Ruang rapat di lantai delapan itu berdinding kaca, dan pukul sembilan pagi cahaya Surabaya yang menyilaukan jatuh lurus ke meja oval tempat enam pasang mata direksi menunggu slide berikutnya. Aira berdiri di depan layar proyektor, pointer laser bergetar tipis di ujung jarinya—getaran yang ia harap tak ada yang lihat.
"Jadi kalau kita lihat di kuartal ketiga," ia melanjutkan, suaranya rata, terlatih, "efisiensi lini produksi naik dua belas persen setelah restrukturisasi jadwal shift—"
Ia berhenti.
Bukan berhenti karena lupa kalimat. Sesuatu yang lain terjadi. Suara di ruangan itu—dengungan AC, deham salah satu direktur, ketukan pulpen di atas notes—semuanya seperti ditarik mundur, menjauh, masuk ke dalam kapas. Angka-angka di layar, yang sepuluh detik lalu masih berbentuk diagram batang biru dan oranye yang ia susun sendiri sampai jam tiga pagi, perlahan meluruh jadi putih. Bukan putih kosong. Putih yang menyilaukan, seperti kertas yang terlalu lama ditatap.
Ia tahu nama ilmiahnya. Ia pernah membacanya sendiri tengah malam, di antara dokumen kerja yang belum selesai: brain fog. Kabut otak. Istilah yang kedenangannya remeh, seolah cuma soal lupa nama orang. Tapi yang ia rasakan sekarang bukan lupa. Ini hilang—dua detik, sepuluh detik, ia tak bisa menghitung lagi—di mana dirinya berdiri di tempat yang sama, dengan tubuh yang sama, tapi tak ada siapa-siapa di baliknya. Tangannya yang memegang pointer mendadak terasa kaku, mati rasa, seolah sinyal dari otaknya terputus di tengah jalan.
"Bu Aira?"
Suara itu seperti datang dari ujung terowongan. Seseorang menyentuh sikunya, ringan, hanya cukup untuk menariknya kembali. Bram. Berdiri agak miring di sampingnya, seolah baru saja bergerak dari kursinya sendiri, wajahnya menyusun ekspresi netral untuk orang-orang di meja, tapi matanya—saat sekilas bertemu mata Aira—penuh tanda tanya yang tajam.
"Saya lanjutkan," Aira berkata, dan herannya suaranya keluar normal, bahkan tegas. Seolah tubuhnya punya sistem cadangan sendiri untuk menjaga muka di depan orang banyak. "Maaf, file-nya sempat lag."
Tak ada yang membantah. Salah satu direktur malah mengangguk, menulis sesuatu di notes-nya. Krisis selesai dalam hitungan detik, setidaknya di mata mereka.
Hanya Bram yang tahu proyektor itu tidak pernah lag.
Setengah jam berikutnya berjalan seperti biasa—pertanyaan, jawaban, tawa kecil sopan dari direksi soal angka yang bagus. Aira menjawab semuanya dengan presisi yang sama seperti biasa, seakan dua menit yang hilang tadi cuma mimpi siang yang sudah ia lupakan begitu lampu proyektor dimatikan.
Tapi di koridor, setelah pintu ruang rapat tertutup, Bram berhenti di sampingnya.
"Itu bukan lag," katanya pelan, tanpa basa-basi. "Kamu diam dua menit, Aira. Mata kamu kosong."
"Aku cuma kurang tidur."
"Sejak kapan kurang tidur bikin orang berhenti gerak total?"
Aira tidak menjawab. Ia memencet tombol lift, menatap angka yang turun satu per satu, dan berharap percakapan ini juga ikut turun dan menghilang bersama angka itu.
"Kalau kamu butuh—" Bram mulai lagi.