Perempuan yang Melintasi Waktu dengan Luka

Aldi A.
Chapter #8

TUJUH


RUSLI berjalan tergopoh-gopoh ke dalam kamarnya. Sekonyong-konyong ia limbung tak berdaya. Tangisnya terus-terusan pecah. Ia dihantui bayang-bayang penyesalan. Setelah Ali pergi meninggalkan dirinya sendirian di rumah, Rusli benar-benar merasa frustrasi. Ia teguk lima botol bir sampai tandas tak tersisa. Ia pikir dengan tubuhnya yang sudah bermandikan alkohol, bisa membuat ingatannya tidak lagi tertuju barang sejenak mengenai sosok Mala. Tetapi ternyata ia salah. Ingatan itu masih terus menghantamnya tanpa henti.

Rusli tidak tahu mengapa ia bisa melakukan hal tersebut. Berkali-kali ia merutuki dirinya, berkali-kali juga lelaki berbadan tinggi itu menyesali apa yang telah ia perbuat ke adik perempuannya yang sudah mati.

Rusli pikir, uang bisa mengantarkannya pada kebahagiaan. Ia keliru, bahagia tidak semudah itu. Ia ditenggelami penyesalan yang tidak tahu bagaimana cara menghentikannya. 

“BAJINGAN!”

Rusli berteriak histeris. Asbak kaca yang ada di dekatnya diambil lalu dilemparnya begitu saja hingga pecah berserakan. Ia tidak tahu hidup seperti apa yang dijalaninya. Setelah Mala meninggal, harusnya tidak ada lagi yang perlu ia khawatirkan. Seperti apa yang dulu spontan keluar dari mulutnya, bahwa hidupnya akan jauh lebih baik tanpa keluarga. Setelah Romlah tiada, ia berharap Mala pun menjemput kematiannya. Segila itu hidup tenang yang ia maksud.

Sebuah panggilan telepon yang terus berdering, teriakan yang sangat keras, tangisan yang membabi buta, bunyi ban yang berdecit ....

Lihat selengkapnya