Generator diesel mes karyawan itu menderu konstan setiap malam.
Aira sudah hafal mati ritme bisingnya—suara kepulan mesin tua yang tidak pernah diistirahatkan sejak ia menapakkan kaki di pulau terpencil di ujung Sulawesi Tenggara ini enam minggu lalu. Suara mendengung yang awalnya membuat tidurnya gelisah, kini terpaksa ia terima menjadi lagu pengantar tidur yang kasar. Di balik jendela kamarnya yang sempit, pekatnya malam pesisir luar Jawa membentang tanpa batas, hanya menyisakan kerlip lampu sorot dari area smelter pengolahan nikel di kejauhan. Tidak ada minimarket, tidak ada kafe, tidak ada satu pun wajah yang ia kenal sebelum tanggal kedatangannya.
Itulah alasan utama mengapa ia memilih tempat ini.
Ayahnya, ketika Aira menyerahkan formulir persetujuan magang industri luar pulau dari kampusnya, menatap lembar kertas itu lama sekali sebelum melepaskan kacamata bacanya. "Jauh sekali, Nduk. Kamu anak perempuan satu-satunya di keluarga kita. Magang di pabrik sekitar Surabaya atau Sidoarjo saja apa tidak bisa?"
"Justru karena aku anak perempuan satu-satunya, Pa," jawab Aira waktu itu, nadanya datar dan kokoh, tipe kalimat yang sudah ia latih di depan cermin kosnya berhari-hari. "Kalau aku mengambil proyek magang di dekat rumah, orang-orang internal jurusan akan mengira aku bisa masuk karena koneksi Bapak. Aku mau membuktikan nilaiku murni karena kemampuanku sendiri."
Lelaki tua itu tidak membantah lagi. Namun, kerutan di dahi ayahnya menyimpan kecemasan mendalam yang gagal disembunyikan—sebuah kekhawatiran yang kini, enam minggu kemudian, mulai Aira pahami artinya. Bukan karena ia tidak mampu secara akademis sebagai mahasiswi Teknik Industri, melainkan karena jarak antara ambisi kepala dan keterbatasan fisik ternyata diukur dalam satuan yang tidak pernah tertulis di dalam buku teks perkuliahan.
Malam itu, Aira terlentang di atas kasur busa tipis mes yang permukaannya berbau apek akibat kelembapan pesisir, menatap langit-langit tripleks yang catnya mengelupas membentuk pulau-pulau kecil. Di tangan kanannya, ponselnya menyala, menampilkan ruang obrolan dengan Reno.
“Aku kangen kamu, Ra.”
“Gimana pabrik hari ini? Capek banget ya?”
“Aku sudah mulai survei brosur rumah buat kita nanti. Di Surabaya Barat, dekat akses pintu tol. Bagus, kan?”
Aira mengetik balasan singkat tanpa ekspresi: “Capek dikit. Kamu juga jaga diri di sana.” Ia membalikkan layar ponselnya menghadap kasur.
Reno dan dirinya baru berjalan tiga bulan sebagai sepasang kekasih ketika ia memutuskan terbang ke pulau ini. Tiga bulan yang terasa sangat teoritis karena mereka menjalankan hubungan lewat layar digital—obrolan malam yang dipenuhi janji masa depan, foto-foto selfie bergantian, dan kosakata manis yang terdengar sangat menyelamatkan di telinga seorang perempuan usia dua puluh tiga tahun yang sedang terisolasi dari dunianya.
Aira menyukainya. Ia mengira itu adalah cinta.
Namun malam ini, yang merayap di dadanya bukan rasa rindu. Melainkan rasa mual pekat yang sudah tiga hari berturut-turut datang setiap subuh dan menolak hilang hingga menjelang tidur. Sensasi mual yang awalnya ia sangkal sebagai akibat makanan katering mes yang terlalu berminyak, lalu ia sangkal lagi sebagai kelelahan adaptasi lapangan, lalu sebagai stres menyusun laporan logistik.
Hingga tadi pagi, saat jemarinya menghitung coretan spidol di kalender saku belakang pintunya, dan menyadari tubuhnya telah terlambat datang bulan selama empat puluh hari penuh.
Apotek satu-satunya di wilayah itu berjarak dua jam perjalanan motor dari area mes karyawan.
Aira meminjam motor bebek milik rekan magangnya—seorang mahasiswa asal Bandung yang tidak banyak bertanya ketika Aira beralasan ingin mencari keperluan bulanan perempuan di kota kecamatan. Aira menyetir sendirian di bawah sengatan terik matahari Sulawesi yang membakar permukaan rompi safety hijaunya. Jalanan tanah berbatu merah itu berlubang di sana-sini, memaksa Aira mencengkeram stang motor dengan seluruh sisa tenaganya agar tidak oleng menghantam truk-truk besar pengangkut bijih nikel yang lewat berlawanan arah. Dua jam itu melelahkan, namun bagus untuk otaknya, karena selama itu ia tidak memiliki ruang mental untuk memikirkan hal lain selain menjaga roda motor tetap lurus di atas tanah kering.
Apotek itu kecil, terjepit di antara toko kelontong madura dan warung makan semen. Pemiliknya, seorang wanita paruh baya berkacamata, menatap pakaian kerja lapangan Aira yang berdebu merah tanpa ekspresi.
"Ada yang bisa dibantu, Mbak?"
"Saya mau beli..." Aira menjeda kalimatnya, menyadari lidahnya terasa luar biasa kelu. Ia belum pernah mengucapkan kosakata ini keras-keras di dunia nyata. "Test pack. Yang paling bagus."
Wanita itu membungkuk, mengambil dua buah kemasan kotak kecil dari laci bawah etalase kaca. "Ini dua merk yang paling sering dicari, Mbak. Akurasinya tinggi."
"Saya ambil dua-duanya."