Dokter Rani Wiranata memandang awan yang berarak. Putih dan bersih, membuat siang yang tak seberapa terik ini lebih bergairah. Sayang, semilir angin tak bisa dirasakan langsung. Meski demikian, dia merasa lebih beruntung kali ini. Kudengar, ini adalah perjalanan ketiganya ke Pulau Barat di tahun ini.
Kali ini, dia kebagian tempat duduk dekat jendela pesawat.
“Anda serius mau tinggal di sini?” ujarku yang duduk di sampingnya.
“Tentu saja. Kebetulan teman sesama anggota Mer-C mengatakan kalau keberadaan klinik kami di Kecamatan Puncak masih kekurangan tenaga dokter,” Dokter Rani menjelaskan dengan senyuman hangat secerah siang itu.
Jemari kanan Dokter Rani menggenggam foto dua orang pria yang berseragam sedang berangkulan bahu.
“Siapa pria-pria itu?” aku melanjutkan dengan nada waspada yang samar.
“Ya, mereka inspirasiku. Namanya Dirman dan anaknya, Ambar. Mereka sudah tidak ada di dunia ini. Namun kisah mereka cukup untuk menjadi alasanku mengabdikan diri sebagai dokter sukarelawan di Pulau Barat!”