tampak sepi, hanya ada beberapa siswa-siswi yang terlihat sibuk di tengah lapangan—anak organisasi, sepertinya.

"Kamu ingat sama suasana ini?" Tanya Adel. Mereka berdiri di lorong sekolah yang di sampingnya berjejer ruang-ruang kelas.

"Err... Hmmm..." Rey mencoba mengitari pandangannya ke sekeliling. "Bener-bener lupa, hilang sama sekali kayaknya ingatannya." Rey tertawa kecil menutupi rasa canggungnya.

"Nggak papa, nggak usah dipaksa." Ujar Adel. "Yuk sini kita ke kelas." Ajaknya ke kelas tempat mereka menimba ilmu dulu. Adel mencoba membuka pintunya.

"Yahh, dikunci." Ujarnya kecewa. Adel lalu melihat sekitar, memastikan tidak ada pandangan mata yang sedang menuju ke arah mereka. "Sini, Rey." Ajak Adel seraya perempuan itu menaiki bangku panjang yang ada di depan kelas mereka. Bangku itu terletak tepat di bawah jendela kelas, sehingga jika berdiri di atasnya, akan memungkinkan untuk dapat melihat suasana di dalam kelas.

Rey berdiri di samping Adel. "Nahhh, duluuu, kamu duduknya di pojokan sana tuh, baris kedua dari paling depan." Ujar Adel sambil menunjuk-nunjuk menggunakan jari tangannya ke arah meja di dalam. "Terus Fara di pojokan juga, depan kamu."

"Hmm, I see..." Balas Rey pendek.

"Nah kalau aku, tempat dudukku sama ada di barisan kamu, tapi beda dua kolom ke arah sini, tuh yang ituhh." Ucap Adel menjelaskan. "Gimana? Ingat sesuatu?" Ucap Adel sambil menolehkan pandangannya ke arah Rey.

Rey menggeleng pelan, lalu melangkah turun dari bangku untuk kemudian mendudukinya. Adel pun ikut duduk di sampingnya.

"Kamu yakin dulu Fara bener-bener dekat denganku, Del?"

"Yee, kan kubilang kalian kayak perangko, nempeeel terus ke mana-mana, nggak cowok, nggak cewek, banyak yang cemburu loh." Ucap Adel. "Emang sekarang lost contact sama sekali, ya?"

"Iya..."

"Hemm, aneh..."

"Aneh, aneh banget." Ucap Rey menundukkan kepalanya, merasa ada sesuatu yang hilang.

"Hey semangat dong! Mungkin... Mungkin Fara lagi pengen sendiri aja untuk sekarang. Mungkin lohh ya, abisnya nggak ada penjelasan yang masuk akal lagi siih." Adel menepuk pundak Rey dengan akrab. "Eh, wait, aku mau nunjukin ini." Adel mengambil sesuatu dari tas tangannya.

"Ini waktu kita foto bareng satu kelas." Adel mendekatkan foto itu kepada Rey. "Tuh, kamu lihat kan, Fara meluk tanganmu mesra, loh."

Lihat selengkapnya